Rasanya seperti ada yang hilang. Kehilangan yang tidak bisa diisi satu sama lain karena semua merasakan hal yang sama. Ini tidak biasa. Ini bukan mereka. Dua hari berturut-turut saudara-saudaranya tidak menunjukkan semangatnya pada hari, terutama para kakak, khususnya Altair. Api dalam mata anak itu tidak lagi berwarna biru. Api yang menyala hanya bersumbu sebatang korek yang sebentar lagi akan menjadi abu. Gadis itu belum genap sebulan tinggal di kamar mereka, tapi dampak yang diberikan atas kepergiannya yang mendadak dan tanpa kabar dan selepas insiden yang menyakiti hatinya memberikan dampak besar. Altair yakin gadis itu akan kembali, dia hanya butuh waktu untuk dirinya sendiri. Menjauhi kebisingan dan tatapan pedas para pembencinya. Setelah semua membaik dia mungkin kembali. Kapan? Si anak tengah tidak memberi kepastian.
Si sulung Abercio jauh lebih menderita. Tanpa jeda dia terus menyalahi dirinya sendiri. Kalau boleh jujur, ucapan kakaknya memang sangat keterlaluan. Jika perkataan itu diperuntukkan untuk dirinya, Achilles yakin seratus persen dia tidak akan pernah menemui si manusia bermulut pedas lagi. Bertahan dari kebencian orang-orang yang alasannya tidak masuk akal saja sudah cukup menyulitkan, berusaha melawan arus di tengah manusia yang berdesakkan, kemudian beban itu ditambah dari arah tidak terduga. Achilles tidak ingin membayangkan pilunya.
Dia bahkan sudah mempersiapkan diri bila Yashi benar-benar tidak kembali ke kamar ini. Dari awal mereka sudah membuat kesalahan. Sangat sulit merangkul perempuan yang pernah disakiti secara membabi-buta. Nasehat ibunya terbukti. Meskipun begitu, masih ada secuil harapan Yashi akan kembali mengingat kedekatan dia dan Altair tanpa sadar mulai terjalin. “Kita harus siap kalau dia jadi musuh kita.” Achilles tidak bermaksud berkata demikian. Tapi bila menilik keadaannya sekarang, kemungkinan itu memang ada. Achilles jadi kesulitan mengetahui apa yang tersembunyi dalam diri Yashi dan bila gadis itu menjadi musuh mereka ... tamat sudah. Achilles bisa merasakan kehancuran yang besar. “Apa yang Carmel bilang saat kalian di taman?” Tangan-tangan yang sedang menulis tanpa gairah berhenti, memandang Arsen dan Altair bergantian. Achilles cukup mendengarkan saja. Altair pasti tidak akan membuka suara bila menyangkut kehidupan seseorang sebelum dia mendapat persetujuan dari orang yang rahasianya sedang dijaga. “Aku bisa memastikan kalian nggak mau mendengar ini karena kalau kalian mendengarnya, kalian akan terus menyalahi diri sendiri.” Sudah Achilles duga. Ini bukan kali pertama Arsen menanyakan hal yang sama sejak Yashi tidak memunculkan batang hidungnya. Jawaban Altair masih belum berubah, hanya bunyinya saja yang beragam. “Ayolah! Jangan membuat kami frustasi!” Abercio kehilangan kesabarannya. “Aku serius, bukan hakku mengatakan ini. Tunggu saja sampai Yashi yang mengatakannya sendiri dan kalau kalian terus memaksaku, aku akan tidur di rumah saja.” “Ancamanmu jelek,” cibir Arsen. “Nggak ada ancaman yang baik, ingat itu!” “Kamu menyindirku?” Altair buru-buru menggelengkan kepala. Gara-gara Carmel, si sulung menjadi sangat sensitif ketika mendengar kata ancaman. Achilles tidak tahan dengan atmosfir kamar ini. Kamar yang biasa terisi penuh, dalam sekejap menjadi kosong bagai kehilangan lima keping puzzle. Kekosongannya benar-benar tidak bisa diremehkan. Dia sendiri hampir menangis setiap mengingat cemilan malam yang tiba-tiba berada di atas meja belajar selepas pergi ke kamar mandi dan melihat sosok Yashi sedang mencuci piring. Gadis itu seperti kue brownies buatan ibu. Garing di luar lembut di dalam. “Aku mau ke perpustakaan, kalian terlalu menyedihkan di sini.” Segumpal kertas menabrak kening Achilles. Arsen yang melempar. “Kalau mau menangis keluarkan saja, nggak perlu gengsi!” serunya. “Jangan sok tahu! Arion, kamu mau ikut atau tetap di sini?” “Ikut. Belum sempat Achilles sentuh gagang pintu, benda itu sudah bergerak dan pintu membuka sedikit. Terlihat adanya kebimbangan dari seseorang di balik pintu, hingga akhirnya menampakkan sosok yang tadi ragu melebarkan pintu. Di belakang, gesekan kursi terdengar saling bersahutan, rata-rata suara yang dihasilkan dari gesekan tersebut mengartikan keterkejutan. Sama seperti Achilles yang tidak mampu merespon dengan baik sosok yang muncul di depannya. Perasaan senang itu sudah pasti ada. Dua hari menunggu dengan waswas, takut-takut kehilangan seseorang yang entah bagaimana terasa penting bagi Achilles pribadi. Pada akhirnya, gadis itu mengambil keputusan yang membuat Achilles lega. Sikap anak itu seolah memberi sinyal bahwa dia mau memberi kesempatan pada lima anak laki-laki yang telah merusak kehidupan sosialnya di sekolah. Kalau bukan karena gengsi, tubuh Achilles benar-benar ingin berlari dan memeluk Yashi. Tapi anak itu datang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Yashi terus menutup hidungnya. Pada sela-sela jari muncul cairan merah secara perlahan dalam garis tebal dan menetes mengenai baju yang terakhir kali dia pakai sebelum menghilangkan diri―sepertinya anak ini berkelana ke tempat yang bukan menjadi naungannya. Luka pada pergelangan tangan, celana bagian lutut robek memperlihatkan memar disertai darah. Yashi terlihat seperti habis jatuh. Sayangnya wajahnya berkata lain. Babak belur. Cairan merah pada hidung Yashi mengalihkan segala perhatian dari luka-luka yang tersebar di kening dan pipinya. “Siapa yang melakukan ini?” Abercio menghampiri Yashi mencoba menyingkirkan tangan gadis itu dari wajahnya. “Orang.” Jawaban yang terlalu singkat. Darah mengalir jauh lebih banyak begitu Abercio menarik paksa tangan Yashi. “Kita impas.” Achilles mengerti maksud Yashi, tidak dengan Arsen. “Maksudmu?” “Aku sudah melukai Altair dan Arion, aku sudah mendapatkan balasannya.” Ada luka dan rasa tidak terima dalam suara Yashi, Achilles memiliki banyak prasangka, tapi yang dibutuhkannya adalah sumber utama dari perasaan tersebut dan mungkin salah satu sumber dari rasa tidak terima tersebut adalah ulah mereka. Sisi lain, Achilles merasakan sedikit perubahan positif, Yashi yang semula tidak bisa dia baca air mukanya, kini bisa dibaca ... dengan mudah. Ini menakjubkan. Yashi bukan hanya diselimuti awan gelap biasa, awan tersebut berisi petir juga rintik hujan. Perasaan gadis itu sedang bercampur aduk. “Yashi, ayolah! Kamu tahu kebenarannya, kumohon jangan diungkit lagi dan beritahu aku siapa yang melakukan ini padamu!” Abercio memaksa sekaligus memohon. “Aku nggak punya tempat kembali,” lirih Yashi. Jiwanya seakan berada di dalam arus ombak pada tengah hari. “Jadi aku terpaksa kembali ke sini.” “Kamar ini adalah tempatmu kembali, Yashi.” Suara Arsen sangat lembut, paling lembut dari yang pernah didengar Achilles. Suara yang mampu meneduhkan kesemrawutan hari. “Aku sedang mengurus kamar lamaku, begitu orang itu kembali berdua dengan teman sekamarnya, aku akan kembali ke sana. Kita nggak perlu bertemu lagi.” Achilles tidak melihat jiwa Yashi pada raga gadis itu, dia meracau dengan tatapan nyaris kosong. “Nggak!” Arion membentak. Bentakan yang cukup mengembalikan jiwa Yashi pada raganya. Lalu semua kembali kepada yang seharusnya. “Kalau begitu berikan aku alasan logis yang paling masuk akal kenapa aku harus selalu berada di dekat kalian. Setelah apa yang kalian hasilkan bagi kehidupanku,” Yashi kembali pada diri aslinya, “aku nggak mau dengar alasan ‘sekolah ini berbahaya, kami nggak mau mengulang masa lalu kami’ bla ... bla ... bla ... Aku nggak tahu masa lalu kalian, tapi yang aku butuhkan adalah alasan pasti yang bisa kusombongkan pada murid lain agar mereka berhenti memanggilku Harlot!” Yashi nyaris berteriak. Achilles yakin itu. Suasana agak canggung setelahnya. Manik Yashi memindai wajah lima laki-laki di ruang ini dan bertahan lama pada mata Achilles. Achilles menangkap semburat rencana di dalam tatapan tersebut. Bila kakak-kakaknya salah menjawab, kemungkinan Yashi menjauh dan semakin sulit untuk didekati terlihat jelas dalam sorot menyedihkan itu. Mata Yashi mengatakan tidak ada harapan bertahan di sini jika mereka menutupi sesuatu. “Beri kami waktu,” jawab Altair, “beri kami waktu paling lama seminggu untuk tahu kenapa kami begitu menginginkan kamu selalu ada disisi kami dan aku mau selama kami mencari jawaban tersebut kamu selalu bersama kami dan boleh pergi hanya atas izin kami.” Yashi si jiwa bebas di mata Achilles diberi satu pilihan untuk selalu bersama mereka untuk alasan yang bagi diri gadis itu adalah suatu ketidakjelasan dan mungkin juga gadis itu masih berpikir sama, bahwa ini hanyalah akal-akalan mereka, diam menusuk ke dalam manik si kakak ketiga. Mereka beradu tatapan dengan sengit. “Lalu, apa yang bisa kukatakan pada pengikut kalian yang kelewat fanatik itu?” “Kamu nggak perlu mengatakan apapun, biar tindakan kami yang menutup mulut mereka,” ucap Arsen. Telinga Achilles merasa dikelitiki sesuatu tidak berwujud. Perkataan yang dilontarkan kakaknya terdengar keren, tapi sejak kalimat itu keluar dari mulut seorang Arsen, maka memiliki aura berbeda. “Jadi masuklah ke kamar dan rapikan keadaanmu, khusus hari ini kita akan makan malam di sini saja. Sepertinya ada beberapa orang yang membuat jiwamu terganggu.” Abercio mengatakannya dengan sinis. Jiwa anak pertamanya muncul dan entah bagaimana perintah itu dituruti Yashi tanpa balasan pedas seperti yang sudah pernah terjadi. “Akhiran yang baik?” tanya Arion ragu-ragu. Achilles tidak menyetujui itu. Tidak sejak Achilles tahu siapa yang membuat Yashi kembali dengan luka di hampir seluruh tubuhnya, dia berniat membicarakan hal ini hanya bersama Abercio. “Jangan senang dulu, Yashi itu pintar memainkan ekspresi, salah-salah bukannya makin mudah digapai justru balik badan dan nggak bisa disentuh lagi.” Altair terdengar sudah sangat memahami Yashi. “Siapa yang bikin Yashi babak belur itu bukan urusan kita. Aku yakin Yashi punya cara balas dendamnya sendiri. Sekarang bersiaplah masak, kita kedatangan putri spesial.” Mungkin memang tidak perlu dibicarakan. Tanpa Achilles beritahu sepertinya Abercio sudah menebak pelakunya dengan akurat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ya baguss
01/08
0asli
22/01
0bagus alurnya
25/09/2025
0Lihat Semua