logo text

Bab 4 Friendship

Tawa Dokter Seo tak dapat dibendung melihat perubahan ekspresi wajah Daniel.
“Apa yang membuatmu begitu senang, Daniel?” tanya Dokter Seo penasaran, sambil menaruh stetoskop pada dada Daniel. Lama baru berpindah tempat, ke perut, lalu punggung. Daniel bergeming, jantungnya berdebar kencang saat stetoskop ditaruh di dadanya.
“Kau masih memikirkan peristiwa itu?” tanya Dokter Seo lagi. Daniel masih bergeming. Lalu mengangguk perlahan. Jawabannya membuat Dokter Seo menghela napas.
“Obat apa yang kau minum selama ini? Jujurlah padaku Daniel. Aku mendengar sesuatu yang tak lazim dari jantung dan paru-parumu. Apa yang selama ini kau rasakan? Kau tak menceritakannya pada Ayah atau ibumu?” Kembali Dokter Seo memberondong dengan pertanyaan yang terasa sulit untuk dijawab.
“Aku minum obat tidur dan anti depresan. Tidak tiap hari, hanya saat aku tidak bisa tidur dan gelisah,” jawab Daniel dengan suara lirih hampir tak terdengar dan kepala tertunduk.
“Daniel, kau merusak dirimu sendiri, kau tahu itu!” sergah Dokter Seo.
“Sudah berapa lama kau makan obat-obatan itu?”
“Hampir dua tahun.”
“Sesangge … Daniel, sudah selama itu! Apa kau tidak konsul ke dokter di sana?”
“Aku pergi ke dokter saat membutuhkan obat. Mereka tahu riwayat PTSD-ku, Dokter Seo. Tak mungkin mereka memberi obat tanpa tahu penyakit yang kualami.”
“Apa mereka menjelaskan efek sampingnya padamu? Apa kau sering pingsan seperti tadi pagi?”
Daniel menggeleng.
“Baru dua kali ini, kemarin sore saat aku masuk ke kamar. Bayangan itu kembali tanpa permisi, membuatku sesak hingga tak dapat bernapas. Begitu juga tadi pagi, ruangan rapat itu membuatku merasa sesak, lalu pingsan. Begitu saja. Selama ini aku baik-baik saja walau terkadang insomnia menyerang hingga berhari-hari. Itulah mengapa aku butuh obat itu.” Daniel memberikan alasan. Tak ada gunanya membohongi pria setengah baya ini. Dia sudah merawat Daniel sejak lelaki muda itu masih bayi.
Perawat yang bersama Dokter Seo melepaskan botol obat yang di alirkan ke selang infus karena sudah hampir habis. Daniel menarik napas lega. Kalau hanya cairan saline nacl saja tak akan membuatnya sakit. Dokter Seo tersenyum saat melihat Daniel menarik napas lega.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan kepala Logan dengan rambut gondrong yang diikat ke atas muncul dari balik pintu. Lalu masuk dan langsung menghampiri Daniel dengan bungkusan tteoboki di tangannya.
“Waahhh … kau begini sehat kenapa bisa terdampar di sini, Daniel!” seru Logan langsung melemparkan lelucon seperti biasa yang sering dilakukannya. Daniel memberikan wajah yang kecut, sementara Dokter Seo tertawa lebar.
“Baiklah, kalian ngobrollah dulu,” pamit Dokter Seo sambil berjalan ke pintu. Daniel mengangguk.
“Apa kabarmu, Daniel?” tanya Logan sambil memeluk Daniel erat. Sudah lebih dari dua tahun mereka tidak berkomunikasi. Daniel membalas pelukan Logan.
“Seperti yang kau lihat, terjebak di sini,” jawab Seung Joon masam.
“Kau tampak jauh lebih kurus dari terahir kita bertemu, Daniel. Kau yakin kalau kau sehat?” tanya Logan khawatir, membuat Daniel tersenyum masam.
“Apa aku seperti orang sakit?” tanya Daniel datar.
“Baguslah kalau kau sehat. Aku mengkhawatirkanmu, Daniel. Apa kau mau makan tteobokimu? Mumpung masih hangat,” tawar Logan yang langsung dibalas anggukan semangat dari Daniel.
Daniel makan dengan lahap hingga habis bersih sampai ke saos-saosnya. Logan tertawa melihat Daniel kepedasan setelah menghabiskan tteoboki dengan kepedasan level sepuluh. Dulu ketika masih sekolah, mereka sering sekali mengunjungi kedai tteoboki sepulang sekolah. Kenangan itu tiba-tiba terlintas di benak Logan.
“Apa yang kau mau aku lakukan untukmu, Daniel?” tanya Logan tiba-tiba setelah Daniel membersihkan mulutnya dari sisa saos . Daniel terdiam sejenak.
“Bagaimana kau bisa tahu niatku, Logan? Ternyata kau masih mengingat kebiasaan kita dulu,” ucap Daniel terpana.
“Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku. Aku bukan peramal ataupun paranormal,” balas Logan tertawa.
Daniel tersenyum, walau senyum itu terasa hambar, tapi dia merasa bahagia. Ternyata temannya masih mengingat kebiasaan mereka.
Daniel mengambil tas yang dibawa Henry bersama ponsel tadi, lalu mengambil sebuah dompet kecil di dalam dan mengeluarkan sebuah kartu eletrik.
“Ini kunci apartemenku, kodenya tanggal lahirku. Tolong kau ubah kamar itu, buang semua barang-barang yang ada di dalamnya. Aku tak mau ada yang tersisa. Ganti dengan yang baru,” ucap Daniel dengan suara bergetar.
Logan menatap jauh ke dalam mata Daniel, dia bisa melihat luka yang masih menganga di sana.
“Kau masih mengingatnya?” tanya Logan sedih. Kejadian sudah begitu lama berlalu, tapi dia masih terus mengingatnya.
Daniel tak menjawab. Dia hanya bergeming.
“Pergilah Logan, kabari aku kalau sudah selesai. Semoga bisa selesai sebelum aku keluar dari rumah sakit. Aku tak mau pulang ke rumah besar itu,” jawab Daniel lirih, lalu berbaring dan menghadap tembok, membiarkan Logan sendiri di sana.
“Baiklah, aku akan mengabarimu saat semuanya selesai.” Logan menghela napas berat, lalu beranjak pergi.
Daniel memejamkan mata saat sebulir cairan jatuh dari sudut mata. Luka di hatinya masih terus berdarah dan terasa nyeri. Bagaimana mungkin dia bisa semudah itu melupakan semuanya, seperti yang selalu disarankan oleh orang-orang.
Mudah sekali mereka mengatakan bahwa dia harus terus melangkah, jangan lagi mengingat dia yang sudah pergi meninggalkannya. Andai saja gadis itu pergi karena mengkhianatinya, tentu Daniel dengan mudah melupakannya, tapi dia meninggal karena melindunginya. Dia memejamkan mata berharap bisa jatuh lelap.
Denyutan di kepalanya terasa semakin kuat dan menyakitkan. Napasnya kembali terasa sesak, sampai kapan dia akan terus seperti ini. Harusnya dia memilih untuk tidak kembali kalau hanya akan membuatnya tersiksa.
Rasa sakit di kepala dan tubuhnya semakin menyiksa, napasnya pun terasa terus memburu. Setiap kali Daniel menarik napas, lehernya terasa tercekik hingga tak ada oksigen yang masuk ke paru-paru. Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan di dahi pucatnya. Dia terus menahan rasa sakit yang kian menjerat. Tiba-tiba seorang perawat muncul dari balik pintu saat mendengar alarm alat pemantau oksigen dari kamar Daniel berbunyi. Perawat itu langsung memeriksa Daniel, lalu keluar memanggil Dokter Seo. Tak sampai lima menit, Dokter Seo muncul datang dan langsung memeriksa Daniel yang hampir pingsan.
Dengan cepat perawat itu menyuntikkan obat melalui selang infus. Perlahan napas Daniel mulai teratur, tak lagi memburu. Dokter Seo memegang nadi di ujung lengan Daniel, memeriksa detak nadi lelaki muda itu.
“Aku mohon, apapun hasilnya besok, kau harus mengatakan kalau aku baik-baik saja pada Henry,” ucap Daniel yang berbalik menghadap Dokter Seo. Mukanya kembali terlihat pucat. Dokter Seo menatap seraut wajah yang tampak pucat dan terluka. Luka hati yang tak kasat mata.
“Berjanjilah padaku, Dokter Seo,” bisik Daniel lirih, rasa sakit mulai menghilang digantikan rasa kantuk yang teramat sangat hingga dia merasa tak sanggup untuk membuka mata.
“Baiklah, tapi kau juga harus berjanji padaku, untuk melanjutkan pengobatan saat serah terima perusahaan sudah selesai. Daniel, ini serius,” ucap Dokter Seo serius.
Daniel mengangguk dengan mata terpejam.
“Aku akan ikut semua perintahmu, Dokter Seo,” ucap Daniel lemah, hampir tak terdengar. Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar dari bibir tipis yang mulai memerah, tak lagi pucat seperti tadi.
***
Dokter Seo mengusap perlahan kepala Daniel, dia tak menyangka kalau luka di hati Daniel begitu dalam. Harusnya dia tak mengijinkan Ayah Daniel membawa dia ke Amerika, sesalnya dalam hati.
Setelah menemani Daniel sebentar, lelaki paruh baya itu keluar, dan mampir ke pos perawat, berpesan agar segera memanggilnya jika terjadi sesuatu pada Daniel. Dia sungguuh mengkhawatirkan lelaki muda itu. Daniel memang selalu menjadi kesayangan dari sejak lahir hingga sebesar ini. Dia sudah menganggap Daniel seperti anaknya sendiri. Anak yang tak dipunyainya.
Hari sudah beranjak soresaat Henry tiba di rumah sakit dan mendapati Daniel masih terlelap. Dia bahkan tidak pulang ke rumah karena mengkhawatirkan saudara satu-satunya itu. Walau kadang mereka bertengkar, tapi dia selalu menyayangi Daniel. Henry merasa galau, dua minggu lagi dia harus berangkat ke Amerika untuk melangsungkan pernikahannya.
Bagaimana Daniel di sini saat dia tak ada nanti. Siapa yang akan mengawasinya. Dia sungguh membenci tragedi yang harus menimpa adiknya. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Hufft … Henry mengempaskan napas kasar.
Bunyi ponsel mengakhiri lamunan panjang. Dia keluar dari kamar menuju balkon, dan menerima telepon di sana. setelah beberapa saat dia kembali ke kamar. Dokter Seo masuk dan mengajaknya berbincang di kantor. Jantung Henry berdebar kencang, memikirkan apa yang akan dibicarakan Dokter Seo padanya.
Daniel bangun saat matahari sudah kembali ke peraduan hingga langit Seoul menjadi gelap. Tirai di kamarnya masih terbuka. Dari ranjangnya, dia bisa melihat ke luar. Langit tampak gelap malam ini, bulan dan bintang bahkan tak menampakkan diri.
Pintu kamar terbuka tiba-tiba, Henry masuk bersama Dokter Seo. Daniel bangkit dan duduk di ranjang melihat kedua orang itu datang bersamaan.
“Apa yang kalian lakukan? Mengapa bisa datang bersamaan?” tanya Daniel mengernyitkan alis.
“Dia memintaku untuk menahanmu lebih lama di sini.” Henry tertawa.
“Jangan khawatir, begitu kau dinyatakan sehat, kita akan langsung ke kantor, bagaimana, deal?” ucap Henry. Wajah Daniel yang khawatir berubah menjadi tenang.
“Apa kau akan tidur di sini malam ini, Hyung?” tanya Daniel lagi. Henry mengangguk.
“Lebih baik kau pulang saja, aku baik-baik saja. Kau tanyakan saja pada Dokter Seo, iya, kan, Dok?” ucap Daniel berusaha menyakinkan Henry.
Henry melirik Dokter Seo, dan dijawab dengan kedipan mata oleh Dokter Seo.
“Baiklah … baiklah, sepertinya kalian sudah berkonspirasi tidak menginginkan aku di sini,” ujar Henry tertawa. Dokter Seo ikut tertawa. Daniel hanya melemparkan senyuman kaku seperti biasa.
“Apa kau sungguh tak mau kutemani malam ini?” tanya Henry serius. Lelaki muda itu mengangguk. Matanya menatap lurus ke langit hitam di luar sana.
“Aku baik-baik saja, Hyung. Percayalah,” tukas Daniel menatap Henry. Lelaki berperawakan tinggi itu akhinya mengangguk, mengalah.
“Baiklah, aku akan tidur di rumah malam ini. Kabari aku kalau kau ingin sesuatu,” jawab Henry.
“Dia puasa malam ini, kau jangan mengiriminya makanan,” tukas Dokter Seo mengingatkan. Henry tertawa.
“Mian (maaf), aku lupa. Baiklah kalau begitu aku pulang saja. Tak ada yang menginginkanku,” ujar Henry dramatis, membuat seisi kamar tertawa, kecuali Daniel.
“Aku merindukan suara tawamu, adik kecil,” tukas Henry sebelum melangkah keluar.
Daniel terhenyak. Sejak kejadian itu suara tawanya menghilang.
“Ingat janjimu tadi siang. Aku sudah mencari pengobatan untuk PTSD-mu,” ujar Dokter Seo mengingatkan Daniel.
“Aku ingat, Dok. Baiklah apapun itu, aku akan mengikuti semua perintahmu,” jawab Daniel. Pengobatan apapun itu, seberat apapun akan dijalaninya asal bisa lepas dari derita yang selalu menderanya.
Yang pasti, rencana pernikahan kakaknya tidak akan mundur hanya karena dirinya. Itu yang paling penting. Dan dia sudah mempersiapkan diri untuk menduduki jabatan sebagai pengganti Hyung.
“Apa kau lapar?” tanya Dokter Seo sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Daniel menggeleng.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok pagi. Usahakan untuk tidur malam ini, agar hasil esok bagus” saran Dokter Seo. Daniel mengangguk lagi. Lalu Dokter Seo meninggalkan kamar.
Daniel mengambil ponsel yang ada di meja kecil di samping ranjang dan melihat pesan yang masuk selagi dia tidur. Tak ada yang penting, lalu diletakkannya kembali lalu mencoba untuk tidur lagi.
***
Keesokan hari, sejak pagi Daniel sudah mulai menjalankan beberapa test hingga menjelang malam dia sudah menyelesaikan separuh test kesehatan yang disarankan oleh Dokter Seo, dan tertidur akibat kelelahan. Besok pagi masih harus menjalani serangkaian test lagi.
Sejak kembali dari ruang rekam jantung, Daniel tertidur hingga menjelang pukul enam sore. Henry tiba di sana sepulang dari kantor.
Tadi siang dia sempat berbincang sebentar dengan Dokter Seo, menanyakan kabar Daniel. Jawaban Dokter Seo membuat hatinya lega. Dia sudah merencanakan pergantian kepemimpinan di perusahaan saat Daniel keluar dari rumah sakit nanti.
Daniel tidur dengan nyenyak saat Henry masuk. Disentuhnya dahi Daniel dengan punggung tangan, normal. Tidak demam, baguslah. Sentuhan Henry membuat Daniel bangun. Lelaki muda itu menggeliat dari tidur, membuka mata dan melihat Henry berdiri di samping ranjang.
“Hyung, kau sudah pulang kantor?” tanya Danieel dengan suara serak khas bangun tidur. Henry mengangguk dengan senyum menggantung di bibirnya.
“Apa kau lapar? Ingin makan sesuatu? Biar aku pesankan,” tawar Henry. Daniel tampak berpikir sejenak. Yeah, dia lapar karena dia belum makan dari semalam.
“Aku memikirkan japchae yang dulu sering dipesan Ibu, Hyung, apa kau ingat?” Daniel tampak memikirkan sesuatu.
“Akh … japchae buatan Bibi Kwang yang kau maksud? Japchae dengan irisan rumput laut dan acar itukah?” tanya Henry, yang langsung disambut dengan mata berbinar Daniel.
“Baiklah, akan aku pesankan,” jawab Henry, mengambil ponsel dalam saku jas dan melangkah ke balkon.
Ponsel Daniel berbunyi, sebuah pesan masuk dari Logan saat Henry sedang di balkon.
Mukanya langsung pucat saat melihat pesan itu.
***

Komentar Buku (4)

  • avatar
    UmairahNur Qaseh

    seru bangget

    09/09/2022

      0
  • avatar
    KntlMmk

    wow seru banget

    14/08/2022

      0
  • avatar
    Andriis Debila Naufal

    ceritana bagus

    14/08/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru