Part. 28

Hasby masih berdiri di depan pintu kamar tidurnya yang terbuka sedikit tanpa sepengetahuan Aileen. Setelah tidak ada suara pembicaraan di telepon lagi, ia memutar gagang pintu dan masuk ke dalam. Aileen segera menoleh.
“Maaf, kaget, ya?” Lelaki yang baru masuk kamar itu menyunggingkan senyum. Ia melihat istrinya duduk di tepi tempat tidurnya. Tangannya masih memegang ponsel emas kesayangan. Akan tetapi raut wajahnya tampak resah dan gelisah.
Hasby melangkah mendekati istrinya. Ia duduk di samping wanita yang kini duduk memeluk lutut itu. “Hasby, aku takut ....” Teringat beberapa hari yang lalu—ketika Aileen terbangun dari mimpi buruk tentang papanya—maka lelaki itu merentangkan kedua tangannya sembari menatap lembut istrinya. Lalu tanpa ragu, Aileen pun melepaskan rasa takutnya di sana.
Tangannya mencengkeram kuat baju Hasby. “I’m affraid.” Isak tangisnya mulai terdengar.
Tangan Hasby mengusap lembut punggung dan bahunya. Lalu mengecup puncak kepala wanita itu beberapa kali. Hingga isak tangisnya terdengar mereda. Tangan Aileen pun mengurai peluknya.
Kini Hasby menggenggam tangan wanitanya yang masih terasa dingin, kemudian mengecupnya. “Ada apa?” Pandangan mereka beradu. Lalu Aileen membuang pandangan ke tempat lain.
“Aku takut kamu akan membenciku.” Wanita yang masih duduk di depannya itu menunduk. Melihat apa saja yang ada di sana.
“Ceritalah. Aku tidak akan membencimu.” Hasby meyakinkan Aileen.
Wanita itu mendongak, mencari kebenaran kata-kata yang baru diucapkan suaminya di dalam manik mata hitam di depannya. Kepala Hasby mengangguk kecil, seolah ingin menyampaikan keseriusan ucapannya.
Lekas Aileen membuang pandangan ke arah lain. Ia terlihat berpikir sejenak, untuk mengambil keputusan. Ia menghela napas panjang. Lalu beringsut menyandarkan bahu ke sandaran tempat tidurnya. Kini Aileen kembali duduk sambil memeluk lutut.
“Ok. Baiklah,” ucapnya sembari menatap Hasby lekat.
“Hasby, do you remember ketika menanyakan alasanku memakai kerudung malam itu?” Lelaki yang diajak bicara itu dahinya kelihatan berkerut. Ia mencoba mengingat peristiwa yang dimaksud Aileen.
“Oh, iya.” Tangan kanannya menjentikkan jemarinya, lalu mengatakan, “Pasti. Di depan ruang ICU di malam pertama setelah pernikahan kita.”
“Thats right.” Aileen mengangguk lalu memulai ceritanya.
Dulu, ketika Aileen masih duduk di jenjang abu-abu putih, gadis berkulit putih itu mempunyai seorang kekasih. Ronny namanya. Dua tahun menjalin tali kasih, mereka harus terpisah saat masa kuliah. Melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda menyebabkan cinta mereka terhalang jarak.
Saat kuliah tinggkat ketiga, Ronny secara mnegejutkan menyusul Aileen ke San Francisco. Karena ia merasa telah mengeluarkan banyak pengorbanan untuk bisa bertemu kekasihnya, maka Ronny juga menuntut sambutan yang ‘istimewa’.
“What do you want, Ronny?”
“Kita sudah sama-sama dewasa, Aileen. Aku jauh-jauh dari Indonseia ke sini, tidakkah kau ingin menyambutku dengan sesuatu yang istimewa?” Laki-laki muda bermata coklat itu melepas kancing kemejanya.
“No. Get out, you!” Ronny terus berusaha memaksa Aileen untuk memenuhi keinginannya. Namun, gadis bercelana pendek dan berkaus ketat itu terus memberontak, melakukan perlawanan. Tubuhnya yang kecil membuatnya kualahan melawan Ronny. Hingga akhirnya ia melakukan jurus kaki seribu.
Beruntung ketika Aileen baru saja membuka pintu apartemennya, Andrea dan Jimmy—Andrea dan Jimmy adalah teman kuliah Aileen—muncul dari balik pintu.
“Help, me. Please!” Aileen bersembunyi di balik tubuh tinggi Jimmy, kekasih Andrea.
Pemuda berambut pirang itu masuk ke kamar Aileen. Ia ingin mengetahui apa yang membuat temannya itu ketakutan.
“Hi, Bro. How are you?” sapa Ronny dengan tangan masih sibuk mengancingkan kembali kemejanya.
Plak plak!
Jimmy menghujani wajah Ronny dengan beberapa tamparan sekaligus. Sontak hal itu membuat pemuda yang baru beberapa jam menginjakkan kaki di San Fransisco itu memegangi pipinya yang terasa panas dan mengeluarkan cairan merah di sudut bibirnya.
“Get out, now!” Tangan Jimmy menunjuk ke arah pintu sambil melempar sebuah tas punggung di kursi sofa.
“Hey, what do—“ Sebuah pukulan Jimmy siap menghantam lagi. Namun, Ronny segera meraih tasnya dan memilih keluar meninggalkan apartemen gadis yang dicintainya itu.
Aileen masih dalam pelukan sahabatnya, Andrea. Bahkan ketika Ronny meninggalkan apartemennya pun ia tak mau melihatnya.
“Sejak saat itu aku tidak mau berhubungan dengannya lagi. Seluruh akun media sosialnya kublokir. And thats why I wear hijab.” Aileen menatap Hasby lalu menunduk.
“Lalu bagian mana yang bisa menjadi alasan bagiku untuk membencimu, Aileen. Bahkan dari ceritamu, sekarang aku semakin yakin bahwa wanita di hadapanku ini adalah makhluk ciptaan Allah yang terbaik yang dikirim untuk melengkapi hidupku.” Tangan Hasby mengangkat dagu dan merapikan anak rambut istrinya yang sedikit berantakan dan menyelipkan ke belakang telinganya.
Hasby merasa heran dengan kata-katanya sendiri. Benarkah ia mengucapkan itu semua dari hati? Atau hanya ingin menghibur Aileen?
“Hasby, aku takut. Ronny tadi kembali menghubungiku. Dia ingin balikan denganku.” Bulir bening meluncur dari pelupuk wanita di hadapannya.
Hasby segera merengkuh wanita halalnya itu. “Tak akan pernah kubiarkan itu terjadi Aileen. Kamu milikku,” bisik Hasby
Ada rasa yang tak biasa ketika Hasby mengucapkan kalimat itu. Debaran jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Dan rasa nyaman ketika Aileen menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
‘Inikah rasa yang pernah kupinta dari-Mu ya Allah? Hadirkan lebih banyak lagi, Wahai Sang Pemilik Cinta. Aku akan menjaganya hanya untuk wanita halalku.’
Siang itu menjadi momen yang bersejarah bagi Hasby. Laki-laki itu telah membuktikan kata-kata papa mertuanya. Benar bahwa Aileen telah jatuh cinta kepadanya. Istrinya takut akan kehilangan dirinya.
Dan di waktu yang sama, Hasby pun merasakan hal yang sama. Di dalam hatinya telah tumbuh rasa yang berbeda pada wanita halalnya. Suatu rasa yang menjadi candu untuk selalu ada jika berdekatan dengannya.
Siang itu mereka tidur dengan saling berpelukan di papan sandaran tempat tidurnya. Posisi yang tidak terlalu nyaman membuat Hasby segera terbangun. Menit berikutnya, Aileen pun menyusul.
“I’m sorry, Hasby.” Aileen mengurai jarak dengan Hasby. Wanita itu merasa bersalah karena ia telah tertidur di dadanya.
Ia ingin segera beranjak dari dada suaminya. Namun, ketika tumpuan tangannya di tempat tidur tidak kuat, niat untuk menegakkan badan justru memangkas jarak dengan suaminya itu. Wajah Aileen terjatuh di dada Hasby. Maka, tawa kecil pun terdengar mengiringi kejadian yang tak disengaja itu.
Usai salat Dhuhur, Hasby mengajak Aileen jalan-jalan. Ia berencana untuk memberikan kejutan untuk istrinya. Aileen pun sama, ia akan memberi sesutu yang istimewa untuk suaminya.

Komentar Buku (29)

  • avatar
    Nurul hikmah

    bagus

    20/01

      0
  • avatar
    Christii

    5.0

    08/12/2024

      0
  • avatar
    Mawaddah

    thanks

    11/07/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru