Naura tersenyum sumringah membaca pesan dari suaminya yang mengatakan bahwa urusan pekerjaannya selesai lebih cepat dari yang ia perkirakan, dan sekarang ia sudah memesan tiket pulang. Wanita itu langsung pergi menuju dapur untuk memeriksa persediaan makanan di dalam lemari es. Kedua tangannya dengan cekatan mengambil bahan-bahan yang ada lalu mencucinya dengan air mengalir. Kemudian mulai meregangkan otot-otot tangannya yang sedikit kaku. Setelah melakukan peregangan ia mulai mengambil pisau dan juga talenan lalu mulai memotong-motong bahan dengan sangat lihai bagaikan seorang chef profesional. Dimulai dari memotong bawang bombay, daun bawang, jagung, wortel, dan bakso sapi. Untuk bahan yang terakhir itu jangan sampai ketinggalan karena suaminya sangat menyukai makanan bulat tersebut. Kemudian Naura mulai menghaluskan bumbu-bumbu dan memanaskan minyak untuk menumis bumbu yang sudah halus nanti. Setelah itu ia memasukan air secukupnya dan tunggu sampai mendidih. Lalu kemudian memasukkan sayurannya seperti jagung dan wortel, dan terakhir kepiting, udang, juga baksonya. Sembari menunggu masakannya matang, Naura merogoh saku celananya untuk menghubungi seseorang. Namun, tak lama kemudian hanya dengusan kecil yang ia lakukan. "Sesibuk apa kau sampai tidak mengangkat telpon kakak cantikmu ini," gerutunya. Tidak kehabisan ide, ia pun memutuskan untuk mengirim pesan berantai pada orang yang hendak ia hubungi tersebut. Naura sedikit terkikik saat membayangkan bagaimana reaksi orang itu saat membaca pesan darinya. *** "Hey kau!" panggil wanita berambut pirang pada Zora. "Aku?" Tanya zora seraya menunjuk dirinya sendiri. "Iya, kau," jawab wanita itu dengan angkuh. Izora yang hari ini sudah resmi pindah ke bagian manajemen produksi, menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menghampiri wanita yang ia yakin bernama Tamara karena melihat name tag yang tergantung di lehernya. "Ada apa?" tanya Zora. "Hey! Kau ini tidak sopan sekali pada seniormu," pekik Tamara. "Cepat belikan aku kopi." Sambungnya dengan begitu angkuhnya seraya menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu. Zora menaikan sebelah alisnya. "Maaf, tapi ini bukan tugasku," kata wanita itu tanpa merasa takut dengan tatapan tajam Tamara. "Heh! Sombong sekali kau. Jangan kau pikir setelah Pak Eros memindahkanmu ke bagian managemen produksi kau bisa berlaku sesuka hatimu. Bagi kami kau tetap sebagai seorang OB rendahan," kata Tamara sarkastis. Zora membulatkan matanya, emosinya terpancing ketika wanita itu menyenggol pekerjaan lamanya. Memangnya apa salahnya dengan pekerjaan OB? Menurutnya pekerjaan itu adalah pekerjaan mulia bukan pekerjaan rendahan seperti yang wanita itu katakan. "Jaga bicaramu!" bantah Zora mulai tersulut emosi. "Hahaha ... lihatlah! Kenapa kau marah? Memang kenyataannya kau itu hanya OB rendahan--" "Cukup!" Lerai seseorang dan menarik Zora dari sana. "Kau tidak perlu mendengarkan perkataannya. Kita sebagai orang waras cukup diam saja," bisik wanita itu membuat Zora sedikit terkikik geli. "Kau benar," sambut Zora ikut berbisik. "Ah, iya, kita belum berkenalan." Lanjut wanita itu seraya mengulurkan tangannya, "aku Zani." Zora tersenyum lalu menerima uluran tangan tersebut. "Izora, tapi kau bisa memanggilku Zora." "Ya, aku sudah mengenalmu," ucap Zani membuat wanita itu mengerutkan keningnya bingung. "Siapa yang tidak mengenalmu. Wanita yang selalu berhasil membuat pak Eros marah dengan tingkah ajaibmu," sambungnya dengan niat bercanda. "Hey! Kau sama saja," pekik Zora tertahan. "Haha ... kau ini terlalu serius. Aku hanya bercanda," ucapnya. Zora hanya nyengir ketika menyadari sikapnya yang seperti kekanak-kanakkan. Lagi pula untuk apa ia marah, bukankah perkataan teman barunya itu memang benar. Ia selalu membuat CEO tampan itu marah dan itu adalah hal yang sangat ia senangi. *** "Aish ..." Eros mendengkus sebal ketika melihat banyaknya notif yang masuk dan sebagian besar itu dari kakak sulungnya. 'Sesibuk apa kau sampai mengabaikan telepon dari kakak cantikmu ini?' 'Malam ini datanglah ke rumah kakak. Hari ini mas arya pulang dan kakak memasak dalam porsi besar.' 'Kita harus makan malam bersama. Kakak tidak mau tau pokoknya kau harus datang!' 'Jika kau masih menganggap kakak cantikmu ini sebagai kakakmu.' 'INGAT!' Pria itu kembali menyimpan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya lagi. "Suruh Izora ke ruangan saya sekarang!" perintah Eros dari sambungan telepon. Tidak lama kemudian wanita itu datang dan Eros langsung menyuruhnya untuk duduk. Zora menautkan jari jemarinya ketika perasaan gugup itu mulai menyapanya. Entahlah semenjak ia menyadari perasaannya terhadap CEO nya itu, jantungnya terus berdebar cepat bahkan ketika hanya melihat wajahnya sekilas sekalipun. "Sebagai tugas pertamamu, saya tugaskan kau membuat sebuah laporan untuk anggaran pembuatan makanan beku yang kau rencanakan itu," kata Eros. "Dan saya ingin laporannya selesai besok pagi," sambungnya berhasil membuat Zora membulatkan matanya. "Apa?!" pekiknya. "Kenapa? Apa kau tidak sanggup?" tanya Eros sarkas. "Ah, apa aku salah mem--" "Saya siap!" jawab Zora mantap. Pria itu sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis. "Bagus." *** "Aish ... apa yang kau pikirkan? Sampai begitu mudahnya kau menyanggupi permintaannya?" Monolog Zora memandang layar laptop yang masih menyala. "Kenapa Zo? Sepertinya mood-mu sedang tidak baik." Zani memutar kursi kerjanya agar bisa mengobrol lebih nyaman dengan teman barunya itu. "Dia memintaku untuk membuat laporan anggaran produksi dan harus selesai besok pagi." Tutur wanita itu seraya mengerucutkan bibir tipisnya yang diolesi oleh lipstik berwarna coral pink yang terlihat natural. "Dia? Maksudmu pak Eros?" tanya Zani sekaligus tebaknya. Zora hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Lalu ia menghembuskan napasnya kasar. "Apa dia titisan iblis, Zan?" tanyanya mulai melantur. Zani langsung memukul lengan Zora pelan. "Huss.. kau ini. Bagaimana kalau pak Eros mendengarnya." "Aku tidak peduli. Pria itu benar-benar tidak memiliki perasaan," ucap Zora mulai merengek dan hampir menangis. *** Pria itu tersenyum lebar saat mobilnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya eropa modern tersebut. Setelah mengeluarkan koper dari bagasi dan memberikan uang kepada supir taksi, pria itu mulai melangkahkan kaki jangkungnya untuk segera menemui wanita yang sudah sangat ia rindukan. "Sayang, Mas pulang." Pria itu langsung memasuki rumah besar tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Mas." Panggil Naura langung berlari untuk memeluk suaminya. "Aku sudah menunggumu sejak tadi," lanjut wanita itu masih dengan posisi yang sama. Arya tersenyum seraya membalas pelukan hangat sang istri. "Apa kau merindukanku?" tanyanya dengan suara yang begitu lembut. Wanita itu mendongakkan kepalanya sejenak lalu semakin mengeratkan pelukannya. "Tentu saja. Aku sangat merindukanmu." Kemudian Naura mulai mengendurkan pelukannya dan meminta Arya untuk melakukan hal yang sama. Meski pada awalnya pria itu menolak, tapi pada akhirnya ia menyudahi aksinya tersebut. "Ah, padahal aku masih ingin memelukmu. Dua hari berada di kota orang membuat rasa rinduku padamu menjadi berkali-kali lipat," protes Arya kepada istrinya yang kini hanya tersenyum manis padanya. "Dasar gombal," balas Naura meski dalam hatinya ia melompat kegirangan. "Sudah cukup acara gombalnya, Tuan. Aku sudah kenyang dengan gombalanmu itu," sambung Naura dengan nada seserius mungkin. Bukannya membuat pria itu berhenti malah membuatnya ingin semakin menggoda istrinya. "Kau tidak pandai berbohong, Nona." Balas Arya seraya mencubit hidung mancung milik sang istri. *** Tok tok tok! "Pas sekali," ujar Naura setelah menyiapkan menu makan malamnya. Tidak ingin membuat adik-adiknya menunggu lama, ia pergi menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Dan saat pintu berbahan kayu jati itu terbuka nampak dua orang yang sudah berdiri di depannya. "Ah, akhirnya kalian datang juga," kata Naura, "ayo masuk." Endru menggandeng tangan istrinya tidak berniat untuk melepaskannya. Naura yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan memakluminya. Tak lama kemudian adik bungsunya tiba dan ia menyaksikan keromantisan kakak dan mantan kekasihnya tersebut. Dengan gerakan refleks Kirana langsung menarik tangannya, mencoba melepaskan genggaman suaminya, tetapi gagal karena Endru menggenggam tangannya dengan kuat. Seakan ingin mengatakan dia adalah milikku! Suasana berubah menjadi canggung. Bahkan Arya yang baru keluar kamar juga dapat merasakannya. "Sampai kapan kalian akan berdiri di situ? Ayo! Aku sudah lapar," kata Arya berusaha memecahkan suasana yang sangat canggung itu. "Ah, iya. Ayo!" sambut Naura semangat. *** Arya begitu takjub melihat banyaknya makanan yang tersedia di meja makan. Ada kepiting saus asam manis, sate taichan, bahkan ada pecel lele, salah satu makanan kesukaannya selain bakso. "Kau yang mempersiapkan ini semua, sayang?" tanya Arya kepada sang istri. Naura tersenyum lalu mengangguk mantap. "Tentu saja," jawabnya dengan sedikit berbangga diri. Kemudian manik pria itu beralih kepada adik-adik iparnya yang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Aish ... kalian tidak akan makan?" tanya Arya lebih seperti menyindir. Naura menolehkan kepalanya mengikuti pandangan suaminya. Dia hanya bisa menghela napasnya ketika merasakan suasana yang kurang baik antara adik ipar dan kedua adiknya. Eros yang awalnya hanya diam, mulai mengambil nasi dan lauk pauk. Dia tidak ingin menghancurkan acara makan malam yang telah kakaknya siapkan. Namun, tanpa ia sadari ia mengambil makanan yang sangat pantang untuk ia makan. Dan Kirana yang tepat duduk di seberangnya langsung menepis tangan Eros. Semua orang langsung terkejut dengan tindakan yang wanita itu lakukan terlebih Eros dan pria yang berada di sampingnya. "Kau ingin alergimu kambuh?!" pekik Kirana. Masih dengan keterkejutannya pria itu menundukkan kepalanya untuk melihat menu makanan yang baru saja diambilnya. Dan Eros langsung terbelalak ketika ada saus kacang di atas piringnya. Dengan cepat Naura langsung mengambil piring tersebut dan menggantinya dengan yang baru. "Astaga, kenapa kau ceroboh sekali," ujar Naura. Eros masih terdiam. Pria itu masih syok dengan tindakan bodoh yang baru saja ia lakukan. Eros memang memiliki alergi parah terhadap kacang. Bisa berakibat fatal jika tadi ia sampai memakannya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
16/08/2025
0wihh keren
16/07/2025
0bgus 👍🏻
13/07/2025
0Lihat Semua