"Abi tahu sesuatu?” Abi Hasby segera mendongak, menatap tajam anak laki-lakinya itu. Ia diam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Apa kata Pak Arya, Le?” “Pak Arya menitipkan ini pada ana, Bi.” “Hm, ini Bi, Le ... ayo diminum dulu teh hangatnya.” Ummi mengangsurkan dua gelas teh di atas meja. “Nissa?” Pertanyaan ummi langsung dijawab dengan gelengan kepala, “Makasih, Ummi.” Nissa—adik Hasby yang biasanya cerewet—kali ini hanya diam seolah bersimpati atas masalah yang sedang dialami kakaknya.
Dua laki-laki yang duduk di ruang tengah itu pun segera menyesap teh buatan Ummi. Lalu kembali terlibat pada pembicaraan serius tentang kotak kecil milik Hasby. “Bi, kalo seandainya apa yang ada dalam pikiran ana benar, apa mungkin ana bisa me—“ “Insya Allah, Le. Sekarang istikharah-lah. Ikuti kata hatimu, baca petunjuk-Nya lewat kejadian-kejadian yang ada di sekitarmu.” Malam makin pekat. Sunyi dan sepi menguasai suasana. Namun, langit terlihat cerah. Beberapa bintang tampak bersinar menemani cahaya rembulan yang tinggal separuhnya. Sengaja Hasby membuka jendela dan mematikan lampu kamar. Kedua tangannya memegangi teralis besi jendela yang tersusun secara vertikal. Sementara itu, wajahnya yang ia lekatkan di teralis besi merasakan sapuan halus sepoi angin malam. Lalu netranya memandang bebas luas langit malam yang tak berbatas. Begitulah cara Hasby menikmati malam dengan segala keidahannya. Aneh? Sedikit. Karena menurutnya dengan seperti itulah ia bisa berpikir lebih jernih dan fokus tentang berbagai masalah yang datang menyapa. Sama, kini pun juga. Kepalanya penuh dengan tumpukan masalah yang mengantri untuk diberi solusi. Namun, di antara semuanya, yang menjadi perhatian utamanya adalah tentang pesan Pak Arya. Tentang kotak kecil beludru warna biru yang baginya penuh misteri itu. Bagaimana tidak? Hatinya selama ini belum pernah memikirkan tentang rasa semacam itu. Kala hadir pun, ia berjuang sedemikian rupa untuk menepisnya. Menanam kuat pada diri bahwa itu semua belum waktunya. Karena masih ada hal lain yang lebih penting untuk diraih dan diperjuangkannya. Namun, kini hatinya mulai ada yang menghiasi. Ada rasa lain ketika hanya sekedar mengingat nama dan bayangan wajahnya.. Warna-warni indah tetiba hadir membuncahkan rasa. Meskipun belum tahu juga apakah secuil hati yang tersimpan rapi di sudut ruang yang masih kosong itu mempunyai rasa yang sama dengan dirinya. Terdengar lucu memang. Namun, baru saja ia akan berusaha mengetahuinya lebih dalam, tetiba sebongkah hati yang asing dimasukkan paksa memenuhi ruang rasanya. Ya, pesan Pak Arya itu. Iya, yang namanya Aileen itu. Apakah hadirnya akan menghias sama indahnya dengan secuil hati yang masih jauh di sana? Jam digital yang ia setel pada angka tiga mengeluarkan bunyi beberapa kali. Meskipun tanpa itu, alarm alami di alam bawah sadarnya sudah hafal menandai waktu bangun malamnya. Hasby bangkit dari sajadah birunya. Mematikan alarm di atas meja. Kakinya kembali duduk bersila di atas sajadah kesayangan. Lalu kembali melantunkan ayat-ayat kitab suci setelah dua rakaat ia tegakkan. Ia melakukan itu bukan karena sedang menghadapi masalah. Sekali lagi bukan. Bukan juga karena sedang menghadapi kesedihan yang sangat menyayat hati. Namun, itu merupakan hasil sebuah tempaan dari abi dan umminya. Sejak dari dahulu, kala usianya masih tiga belas tahun yang lalu. “Ya, Allah ... Sang Penggenggam hati setiap insan. Tempat menumpahkan segala keresahan jiwa dari segala kekhawatiran yang tiada bertepi. Tempat menyerahkan kelemahan diri dari ketakutan yang setiap saat hadir mendera. Karuniakan petunjuk-Mu menuju jalan indah yang harus kutempuh, tautkanlah rasa ini pada tempat yang lapang agar akan membuatku semakin mencintai-Mu di segala waktu.” *** Hari ini, Hasby mulai bekerja di kantor abinya secara resmi. Membantu mengelola biro haji dan umrah Ar Ruoudhoty. Ia lebih banyak membantu di bagian promosi dan pemasaran, dan juga memberi ide-ide segar untuk melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai daerah melalui jaringan baru yang ia ciptakan dengan para kolega bisnisnya. “Bi, kalo melihat perkembangannya, cabang biro yang di daerah ini sebaiknya dievaluasi lagi. Meskipun pihak pengelolanya sangat bersemangat untuk mengembangkannya, namun dari sisi potensi pendukungnya secara matematis sangat minim.” Hasby membuka kertas data yang lain. “Nah, berbeda jika dibandingkan dengan cabang yang di kota ini. Meskipun dalam satu kota ada dua cabang, tapi masing-masing tetap bisa berkembang sesuai target yang diinginkan. Karena di kota ini berdasarkan data, potensi pendukungnya sangat besar. Bahkan masih bisa dikembangkan lagi ” Hasby menjelaskan pandangannya dalam briefing bersama abi dan dua staf lainnya. *** “Le, kondisi Pak Arya kabarnya makin memburuk.” Abi Hasby memulai obrolan di sela acara makan siangnya di salah satu rumah makan langganan pimpinan biro tour dan travel Ar Roudhoty itu. Biasanya ia akan makan siang di kantor saja. Menikmati bekal makanan yang disiapkan istrinya. Namun, hari ini ia membuatnya berbeda. Karena selain sebagai sambutan bagi putra sulungnya yang mulai memperkuat tim d kantornya, juga ada hal penting yang ingin dibicarakan secara serius dengan Hasby, putra sulungnya. “Oh, ya, Bi. Apa kita perlu menjenguknya kembali.” “Masalah menjenguk, gampang, Le. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu jawaban dan keputusanmu atas pertanyaan Pak Arya kepadamu. Apa kamu sudah punya jawabannya?” Perkataan laki-laki di depannya itu sontak membuat degup jantungnya berpacu lebih cepat. “Ja-jawaban apa, Bi?” “Lho, Le ... itu yang kotak beludru warna biru itu. Pak Arya paati masih menunggu jawabanmu.” Suasana hening menyelimuti. Hingga suara riuh dari saung sebelah terdengar dengan jelas. “Menurut Abi, ana harus bagaimana? Menerima atau ...” “Kamu sudah paham kan maksud perkataan Pak Arya itu, Le?” Hasby langsung mengangguk sembari menghela napas pelan. “Tapi Bi ... ada beberapa hal yang masih membuat ana merasa ragu, Bi. Beberapa hari yang lalu ana melihat Aileen bersama laki-laki di sebuah kafe. Apa mungkin ia sudah mempunyai pilihan sendiri yang belum diketahui orang tuanya, Bi?” “Mungkin saudaranya, Le.” “Tapi laki-laki itu juga hadir di acara syukuran kedatangannya malam itu, Bi. Ia bergabung dengan teman dan sahabatnya.” “Kalo gitu, tanyakanlah pada keluarganya. Ada mamanya dan Tomy, kan?” “Bi?” “Kenapa, Le? Bukankah keraguanmu itu membuatmu sulit untuk mengambil keputusan. Sedangkan di sisi lain, Pak Arya dan keluarganya menanti keputusanmu itu?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
20/01
05.0
08/12/2024
0thanks
11/07/2024
0Lihat Semua