logo text

Bab 13 Hama : Kacau

Hama lupa rasanya mengenyam pendidikan umum. Sejak dibawa ke FroBa’s Agency oleh Bu Yeon, kehidupan Hama berbanding terbalik dengan kehidupan lamanya. Pagi hingga malam dihabiskan bersama para kandidat lain yang seusia dengannya. Belajar di sebuah ruangan besar dilengkapi laptop pada masing-masing meja, layar besar pengganti papan tulis, mimbar yang memunculkan blue print dan masih banyak lagi. Materi umum dengan cepat berganti menjadi materi yang khusus agensi. Dari kelas beralih ke lapangan, memegang senjata yang memang disukai untuk dikuasai dan masih banyak hal lain yang tidak dia dapatkan di sekolah ini.
Dalam beberapa kesempatan, kelas yang tenang mendadak bising karena simulasi tidak terduga yang dilakukan pihak sekolah tanpa adanya pemberitahuan lebih dulu. Kata mereka untuk melatih kesigapan para murid sebelum kelompok yang besar dikerucutkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan pihak agensi.
Dan karena ‘kegaduhan’ di agensi selama proses pembelajaran, sekolah umum menjadi tidak menyenangkan lagi. Sekalipun Hama lancar mengidentifikasi salah satu tanaman beracun yang segala informasinya mengalir deras dalam kepala dan sudah dipastikan seratus persen keakuratannya tanpa ada yang terlewat, ini sangat monoton. Hama lebih suka belajar dengan persentase 70% praktek 30% materi.
Hama terbiasa berada di dalam kelas yang hening dan dipenuhi atmosfer persaingan. Di sini memang hening dan seluruhnya fokus, awalnya. Lalu, seorang gadis yang hanya bisa ditemui di kelas ini, entah memang sifatnya yang tidak bisa diam atau mendadak pecicilan, Hama terganggu dengan suara yang gadis itu buat.
Rrrr ... sss ... kira-kira begitulah suara gadis itu. Macam perpaduan ular dan macan menggeram.
Suara pelan berubah menjadi kencang, kedua tangan si gadis mencengkram kedua sisi meja. Dari ujung kuku yang terlihat memutih, cengkeraman itu pasti sangat kuat. Kemudian secara tiba-tiba si gadis rambut dijalin mendorong kursinya membentur laki-laki yang duduk di belakangnya. Hama yakin sekali rasanya pasti sangat sakit. Setelah itu semua menjadi kacau. Para gadis berteriak berlari ke belakang kelas, menyudut. Beberapa ada yang bersembunyi di balik punggung teman lelakinya. Sepertinya simulasi yang dilakukan sewaktu masih berstatus junior di agensi sangat berguna, Hama tidak perlu kalang kabut berlarian ke sudut kelas seperti yang lainnya. Dia cukup berjalan mundur seraya mengamati gadis berambut dijalin mengamuk.
Gadis yang pada akhirnya diketahui bernama Looka menjadi pusat perhatian. Guru yang mengajar terdiam mengamati, matanya tampak kebingungan dan seorang laki-laki dan perempuan masih bertahan di tempat duduk mereka menatap ke arah Looka dengan pandangan yang tidak asing bagi Hama, seakan keduanya tahu mengapa gadis itu ‘menggila’. Mata mereka enggan berpaling dari Looka.
Looka mulai bergerak, seluruh tubuhnya jelas mengatakan akan pergi mendekati dua orang yang agaknya menantang Looka. Pergerakan yang tidak bisa ditebak meski seluruh tubuhnya sudah memberi sinyal membuat dua murid yang memilih bertahan mendapat serangan tidak terduga dan tidak bisa mengelak.
Gadis yang menjalin rambutnya hanya pada bagian kanan-kiri dan membiarkan sisanya tergerai melindungi teman laki-lakinya yang dicekik perempuan ... kesurupan? Hama bahkan tidak yakin apakah hal begitu ada di kota ini. Dia yakin betul kesurupan itu hanya berlaku di kota Konsaivil. Tapi kenapa perempuan itu bisa kesurupan? Mungkinkah dia seorang Honalf, seseorang berdarah campuran antara Flerian―sebutan untuk mereka yang memiliki bakat alami―dengan warga biasa atau disebut juga Konsaiviler?
Kelas bagian tengah mulai kosong, banyak siswa yang menyudut takut akan sesuatu yang asing bagi mereka. Laki-laki yang dicekik Looka mulai bisa membebaskan diri, setidaknya tangan-tangan Looka tidak lagi berada pada leher laki-laki itu dan teman perempuannya masih berusaha menarik Looka dari belakang dengan sekuat tenaga. Satu dorongan saja dari Looka, Hama yakin tubuh gadis itu membentur meja dan kursi yang sudah berantakan.
Hama memilih berdiri di sudut yang agak sepi dari kerumunan. Mengangkat kerah seragam teratasnya seakan sedang merapikan pakaian. Salah satu kancing seragamnya di dekatkan ke mulut dan mulai memanggil rekan satu timnya.
“Bisa dengar aku nggak?” bisik Hama.
“Sangat jelas, ada apa?” sahut Mae.
“Kalian lihat dari layar, kan?” Deham beberapa orang di seberang sana. “Ini kesurupan, kan? Aku ingin informasi tentang kesurupan atau sejenisnya.”
“Kami lihat, tenang saja,” sambar Sae. “Di sekolah umum, anak-anak yang belum memasuki usia tujuh belas tahun atau paling lambat dua puluh tahun di kota ini masih belum mengembangkan bakat mereka. Dari kecil terlihat memiliki bakat A, tapi saat memasuki sekolah, bakat A emang tetap ada, tapi bakat B juga mulai terbentuk. Biasanya bakat B inilah yang jadi bakat utama mereka. Tapi ada juga yang tidak memiliki bakat B, sehingga bakat A merupakan satu-satunya dan menjadi bakat utama mereka. Punya dua bakat sekaligus sebenarnya sesuatu yang langka. Dan kalau aku nggak salah ingat rata-rata di kelasmu yang ini memiliki kemampuan telekinetik, kan?”
Hama membalas dengan berdeham. Seorang gadis di sebelahnya sedang menatap curiga pada Hama.
“Nggak salah lagi, sekolahmu sedang mencari Ghoster,” sambung Sae.
“Ghoster? Kemampuan yang dimiliki seorang Honalf?”
“Bukan, eh bisa dibilang begitu. Eh, entahlah. Yang aku tahu, seorang Honpyur pun bisa memiliki kemampuan itu,” jawab Mal ragu-ragu.
“Honpyur? Kok bisa?”
“Intinya ini bukan soal Honalf ataupun Honpyur,” kata Mal. “melainkan manusia pilihan. Kemampuan Ghoster dibilang langka, mereka yang punya kemampuan itu bisa bertindak sesuka hati tanpa diketahui orang lain. Yang ditakutin adalah kalau si pemilik kemampuan itu ternyata bukan orang baik. Tapi sejauh berita yang aku ikutan, belum ada Ghoster yang bikin ulah.” jelas Mal.
“Berarti yang kesurupan?”
“Dia Honalf, cuma Honalf dan Konsaivil yang bisa dirasuki,” jawab Mae.
Informasi dari Mal masih mengundang banyak tanya dalam kepala Hama, hanya saja situasinya kurang tepat untuk melanjutkan pertanyaan yang bergelayutan. Hama mematikan percakapan. Situasi di kelas belum membaik. Laki-laki yang tadi dicekik berada di pojok kelas terbatuk-batuk, sementara perempuan yang kesurupan sudah dipegang beberapa murid laki-laki atas perintah pak Jeff.
Sejak kedatangan beliau, Looka berubah menjadi anjing yang hampir dijinakkan tuannya, meski masih merongrong melawan.
Sesuai dengan bidang yang diajarkan, tubuh pak Jeff dihiasi warna hitam. Baju, jas, celana, sepatu. Seluruhnya berwarna hitam. Beliau masih berusia awal tiga puluh, masih terbilang muda. Tangan beruratnya menempel di atas kepala Looka. Gadis itu berteriak keras kesakitan, kadang juga menangis, perubahan emosi yang sangat cepat. Murid lain terpaku di sudut-sudut kelas, waswas takut gadis itu kembali mengamuk dan menyerang.
Hama memperhatikan bagaimana murid sekolah ini menanggapi peristiwa yang terbilang baru. Awalnya memang gaduh dan para siswi, hanya siswi, berteriak, tapi tidak berlangsung lama. Mereka berlarian, tapi tetap tenang. Mereka takut, tapi teriakannya terdengar seperti melepaskan suatu beban dibanding sebuah ketakutan. Bertolak belakang saat dia berkunjung ke Konsaivil dan mendapatkan peristiwa yang sama, Konsaiviler akan berteriak panik dan berhamburan tidak tentu arah, beberapa bahkan meninggalkan tempat kejadian. Mereka beranggapan kesurupan adalah sesuatu yang sangat mengerikan dan bisa merambat pada orang di sekitarnya.
Dan bila mengingat kehidupan Konsaivil, Hama bersumpah membenci kota itu. Kebencian yang amat sangat sampai enggan menjejakkan kaki kembali ke sana. Dia akan mencari alasan kuat untuk tidak membiarkan telapak kakinya menginjak tanah kota itu.
“Kalian lihat dari monitor, kan?” Hama melakukan komunikasi lagi dengan teman-temannya di seberang sana.
“Ya, aku melihatnya.” Sae menyahut. “Entah mereka nggak pinter berekspresi atau orang-orang di sana memang terlalu kaku, jauh beda dari Konsaivil.” Hama setuju dengan Sae. “Berdirilah dekat pintu biar mudah kaburnya.”
Hama menurut.
Perempuan yang kesurupan itu memang sudah ‘ditaklukan’, tapi dia masih meronta hebat, jika pegangan dua laki-laki itu tidak kuat, maka aksi kejar-kejaran akan terjadi lagi.

“Sebaiknya kalian keluar, biar ini jadi urusan saya.”

“Dari tadi kali, Pak.” Hama setuju dengan kedongkolan Mal.

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru