logo text
Vermiste Persoon

Vermiste Persoon

Golden Rey


Bab 1 Pemeran Utama

Seorang gadis berpakaian serba hitam merenggangkan badan setelah berjam-jam membaca sebuah buku. Dia tersenyum lebar menatap pemandangan di luar gedung yang di dominasi pepohonan. Sebuah keluarga burung terlihat duduk manis bersama dua anaknya di dalam sangkar, ranting pohon bergoyang sudah macam team cheerleader menyemangati alam agar terus memberikan kesejukan. Ingin sekali dia keluar, duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku lain, tapi tidak bisa. Tiga laki-laki yang sibuk di belakang meja masing-masing tidak akan mengizinkan. Di luar panas sedang terik, tidak bagus untuk kesehatannya. Itu alasan mereka. Gadis itu menghela napas, kembali duduk sambil memutar-putarkan kursinya, bosan.
“Kalau butuh kerjaan bilang, kamu bisa bantu aku-“
“Ogah!” Gadis itu buru-buru menyela ucapan laki-laki yang sedang membersihkan senjata-senjata kesayangannya. Entah harus berapa kali dia melap senjata yang tidak akan disentuh debu. Gadis itu cukup muak melihat rekannya begitu terobsesi pada kebersihan senjatanya.
Telunjuk gadis itu diarahkan pada rak buku, menghitung satu per satu buku dan mengingat judul-judul apa saja yang tersimpan di sana. Pada rak nomor tiga, mata gadis itu terhenti. Ada segaris tebal ruang hitam yang samar-samar menampakkan warna rak. Seluruh buku di dalam rak seharusnya tidak memiliki celah untuk buku yang baru dibelinya dan masih tersimpan dalam plastik putih di depan rak buku.
“Pasti ada yang minjem tapi nggak bilang lagi!” tuduh gadis itu pada tiga laki-laki di ruangan.
“Buku yang tadi dibaca emang udah disimpan?” tanya seorang laki-laki yang memincingkan satu mata dan mengamati seluruh tubuh anak panahnya. Sesekali dia arahkan pada ruang kosong di sebelahnya, berlagak akan melepaskan anak panah tersebut.
Si gadis terkekeh malu mendapati sebuah buku psikologi terdiam di bawah ponselnya. Segera dia menyimpan buku tersebut ke dalam celah kosong pada rak sebelum buku itu benar-benar menghilang. Sekarang dia kebingungan menyimpan lima buku lainnya yang masih tersegel rapi. Diedarkannya pandangan, diperhatikannya satu-satu rak yang ada di dalam ruangan, kemudian membuang napas kecewa. Semua berisi. Ketiga laki-laki itu juga tidak akan mau meminjamkan rak kosong untuk dijadikan tempat menyimpan sementara buku-bukunya yang malang.
Lampu indikator di atas pintu menyala hijau. Mereka berdiri dalam sikap tegap. Lampu berbentuk setengah lingkaran itu memberitahu para penghuni ruangan siapa yang akan mereka temui. Warna hijau untuk pembina tim mereka, Bu Yeon, sementara ada lampu indikator yang sangat mereka waspadai, lampu berwarna emas karena artinya para petinggi agensilah yang akan mereka temui.
“Saya punya tugas.” Tanpa basa-basi Bu Yeon memberikan pengumuman kepada para burung yang langsung disambut sorak kegirangan. “Tolong jangan potong pembicaraan saya.” Bu Yeon memang mengerikan jika sudah serius. “Tugas kali ini ada di level kuning dan seorang dari kalian akan jadi pemeran utama dalam tugas ini, dengan kata lain saya akan memisahkan seorang dari kalian untuk waktu yang belum bisa ditentukan dari grup dan berkomunikasi dari jarak jauh.”
Hal yang tidak biasa mereka lakukan membuat suasana seketika senyap. Empat anak di dalam ruangan saling lempar pandangan memikirkan siapa yang akan pergi, namun mata mereka menyiratkan ketidaksukaan atas tugas kali ini. Terbiasa bersama, perpisahan, meskipun hanya untuk sementara, menjadi hal terberat.
“Kalian tahu Amicaest Academy?”Bu Yeon mengacuhkan kegundahan anak didiknya.
Semua mengangguk.
Tidak ada yang tidak mengenal sekolah bersejarah itu. Sekolah yang berhasil menyatukan dua kelompok tanpa pertarungan. Meskipun penyatuan itu harus dibayar dengan banyaknya darah yang pernah tumpah puluhan tahun silam, tapi paling tidak semuanya terbayar di masa sekarang. Sekolah dengan fasilitas tiada tandingan menjadi incaran banyak siswa. Mereka berlomba-lomba ingin masuk ke sana. Nilai bukan prioritas utama agar bisa menjadi siswa-siswi resmi di sana, sesuatu yang hanya diketahui para guru. Seseorang yang terlihat bodoh sekalipun bisa masuk ke Amicaest Academy.
“Ada sesuatu yang salah di dalam sana, kalian harus cari tahu apa yang terjadi.”
“Bisa lebih spesifik, Bu? Kami belum paham.” Pertanyaan laki-laki yang memegang anak panah mewakili isi kepala teman-temannya. “Kalau bicara soal salah, bullying pun salah. Apa anak-anak di sana tukang bully?”
“Bukan, ini lebih dari itu.” Bu Yeon mengajak keempat remaja menuju meja besar di tengah ruangan. Mengetuk pinggiran meja tiga kali dan munculah sebuah video. Dari sudut pengambilan gambar, jelas sekali rekaman ini diambil diam-diam.
“Kalau ini berhasil, nggak akan ada yang melawan perintah kita. Semua yang kita ucapkan adalah mutlak, termasuk menghanguskan kota tidak berguna itu.”
Percakapan yang terjadi di sebuah ruangan megah dengan warna beige terdengar mengerikan. Tidak terlihat wajah dua tokoh yang membicarakan suatu rencana buruk itu, tapi dari cara mereka berpakaian menjelaskan keduanya adalah tokoh penting suatu instansi.
“Sudah berapa banyak yang kamu uji?”
“Kurang-lebih lima belas siswa.” Kemudian mereka tertawa.
“Gila!” umpat keempat remaja.
Melihat rekaman singkat itu, pikiran mereka semakin keruh. Menguji para siswa. Entah uji coba apa yang mereka lakukan. Tapi satu hal yang terlintas dipikiran mereka dengan cara berbeda. Bagaimana jika orang yang pada akhirnya pergi ke sekolah itu ikut menjadi kelinci percobaan sekolah itu? Lirikan mereka semakin intens ditambah kerutan di kening keempatnya.
“Sekarang kalian punya sedikit gambaran apa yang terjadi di sana, kan? So ... siapa yang mau jadi pemeran utama?” Bu Yeon memandang wajah keempatnya bergantian seraya tersenyum.
____o0o____

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru