logo text

Bab 23 JANGAN DILIHAT

“Kamu lihatkan betapa beraninya Wanita itu!” Ucap Zayn.
Ratu tidak menjawab ucapan Zayn, dalam hatinya dia merasa sangat sedih melihat pemandangan itu. Walau dia sudah tau jika Erlang memang selingkuh namun selama ini dia tidak pernah melihat langsung bagaimana mereka dekat dan saling berhubungan.
Ratu memalingkan wajahnya dari layar laptop yang sedang dilihat, sedikit menarik nafas panjang lalu kembali melihat aksi Suaminya yang membuat dia sangat sakit hati. Zayn terus memperhatikan reaksi dari Ratu, dia ingin melihat bagaimana Wanita itu melihat langsung Suaminya bermain api dengan Wanita lain.
Erlang melipir disisi jalan, karena Serli yang terus mengganggu dirinya. Jalan kebetulan saat itu sepi, dengan kaca yang gelap mereka bisa melakukan apapun disana tanpa takut dilihat orang. Apa yang mereka lakukan membuat Ratu muak, Ratu merasa jijik melihat kelakuan Suaminya yang tidak punya moral itu.
Sampai saat ini Ratu tidak habis pikir dengan Serli, dia tahu jika Serli selalu iri dengan dirinya tapi dia tidak menyangka jika Serli akan sampai sejauh itu. Yang dilakukan Serli dan Erlang sudah sangat membuat hati Ratu hancur, matanya mulai berkaca-kaca walau dia tadi langsung memalingkan wajah, tapi otaknya merekam sedikit apa yang dilakukan tadi ditambah dengan pikirannya yang menambah kemesraan mereka di bayang kepala Ratu.
"Awas aja kalau kamu nangis!" Ancam Zayn saat melihat wajah Ratu yang mulai merah menahan tangisnya.
Ratu beranjak dari duduknya dan berdiri didepan kaca dan melihat keluar jendela, pandangannya jauh kedepan dengan tatapan kosong. Zayn menghela nafas melihat Ratu, kesedihan mendalam sedang dirasakan Wanita itu. Ditengah masa berkabung dia masih harus dapat cobaan yang membuat hidupnya semakin terpuruk dalam kesedihan.
Bukan hanya ditinggal buah hati tercinta, dia juga harus mempersiapkan diri untuk ditinggal oleh Suami. Sosok yang seharusnya memberikan dia rasa nyaman, menghibur dirinya saat dia membutuhkannya karena ditinggal buah hati tersayang.
Zayn menutup benda pipih yang sedang dipegangnya, dia berdiri dan menghampiri Ratu. Dari arah belakang Zayn memeluk Ratu, membuat Ratu sedikit terkejut dengan tindakannya.
"Zy apaan sih, lepaskan!" Seru Ratu seraya sedikit meronta.
"Aku gak mau lihat kamu sedih Bee, jangan sia-siakan air mata kamu untuk mereka," ucap Zayn.
"Aku masih gak habis pikir Zy, kenapa aku seperti ini, kenapa mereka tega melakukan itu sama aku, hancur banget jujur rasanya, sakit," ungkap Ratu lirih.
Zayn membuat tubuh Ratu balik arah sehingga mereka saling berhadapan, mata sejuk Ratu yang selalu bisa membuat Zayn merasa teduh jika melihatnya, kini ada kesedihan dan luka yang mendalam terlihat jelas oleh Zayn. Dia sungguh tidak bisa melihat kesedihan itu ada dalam diri Wanita yang sangat dicintainya.
"Jangan sampai aku melihat ada air mata di mata indah ini." Ucap Zayn.
Tangannya membelai lembut wajah Ratu, dengan pasrah Ratu meletakkan wajahnya di telapak tangan kekar Zayn. Wajah sedih itu diapit Zayn, mereka saling tatap dan saling mendekat hingga jarak mereka setengah jengkal Ratu tersadar akan sesuatu. Dia menjauhkan wajahnya yang sudah terlalu dekat dengan Zayn, namun Zayn menahan wajah itu dalam apitan kedua tangannya.
"Kenapa, kamu mau menolaknya!" Ucap Zayn.
"Iya, karena sampai saat ini aku masih menjadi istri E …," jawab Ratu yang langsung diputus ucapannya oleh Zayn.
Zayn memberikan lumatan dengan sedikit kasar, karena dia tidak mau Ratu menyebut nama Erlang. Zayn sedang tidak ingin mendengar nama itu, apalagi saat dirinya sedang bersama Ratu. Zayn hanya ingin ada mereka berdua, Zayn hanya ingin ada nama dia di bibir serta kepala Ratu saat ini.
Lumatan itu perlahan melembut, cengkraman Ratu yang keras di kerah baju Zayn perlahan mengendur. Matanya ditutup pelan untuk bisa menikmati rasa dari Zayn, Ratu membiarkan dirinya terbuai dalam rasa itu. Rasa yang dahulu pernah menjadi candu untuknya, rasa yang pernah hilang.
Serli dan Erlang pindah ke bagian belakang, agar mereka bisa leluasa untuk saling mendekat. Tautan panas mereka lakukan, Serli terlihat begitu bersemangat dan sangat bergairah. Perlahan dia duduk diatas pangkuan Erlang, menuntun tangannya untuk melepaskan sedikit kancing kemeja miliknya agar buah dadanya terlihat juga bisa dimainkan oleh Erlang.
Tautan panas terus berlangsung dengan Erlang yang membuka satu persatu kancing kemeja Serli, seperti apa yang Wanita itu mau. Tautan panas serta gerakan gemas membuat keduanya seakan lupa saat ini mereka berada dimana, tautan dilepaskan Erlang karena dia ingin bermain di dua gundukan besar milik Serli yang berada tepat di depan wajahnya.
Bagian tubuh yang sangat menggoda itu tidak mungkin mau dilewatkan Erlang begitu saja disetiap permainan kecil atau besar. Beberapa tanda diberikan Erlang disana, lidah Erlang dengan sangat lincah memainkan benda kecil di ujung gunung besar Serli. Tangan Serli menyusup diantara rambut rapi Erlang, desah pendek Serli terdengar manja.
Tubuh Wanita itu bergerak meliuk tak tentu arah, menerima sentuhan yang membuat desiran aneh di sekujur tubuhnya. Dengan pakaian yang setengah terbuka, Serli semakin bergairah sama seperti Erlang yang sepertinya sudah tidak bisa menahan semua hasratnya.
Suara sirine mobil polisi terdengar oleh telinga Erlang, dia segera menghentikan semua gerakannya dan meminta Serli untuk merapikan diri. Erlang bergegas merapikan diri dan pindah ke kursi kemudinya, sementara Serli masih berada di belakang saat satu jendela kaca diketuk seseorang.
Erlang membuka perlahan jendela depan, lalu menyapa ramah polisi yang mendatanginya dan bertanya kenapa dia berhenti di sisi jalan.
"Iya Pak maaf, tadi saya terima telepon lebih dahulu, karena saya takut jika lanjut sambil menyetir nanti gak konsen soalnya saya gak bawa handsfree," ungkap Erlang.
"Seperti itu Pak, baiklah. Bapak mau melanjutkan perjalanan ke daerah mana, apa Bapak dari mau keluar kota?" Tanya polisi itu.
"Tidak Pak, kami baru saja pulang kerja dan saat ini mau langsung menuju arah pulang," jawab Erlang.
Percakapan singkat berakhir, Erlang menghela nafas lega begitu pula dengan Serli yang ada di belakang, setelah jendela tertutup Erlang langsung menyalakan mesin dan kembali melaju arah pulang. Serli perlahan pindah kembali ke depan setelah menjauh sedikit dari para polisi jalan, dia tertawa geli karena kejadian tadi.
Kejadian tadi membuat jantung mereka berdetak kencang dan sedikit merasa tegang, namun setelah semua berjalan lancar mereka tertawa geli karena ulah mereka hampir diketahui pihak berwajib.
"Kalau tadi kita gak cepat, bisa-bisa kita dibawa ke polsek Ser," ucap Erlang.
"Iya, duh aku gak bisa bayangin kalau kita harus mendekam di penjara walau hanya semalam, mengerikan," jawab Serli sambil menggidik ngeri membayangkan dia dalam bui.
"Aku langsung antar kerumah kamu yah."
"Nggak mau, aku mau pulang kerumah kamu," rengek Serli.

Komentar Buku (130)

  • avatar
    billaaa

    bagus sekali cerita nya

    28d

      0
  • avatar
    ManaluSarido April

    saya sangat senang membacannya

    28/08

      0
  • avatar
    Nurkahfi Cahyadi

    sangat bagus

    01/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru