logo text

Chapter 87

David turun dari dalam mobilnya, pria itu berjalan di samping Sinta.
Sinta memandang pintu rumahnya yang langsung dibuka sebelum ia mengetuknya.
“Alhamdulillah udah pulang, dari tadi tante sudah menunggu, lama sekali,” ucap Tuti yang tersenyum.
“Iya Tante di jalan ramai,” ucap Sinta menjelaskan.
“Di jam segini masih banyak kendaraan Tante, makanya nggak bisa cepat sampai sini,” ucap David yang tersenyum.
“Nggak apa-apa yang pentingkan pulangnya aman,” ucap Tuti dengan nada bicara yang sangat halus.
“Tunggu sebentar ya Tante makanannya masih di mobil,” ucap David yang mengingat makanan yang tadi disiapkan oleh keluarga bosnya.
“Kenapa David repot-repot,” ucap Tuti yang tersenyum.
“Ini memang disiapkan dari keluarganya pak Fathir,” ucap David yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya, untuk mengambil makanan yang tadi sudah dibungkuskan oleh pelayan di kediaman Haryati.
“Kenapa banyak sekali,” ucap Tuti yang memandang bungkusan besar yang dibawa oleh David.
“Iya Tante, tadi ibu Haryati membungkus lumayan banyak, jadi ini nanti bisa Tante panasin untuk makan besok,” ucap David yang memberi saran.
“Terima kasih sekali ya,” ucap Tuti yang yang selalu mempertahankan senyum di wajahnya.
“Ya Tante saya permisi,” ucap David.
“Iya David hati-hati, terima kasih udah mau nganterin anak-anak Tante,” ucap Tuti.
“Iya Tante aku pulang dulu, assalamu’alaikum,” ucap David.
“Wa’alaikum salam,” ucap Tuti.
“Bang David terima kasih ya,” ucap Sinta yang tersenyum.
David tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “abang pulang dulu ya,” ucapnya mengusap kepala Riski.
“Iya Bang terima kasih, aku sangat senang naik mobil Abang, enak dan wangi,” ucap Riski dengan sangat polosnya.
David tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Riski. “Besok malam mingguan kita jalan, kita cari cewek,” ucapnya yang tersenyum.
“Boleh Bang,” ucap Riski yang mengangkat jempolnya.
“Aku pulang dulu ya Tante,” ucap David Yang kembali meminta izin.
“Iya Wa’alaikum salam,” ucap Tuti yang memandang David yang melangkahkan kakinya naik ke dalam mobil.
Tuti, Sinta, dan Riski masuk ke dalam rumah setelah mobil David menjauh dari pandangan mereka.
“Assalamu’alaikum,” ucap Sinta yang masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikum salam,” ucap Tuti. “Sini biar tante aja yang bawa ke dapur,” ucap Tuti yang mengangkat kantong yang berukuran besar tersebut.
“Iya Tante,” ucap Sinta yang memandang kotak ponsel yang ada di atas meja ruang tamu. Sinta mendekati meja dan mengambil kotak ponsel tersebut.
“Tante beli ponsel baru,” ucap Sinta memandang Tuti yang baru saja datang dari belakang.
Tuti tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Bagaimana Ponsel baru tante, baguskan, ini kameranya bersih,” ucapnya yang mengangkat jempolnya.
“Kata tante nggak ada uang kenapa bisa beli ponsel,” ucapkan Sinta.
“Kebetulan dapat uang,” ucap Tuti.
Sinta merasa ada hal yang aneh melihat sikap Tantenya kepada David. Sinta tidak mau memikirkan hal tersebut, dan kemudian masuk ke dalam kamar bersama dengan adiknya.
Sinta mundur dari pintu ketika pintunya dibuka oleh Tantenya.
“Ada apa Tante,” ucap Sinta memandang Tuti yang masuk ke kamarnya.
“Kamu baru dari rumah orang kaya, bawa makanan banyak, pasti ada uangkan,” ucap Tuti memandang Sinta.
Wajah Sinta memucat ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Tuti. “Jangan di ambil tas aku tante,” ucap Sinta ketika tasnya diambil oleh Tuti.
“Kamu diam, kamu pasti lagi ada uang,” ucap Tuti yang tidak menghiraukan Sinta.
Tuti membuka tas milik Sinta dan melihat amplop putih yang ada di dalam tas tersebut.
“Uang itu jangan diambil itu uang Riski,” ucap Sinta yang sudah mulai menangis ketika Tuti mengambil amplop yang ada di dalam tasnya.
“Kamu lupa kalau Riski dan kamu itu makan di rumah ini, tinggal di rumah ini, jadi uang ini memang untuk dia, untuk makan dan tempat tinggal dia. Tante juga butuh uang untuk membayar kontrak rumah,” ucap Tuti yang mengeraskan suaranya.
“Tapi aku minta uang itu setengahnya tante, untuk Riski,” ucapkan Sinta yang berusaha mengambil amplop di tangan Tuti.
“Dia itu masih kecil, uang apa yang dia butuhkan. Kamu mau kasih dia uang banyak, agar dia bisa main game online seperti itu,” ucap Tuti.
Sinta menangis ketika mendengar apa yang dikatakan oleh tantenya. Sinta merasa sangat bersalah kepada adiknya, mengapa dia tidak menyimpan uang itu dengan sangat baik, agar tantenya tidak mengetahui uang yang didapatnya. Sinta memandang adiknya yang memegang tangannya.
“Gak apa kak,” ucap Riski yang tersenyum.
“Tapi uang itu diberikan kak Clarissa untuk adik,” ucapnya.
“Iya kak gak apa,” ucap Riski.
“Adek kamu aja bisa ngerti masak kamu nggak," ucap Tuti yang tersenyum membuka amplop putih tersebut dan mengeluarkan uang di dalamnya.
“Banyak sekali," ucap Tuti yang tertawa dan membuang amplop kosong itu ke lantai. Tuti keluar dari dalam kamar dengan hati yang senang.
Sinta menangis ketika uang yang seharusnya milik adiknya namun diambil oleh tantenya. “Maafin Kakak Dek, Kakak nggak nyimpan uangnya dengan baik,” ucapnya dengan bibir yang bergetar.
“Nggak apa-apa kak, kita kan tinggal di sini, Kita juga makan di sini, jadi uangnya juga akan digunakan untuk membeli beras dan juga lauk untuk aku sama kakak,” ucap Riski yang terdengar sangat dewasa. Riski tidak ingin terjadi apa-apa dengan kakaknya. Walau bagaimanapun mereka tidak memiliki keluarga selain dari keluarga Pamannya.
Mendengar apa yang dikatakan adiknya membuat Sinta semakin menangis.
Riski mengunci pintu kamarnya dan memeluk kakaknya. “Aku masih ada uang kak yang di beri Mama dan Papa tadi,” ucap Riski yang mengecilkan suaranya dan mengeluarkan uang dari dalam saku celananya. “Tante pasti tidak akan yakin kalau anak kecil punya uang kak,” ucapnya yang tersenyum.
Sinta mengusap air matanya. Sinta baru mengingat bahwa adiknya tadi diberi uang oleh mama Haryati dan papa Burhan. “Alhamdulillah," ucapnya yang mengusap air matanya ketika memandang uang yang ada di tangan adiknya.
“Kita hitung kak, uang aku ada berapa? Kakak jangan sedih lagi. Nanti bila aku sudah lebih besar dan bisa mengurus diri sendiri, kita akan pindah dari sini,” ucap Riski yang membuat Sinta menangis dan memeluk adiknya.
Sinta menghitung uang yang diberikan oleh papa Burhan. Sinta tersenyum memandang adiknya. “Satu juta dek, alhamdulillah," ucapnya.
“Kak, ini sangat banyak. Aku bisa beli sepatu dan tas,” ucapnya.
Sinta tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Kakak juga boleh beli baju dan juga sepatu,” ucap Riski.
Sinta tersenyum dan membuka amplop putih yang diberikan mama Haryati. Sinta menghitungnya. “Alhamdulillah dua juta dek," ucapnya yang berbicara dengan berbisik di telinga adiknya.
“Alhamdulillah kak, rezeki kita,” ucap Riski yang tersenyum.
“Kakak simpan aja uang ini ke rekening, dan untuk beli tas sama sepatu aku aja yang jangan disimpan,” ucap Riski.
Sinta memandang adiknya dan kemudian menganggukkan kepalanya.
“Mulai sekarang kita harus punya tabungan Kak,” ucap Riski.
Sinta menganggukkan kepalanya. Sinta tidak menyangka bahwa pikiran adiknya begitu sangat jauh ke depan.
****

Komentar Buku (279)

  • avatar
    JaneKomang

    bagus dan menarik

    02/07/2025

      0
  • avatar
    ramdaniapit

    bagus

    05/05/2025

      0
  • avatar
    Isyam

    baguss

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru