Beranda/KETIKA MENANTU HANYA DI JADIKAN BABU ( KARMA ITU ADA) season 2/
Bab 36 Kecurigaan Bima..
Part_36 ------------ "Loh, Dek. Kok cemberut gitu. kenapa?" tanya Bima saat mendapati istrinya yang baru pulang masuk kerumah dengan muka ditekuk. "Nggak apa-apa kok Mas," Fani masih belum bisa menceritakan apa yang dia lihat di kafe barusan kepada Bima. "Gimana ketemuannya sama dokter Angga, beliau bawa Anggel juga?" lagi Bima bertanya kepada Fani. "Gak, dia sendirian Anggel masih disekolahnya, tapi dia mau ngundang kita makan malam bersama Mas." beritahunya. "Oh iya, kapan?!" tanya Bima merasa antusias. Disini Bima masih berpikiran positif, karena dia merasa berhutang budi dengan dokter Angga yang sudah menolong istrinya. Jika saja waktu itu Fani tidak bertemu dengan dokter Angga, dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Fani waktu itu. Mungkin saja dia tidak akan pernah bertemu dengan istrinya lagi. Itu yang ada dipikiran Bima untuk saat ini. "Gak tau Mas, katanya nanti dia akan kabari lagi," ucap Fani datar, dia tidak seantusias Bima. Karena yang sedang mengganjal pikiran Fani adalah saat dia melihat Angga dan Kiki duduk santai bersama, "Bagaimana bisa dokter Angga mengenal Kiki, ini gak bisa dibiarkan aku harus cari tau secepatnya aku yakin Kiki memiliki rencana tersembunyi." begitu batin Fani bermonolog. "Dek, kamu kenapa kok ngelamun?" tegur Bima, dia merasa ada yang tengah istrinya sembunyikan dari dia, tapi apa? "Gak ada apa-apa kok Mas. Aku cuma kecewa kenapa tadi dokter Angga gak bawa Anggel aku kangen banget sama dia." lagi Fani masih belum menceritakan kepada Bima jika dia tidak sengaja bertemu dengan Kiki. "Bener, cuma kangen sama Anggel atau ada hal lain yang berusaha ingin kamu sembunyikan dari Mas!!" seru Bima sedikit menunjukan rasa curiganya dengan ekpresi yang lucu, agar Fani tidak merasa terintimidasi. "Beneran Mas Sayang, iihh sejak kapan ini suami aku cemburuan gitu!!" seru Fani sedikit meledek agar Bima tidak terus-terus menaruh curiga ke dia. "Bukan cemburu sayang, tapi khawatir. Kamu kan tipe orang yang kalau lagi ada masalah nggak mau cerita, pas udah mentok banget baru cerita." jelas Bima memberitahu, dan apa yang di ucapkan Bima memang benar adanya. Kecurigaan Bima bukan karena dia cemburu melainkan karena khawatir, Bima begitu sangat mencintai Fani dan dia tidak ingin kehilangan istrinya lagi. Apa pun akan Bima lakukan demi Fani. "Oh iya, Mas! Kata Mila, satpam dan bodygard yang mau jaga rumah hari ini datang ya?" tanya Fani membuka percakapan lain. "Iya, dek. Ibu yang cari satpam dan bodygardnya, bahkan Ibu kasih satu bodygard perempuan buat kamu." jelas Bima kepada istrinya. "Hah! Buat aku Mas? Aku kan nggak lagi dalam bahaya, yang butuh bodygard itu kamu Mas, kamu kan suka bepergian." seloroh Fani ingin menolak penjagaan yang diberikan Ibu mertuanya. "Mas juga udah bilang apa yang tadi kamu katakan,Dek. Tapi Ibu maksa ya mau gimana lagi. Gak ada salahnya juga kan kamu dikawal bodygard anggap aja teman. Lagian minggu depan Mila juga udah mulai urus-urus buat lanjut S2 nya kan." "Lagian siapa yang bisa ngelawan ucapan Ibu Mas." senyum Fani, dia akhirnya menerima menawaran bodygard yang di inginkan mertuanya. Fani merasa bersyukur sekali, saat dirinya sudah tidak memiliki siapa-siapa. Kini dia kembali rujuk dengan Bima dan lagi Ibu Ina yang dulu begitu jahat kedirinya sekarang justru begitu sangat menyayanginya seperti putrinya sendiri. Allah memang maha membolak balikan hati manusia, yang awalnya tidak baik sekarang sangat menyayangi. "Terima kasih ya, Mas. Sampaikan terima kasih juga buat Ibu!" seru Fani setelah tadi cukup lama diam. "Terima kasih buat apa, Dek?" tanya Bima tidak paham atas ucapan Fani. "Terima kasih karena Mas dan Ibu begitu sangat sayang ke aku, perhatian, manjain aku. Mas memang suami the best. Makasih ya sayang." ucap Fani tulus. "Iya sama-sama, Mas juga berterima kasih ke Adek, karena mau menerima Mas kembali menjadi suami Adek, menjadi bagian penting di hidup Adek. Terima kasih ya sayang." ujar Bima dengan memeluk Fani penuh sayang. ★★ Keesokan paginya saat Bima sedang berada dikantor tiba-tiba ponselnya berderih, tertera nama Mila diatas layar, dengan cepat Bima menjawab panggilan dari Adiknya. "Hallo, Dek Mila. Ada apa?" tanya Bima. "Mas Bima lagi sibuk nggak?" Mila justru bertanya balik kepada Kakaknya. "Nggak terlalu, kenapa memang Dek?!" "Nanti makan siang bareng yuuk Mas, sebelum aku berangkat." pinta Mila kepada Kakaknya. "Ajak Mba Fani juga ya." "Awalnya iya Mas, Mba Fani juga pengen ikut, tapi tadi aku dengar Mba Fani di telfon sama dokter Angga dan disuruh temani dia jemput anaknya yang bernama Anggel." adu Mila kepada Bima. "Lalu Mba Fani jawab apa Dek?" tanya Bima agak kepo:) "Ya awalnya Mba Fani menolak tapi sepertinya dokter Angga memaksa, akhirnya Mba Fani mengiyakan, Mas." lagi beritahu Mila kepada Bima. "Kok aneh ya, kenapa harus memaksa gitu, dan lagi kenapa Fani belum memberitahu ku." batin Bima penuh tanda tanya. Pucuk di cinta ulam pun tiba tidak lama setelah sambungan telefon dengan Mila putus. tidak lama kemudian Fani menghubungi Bima dia memberitahu hal yang sama seperti yang baru saja Mila beritahu. Bahkan terdengar dengan jelas suara Fani seperti terisak, memberitahu Bima jika Fani ingin agar Bima ikut serta dengannya menjemput Anggel. Ada rasa aneh sekaligus cemburu didalam hati Bima. Bima tidak terima jika ada yang membuat istrinya menangis, siapa pun itu. Tanpa pikir panjang Bima memberitahu Fani untuk menunggunya dan berangkat bersama menjemput Anggel dan makan siang bersama dengan dokter Angga. Insting kelelakian Bima langsung mengatakan jika ada hal yang tidak beres jika sampai dia melepas Fani untuk bertemu dengan Angga sendirian. Dan dia tidak akan tinggal diam untuk itu. Bahkan sebelum masuk jam makan siang Bima dengan cepat pergi dari kantor untuk menjemput Fani lalu barulah mereka mendatangi rumah sakit tempat Dokter Angga bekerja. "Dek Fani." panggila Bima, dia melihat istrinya sudah berada di luar rumah. "Mas Bima, Alhamdulillah akhirnya Mas datang!" seru Fani dengan cepat dia menghambur kepelukan Bima. "Felling Mas mengatakan, kalau Mas memang harus temani kamu sayang." ucap Bima kepada Fani. Dengan lembut Bima mengusap pucuk kepala Fani. Dengan lembut Bima membimbing Fani masuk kedalam mobil, sebelum berangkat dia sempat memberitahu Mila untuk menyusul ke restorant yang sudah diberitahu alamatnya lewat pesan chat whatsApp. "Hai, dok. Apa kabar?" sapa Bima terlebih dahulu saat sampai ke lobi rumah sakit tempatnya bekerja. "O-oh, Hai ju-juga. Alhamdulillah kabar saya baik." jawab Angga sedikit terbata. Mungkin dia tidak menyangka jika Fani akan membawa serta Bima ikut dengannya menjemput Anggel, karena memang niatan awal menjemput Anggel hanyalah alasan. Niat yang sebenarnya agar dia bisa leluasa bepergian dengan Fani tanpa harus dicurigai Bima. "Brengsek juga ini orang. Sepertinya aku harus sedikit berhati-hati dengan suami Fani." umpat Angga membantin. "Sebaiknya aku harus menceritakan ke Mas Bima soal waktu aku tanpa sengaja melihat dokter Angga dengan Kiki." batin Fani bermonolog. "Saya akan menjaga Fani apa pun yang terjadi. Mungkin anda memang pernah berjasa dihidupnya. Tapi jika cara anda seperti ini, jelas itu salah." seloroh batin Bima. 🌵🌵🌵
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (296)
GrandeCandy
Cerita best sangat.. 😊 Seperti kisah benar dizaman skarang..
30/03/2022
2
Sri Sunarti
bagus kak....semangat terus kutunggu karya lainnya
Cerita best sangat.. 😊 Seperti kisah benar dizaman skarang..
30/03/2022
2bagus kak....semangat terus kutunggu karya lainnya
29/03
0seruuu banget cerita nya
12/11
0Lihat Semua