“Sudah Sayang jangan menangis lagi ya. Iya aku gak akan pergi bekerja hari ini. Sudah ya jangan nangis lagi. Kasian anak kita pasti akan sedih kalau bundanya sedih.” Bujuk Arya sembari mengusap perut Naura yang sudah mulai terlihat ada nyawa lain di dalam sana. “Mas gak sayang sama aku hiks,” ujar Naura tidak berhenti menangis bahkan lebih keras dari sebelumnya. Arya menjambak rambutnya frustasi. Memahami permintaan orang yang sedang ngidam itu benar-benar menyebalkan dan lebih menyebalkannya lagi karena dia tidak kuasa menolaknya. “Sayang,” panggil Arya dengan suara sememelas mungkin agar istrinya itu mengasihaninya. Namun, semua itu sia-sia karena Naura sedikitpun tidak merasa kasihan bahkan wanita itu semakin keras menangis seperti Kesha putrinya jika sudah menginginkan sesuatu. Ibu-anak itu benar-benar bagaikan pinang dibelah dua. “Pake!” Kekeh Naura menunjuk pakaian yang harus dikenakan suaminya. “Yang lain aja ya plis.. jangan ini.” Arya bergidig ngiri ketika melihat pakaian tersebut. “Pake! Ini permintaan bayi kita Mas.” Paksa Naura ditengah nangis sesenggukkannya karena tidak tega melihat istrinya menangis sampai seperti itu membuat Arya mau tidak mau, suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas ia ambil pakaian tersebut dan tanpa wanita itu sadari Arya meremas pakaian itu oleh tangannya yang bersembunyi di bawahnya. “Baiklah demi istri cantikku dan anak yang ada dalam kandunganmu aku akan memakainya. Sekarang … “ Arya menggantungkan ucapannya ketika kedua ibu jari tangannya dengan lembut mengusap pipi istrinya yang basah oleh air mata, “berhentilah menangis.” Cup! Arya mencium kening istrinya kemudian mencium mata kirinya, lalu mata kanannya, dan terakhir bibir pink nya setelah itu Arya berjalan menuju kamar ganti untuk mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang dipilihkan oleh istrinya yang sedang mengandung. *** Sudah ada lima menit yang lalu Arya masuk untuk mengganti pakaiannya, tetapi sampai saat ini pria itu belum juga keluar membuat Naura tidak sabar melihat penampilan barunya. “Sayang.” Panggil Naura sedikit keras, akan tetapi masih terdengar manja di telinganya. Mendengar panggilan dari istri tercintanya Arya beberapa kali menarik napas panjang ketika melihat bayangannya di cermin. “Mas kau sedang apa di dalam sana? Cepat keluar! Dia ingin segera melihat ayah tampannya!” Teriak Naura lagi dari dalam kamarnya. “Kelak kau harus tahu perjuangan ayahmu ini nak,” gumam Arya seakan berbicara kepada calon anaknya. Setelah menguatkan diri sendiri Arya pun keluar dari ruangan tersebut dan langsung disambut senyuman cerah istrinya. *** Tok tok tok! Tok tok tok! Senyuman Arya langsung mengembang ketika mendengar pintu utama diketuk. Pria itu senang karena sebentar lagi akan ada yang menemani penderitaannya. Ceklek! Ketika pintu utama itu dibuka seseorang yang bertamu itu sama-sama membuka mulutnya melihat penampilan Arya yang bahkan sulit untuk dideskripsikan. “Cepat masuk!” Tarik Arya menarik salah satu tamu yang masih berdiri dengan keterkejutannya. Setelah semuanya masuk pria itu langsung menutup pintunya dan mendengkus kesal ketika kedua tamu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Eros berserta Zora masih memandangnya dengan tatapan aneh, bingung, dan tidak lama tawa keduanya meledak membuat Arya semakin menekuk wajahnya. “Aish! Jangan menertawakanku seperti itu! Sebentar lagi kau pun akan merasakannya,” ucap Arya kepada si adik ipar – Eros. Mendengar ucapan kakak iparnya Eros langsung menghentikan tawanya lalu memandang penuh tanda tanya padanya seakan ia bertanya apa maksud ucapanmu? Dan sepertinya Arya tidak perlu capek-capek menjelaskan karena dalangnya sudah muncul. “Ah akhirnya adik bungsuku datang juga,” ujar Naura keluar dari kamarnya ketika mendengar keributan di luar. “Apa kabar Zo?” tanyanya ketika melihat adik iparnya ada di sana. Zora hanya tersenyum kikuk karena ia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi kepada suami tampannya tersebut. “A-ada apa Kak?” tanya Eros. Sial saking takut dengan pemikirannya sendiri pria itu berbicara gagap membuat Arya dalam hati tertawa girang. Sebelum menjawab pertanyaan dari sang adik Naura tersenyum aneh seraya memegang perutnya yang mulai terlihat ada nyawa lain di dalam sana. "Keponakanmu ingin dilayani oleh pamannya.” Eros menelan salivanya dengan susah payah. Dia benar-benar merasa nasib malang sebentar lagi akan menimpanya dan benar saja ketika Naura mengeluarkan sebuah pakaian yang sama dengan pakaian yang sedang digunakan Arya tubuh pria itu langsung menengang. “Ah tidak-tidak aku tidak mau memakainya.” Tolak Eros dengan tegas seraya menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya. Namun, pria itu dibuat kaget ketika tiba-tiba Naura menangis dengan keras seperti seorang bayi yang tidak diberikan susu. “Etos, kau tidak kasihan padanya?” bisik Arya membuat Eros tidak tega. “Sayang, ikuti aja kemauan Kak Naura. Mas tega liat Kak Naura nangis gitu? Kasian dede bayinya,” timpal Zora membujuknya. Eros meringis ketika mendengar suara tangisan kakak sulungnya itu dan akhirnya meskipun dengan perasaan terpaksa ia mau memakainya membuat Zora lega dan Arya bahagia. Pria itu berusaha berdiri dengan tegak ketika melihat penampilan barunya. Jika bukan demi calon keponakannya mau mau dia melakukan hal konyol seperti ini. Bagaimana tidak pria tulen seperti dirinya kini memakai baju babby sister lengkap dengan rok diatas lututnya dan bando micky mousenya. Rasanya pria itu ingin menghilang saja sekarang. Dia bahkan tidak sanggup membuka pintu tersebut karena setelah pintu terbuka maka ia harus mengucapkan selamat datang kepada nasib buruknya. Namun, berlama-lama di sana harus dikubur jauh-jauh olehnya ketika kakak sulungnya itu memanggilnya dan menyuruhnya segera keluar. Eros Kembali melihat bayangannya di cermin dan pria itu menarik napas panjang untuk menguatkan dirinya sendiri. *** “Eros! Kau sedang apa di dalam sana? Cepatlah keluar!” teriak Naura sudah seperti nyonya besar. Ceklek! Ketiga orang itu serempak menolehkan kepalanya ketika pintu ruangan yang digunakan Eros berganti pakaian terbuka bersamaan dengan sosok pria tampan bertubuh kekar namun berpakaian feminim keluar dari sana dengan wajah ditekuk yang justru terlihat lucu oleh Naura sedangkan dua orang lainnya replek munutup mulutnya sendiri – syok dengan apa yang dilihat matanya. “Ah, kau sangat cocok dengan pakaian itu.” Puji Naura langsung menghampiri si bungsu yang masih menekuk wajahnya. “Astaga, kalian benar-benar sangat cocok,” lanjutnya lagi juga memuju suaminya, “perfect.” Zora masih membekap mulutnya, wanita itu sekuat mati menahan tawanya yang akan meledak. Eros mendelik ke arahnya seakan berkata, “Jangan tertawa!” Namun, ia tidak bisa menahan lebih lama lagi melihat penampilan konyol dua pria kekar di depannya sehingga pada akhirnya tawanya meledak bahkan wanita itu sampai dibuat menangis saking lucunya. “Aish!” runtuk Arya dengan suara tertahan. “Baiklah khusus hari ini kalian akan menjadi pelayanku dan Zora,” ucap Naura berbicara dengan tenang tanpa merasa memiliki dosa apapun sedangkan kedua pria malang itu hanya mampu mengiyakannya karena mereka tidak ingin telinganya rusak karena tangisan wanita hamil tersebut. “Aku?” tanya Zora seraya menunjuk dirinya sendiri. Naura menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Iya, aku dan kau. Khusus hari ini mereka akan melayani kita.” “Ah.. seperti itu.” Timpal Zora tersenyum kikuk ke arah sang kakak ipar. “Baiklah, untuk tugas pertama buatkan aku susu hamil. Anak di dalam perutku sudah kelaparan,” perintahnya sebagai tugas pertama untuk pria-pria malang tersebut. “Kau mau Zo?” tanyanya beralih melihat adik iparnya. “Mmm, boleh Kak,” jawab Zora yang pada akhirnya ikut andil dalam mengerjai mereka. “Nah, kalian dengarkan?” Pandangan Naura kembali kepada para pelayan kekarnya, “buatkan untuknya juga.” “Ayo Zo kita tunggu di taman belakang saja.” Ajak Naura menariknya dari sana. Kedua pria malang itu saling melihat satu sama lain setelahnya sama-sama membuang napasnya. Arya menepuk bahu adik iparnya dan Eros pun melakukan hal yang sama. Kedua pria malang itu saling memberi kekuatan untuk mengahadapi wanita-wanita hamil. “Wanita hamil sangat menyebalkan,” ucap Eros yang langsung diangguki oleh Arya. “Huh, sudahlah tidak ada gunanya juga mengeluh. Ayo kita segera membuat pesanan mereka. Aku masih sayang pada telingaku dan bagaimanapun ini permintaan anakku,” ujar Arya seraya menarik pria itu dari sana. *** “Susu enak datang!” Seru Arya memengang segelas susu rasa strawberry untuk diberikan kepada istri tercintanya sedangkan Eros memberikan gelas satunya kepada istrinya dengan tanpa ekspresi ceria seperti yang dilakukan Arya. Eros langsung mengerjap ketika kakaknya Kembali mengeluarkan suaranya. “Ekspresi apa itu?” Protesnya tidak suka ketika Eros memasang wajah masam. “Tarik bibirmu!” Bisik Arya seraya menyenggol lengan si adik ipar. Pria itu memejamkan matanya untuk menahan rasa dongkolnya, setelahnya ia menarik bibirnya seperti apa yang perintahkan Arya. “Ada lagi yang kalian inginkan?” tanya Eros masih dengan senyuman menyeramkannya. “Jangan tersenyum seperti itu! Kau membuatku takut.” Protes Naura wajahnya langsung memberenggut dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Astaga, kenapa wanita hamil begitu sensitif,” pekik Eros dalam batinnya. Tidak ingin keadaan semakin memuakan Eros buru-buru meminta maaf dan merubah senyumannya meskipun masih tersisa sedikit kekesalan yang tidak bisa ia hilangkan. Setelah keadaan kembali normal kedua pria malang itu hanya berdiri memperhatikan kedua wanita hamil tersebut yang sedang tertawa Bersama. Entah apa yang mereka bicarakan sampai sebahagia itu dan jujur saja melihat senyuman para wanitanya membuat hati kedua pria malang itu menghangat dan kekesalannya seakan menguap entah ke mana. “Eros.” Panggil Arya kembali menyenggol lengannya. “Apa?” tanya Eros dengan tatapan galaknya. “Aku jadi penasaran ngidam istrimu nanti akan separah apa,” ujar Arya seraya mendongakkan kepalanya. Pikirannya melanglang buana membayangkan ketika adik iparnya itu mengidam. Ah pasti pria di sampingnya akan kewalahan. “Semoga tidak lebih parah dari wanita gemuk itu,” timpal Eros kembali memusatkan pandangannya kepada kedua wanita hamil tersebut. Ah, lebih tepatnya kepada dalang yang membuatnya terlihat konyol dan bodoh seperti sekarang. “Aish, wanita yang kau panggil wanita gemuk itu kakakmu sendiri, bodoh,” cibir Arya tetap menjadi tameng utama untuk membela istrinya. Disaat mereka sedang berbicara tiba-tiba terdengar suara bell. Dengan reflek kedua pria itu memandang satu sama lain seraya menelan salinya dengan susah payah. Pikiran mereka sama-sama tertuju kepada suatu hal – sebentar lagi akan ada hal buruk yang menimpa mereka. *** “Aish! Disaat seperti ini kenapa harus ada tamu sih,” gerutu Arya yang langsung menarik adik iparnya ikut bersamanya. Jika ia harus menanggung malu dilihat oleh tamu yang sedari tadi terus menekan bell dengan tidak sabarnya maka ia tidak boleh malu sendirian. Ya, itulah yang jadi prinsipnya saat ini. “Aish! Apa yang kau lakukan? Lepas!” Protes Eros berusaha menyelamtakan harga dirinya didepan orang yang sedang bertamu. “Diamlah. Aku tidak ingin malu sendirian,” timpal Arya semakin mengencangkan gengaman tangannya mencekal Eros agar pria itu tidak kabur sehingga yang bisa diperbuat Eros sekarang hanyalah pasrah. Ceklek! Pelaku yang sedari tadi menekan bel sontak membuka mulutnya lebar-lebar ketika melihat penampilan kedua pria tampan di depannya. “Astaga, apa yang terjadi pada kalian?!” pekiknya tidak percaya dengan apa yang dilihat kedua bola matanya. Tidak ingin tambah malu lagi, Arya langsung menyuruh wanita yang diketahui bernama Wanda itu masuk dan ternyata bukan hanya wanita itu saja yang datang karena beberapa lama kemudian segerombol wanita sosialita lainnya juga datang dan mereka semua memberikan reaksi yang sama. “Astaga, aku ingin menghilang detik ini juga,” keluh Eros yang diangguki oleh kakak iparnya. “Penderitaan kita tidak akan secepat ini berakhir,” tambah Arya dengan lesu. “Ya, kurasa kau benar,” timpal Eros tidak kalah lesunya. “Kalian langsung saja ke kolam renang. Istriku sudah menunggu kalian di sana,” perintah Arya kepada wanita-wanita sosialita itu dan berpura-pura tidak terjadi hal aneh. Meskipun ia tahu hanya orang bodohlah yang tidak menyadarinya. Satu persatu wanita itu berlalu dan tinggalah Wanda di sana yang memperhatikan kedua pria malang tersebut. Tidak lama kemudian tawa wanita itu lepas juga membuat Arya dan Eros mendengkus kesal. “Kalian benar-benar konyol,” ucap Wanda disela tertawanya. “Aish! Sudah sana pergi!” usir Arya yang memang sudah sangat kesal sedari tadi. Setidaknya kepada wanita itu ia berani mengingat memang dia adalah sahabat Naura dan suaminya adalah rekan kerja sekantornya. *** “Ini benar-benar menyebalkan.” Sedari tadi pria itu terus mendumel membuat pria satunya menggelengkan kepalanya. “Kau pikir aku tidak?” timpalnya. “Tapi, kurasa ini lebih baik dari pada ngidamnya kemarin,” lanjut Arya dan setelahnya menghela napas lelahnya ketika membayangkan bagaimana susahnya Naura saat mengidam kemarin. Eros yang mendengarkan keluhan kakak iparnya mulai tertarik dan menanyakan wanita gendut itu mengidam apa dan detik berikutnya ia mendapat hadiah jitakan dari Arya karena telah menyebut istrinya sebagai wanita gendut, meski ia memang tidak menyangkalnya, tetapi tetap saja ia kesal jika wanitanya dipanggil seperti itu. “Aish! Kalian benar-benar pasangan menyebalkan,” cibir Eros lagi dan belajar dari kesalahan sebelumnya, pria itu langsung menghindar ketika tangan besar Arya akan kembali melayang ke atas kepalanya. *** Setelah seharian penuh akhirnya penderitaan Eros berakhir karena istrinya merajuk meminta pulang dan Naura memang tidak bisa menolak permintaan adik iparnya tersebut. Setelah Eros dan Zora pulang kini tinggalah Naura, Arya, dan Kesha yang sudah tidur nyaman di kasurnya yang empuk. Sepasang suami istri itu sedang berbaring di tempat tidur setelah seharian sibuk dengan kegiatan masing-masing. Naura dengan teman-teman arisannya, dan Arya dengan pekerjaan barunya sebagai pelayan istrinya. Benar-benar hari yang panjang, pikir pria itu kembali menghela napas lelah. Baru saja ia akan memejamkan matanya tiba-tiba tubuhnya sudah digoncangkan oleh istri cantiknya tersebut dan dengan terpaksa pria itu kembali membuka matanya. “Ada yang kau inginkan?” tanya Arya sudah tahu betul gelagat istrinya jika sedang menginginkan sesuatu. “Aku ingin mendandanimu,” jawab Naura dengan senyuman lebarnya. Pria itu kembali menghela napasnya. Demi Tuhan dia benar-benar butuh istirahat sekarang. “Aku lelah Sayang. Besok saja, ya,” bujuknya. “Tidak! Ini permintaan anak kita.” Jawab Naura kembali memasang wajah sedihnya, “Mas mau saat anak kita ileran pas lahir?” “Hmm, baiklah.” Dengan mata yang sudah benar-benar mengantuk Arya akhirnya menuruti permintaan istrinya. Lagi pula tidak ada gunanya juga ia menolak karena pada akhirnya ia akan tetap kalah dan menuruti permintaan sang istri yang benar-benar aneh itu. *** Sudah satu jam lamanya istrinya itu bersenang-senang mendandaninya. Mulai dari dipakaikan wig, maskara, pewarna bibir, hingga memberikan shadow untuk memberikan warna merona di pipi pria malang tersebut. “Wow, suamiku sungguh cantik.” Naura tersenyum begitu lebar melihat penampilan sang suami yang telah ia sulap menjadi wanita cantik. Belum selesai dari sana kini ia menyuruhnya untuk berjalan berlenggak-lenggok layaknya sedang berada diatas panggung catwalk dan lagi-lagi Arya hanya pasrah menuruti semua permintaan istrinya tersebut. *** “Ah, aku senang sekali hari ini,” ucap Naura terlihat sekali bahwa wanita itu benar-benar bahagia. “Terima kasih sudah menuruti permintaan anak kita Sayang.” Lanjutnya seraya mengecup lembut pipi Arya yang sudah menghapus riasan di wajahnya. Mendapat ciuman dari istrinya, rasa lelah sehariannya seakan lenyap dan digantikan dengan rasa kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan. “Apapun untuk wanitaku dan calon anak kita Sayang.” Balas Arya membalas mengecup pipi Naura. Setelah itu sepasang suami istri tersebut memutuskan untuk tidur. Naura menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya dan Arya memeluk erat tubuh istrinya karena tubuhnya sama-sama lelah mereka berdua tidak butuh waktu lama untuk mengarungi dunia mimpi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
16/08/2025
0wihh keren
16/07/2025
0bgus 👍🏻
13/07/2025
0Lihat Semua