logo text

Bab 12 ADA YANG BERBEDA

Zayn meraih ponsel milik Riska, lalu dia melihat rekaman yang berhasil didapatkan oleh wanita itu. Mereka bicara apa yang selanjutnya yang akan mereka rencanakan, Zayn juga menanyakan apa rekaman ini sudah sampai ke tangan Ratu. Riska menjawab belum, dia dan Ica mempertimbangkan keadaan Ratu saat ini.
Malam itu mereka banyak berbincang, dan semua itu tentang satu orang yang mereka sayangi namun dalam arti yang berbeda, Ratu. Beruntung banyak yang menyayangi dirinya, disaat dia merasa terpuruk dengan kehidupannya, tanpa disadari Ratu ada orang yang siap siaga berada di belakangnya.
"Makasih atas semua informasi Ris," ucap Zayn.
"Sama-sama, gua berharap banyak sama lo," tukas Riska.
"Please jangan, soalnya kalau nanti kamu kecewa aku gak tahu bagaimana caranya buat kamu adem kembali," gurau Zayn.
"Karena itu jangan sampai gua kecewa, oke!" Paksa Riska yang membuat Zayn gelengkan kepala.
Setelah mereka merasa selesai dengan semuanya, mereka memutuskan untuk berpisah karena malam sudah semakin larut. Riska sangat berharap bila pria itu bisa mengeluarkan Ratu dari kehidupannya yang sekarang.
Pukul dua belas malam, hampir semua tamu sudah pulang, Erlang sudah merasa sangat pusing karena menahan ngantuk cukup lama. Paman Ratu melihat wajah lelahnya Erlang, dia kemudian menyuruh Erlang untuk beristirahat.
Dengan langkah gontai dan pandangan yang mulai samar Erlang masuk kekamar, dia melihat Ratu yang sudah tertidur pulas kemudian dia merebahkan tubuhnya di sisi Ratu dan tidur karena lelah.
Pagi hari pukul lima Ratu sudah membuka mata, dia sedikit terkejut karena melihat Erlang yang sedang tertidur pulas di sisi-nya. Mungkin semalam dia sudah terlelap jadi tidak menyadari kedatangan Erlang yang tidur bersamanya semalam.
Perlahan Ratu beranjak dari tempat tidur itu agar Erlan tidak terbangun, kemudian dia pergi untuk membersihkan diri dan membantu membersihkan rumah. Mamah dan Ratu sudah sibuk dari pagi hari, Papa juga biasa bangun pagi jadi dia ikut membantu Mamah dan Ratu merapikan sisa para tamu yang semalam hadir.
Setelah itu mereka sarapan, sampai mereka selesai sarapan Erlang masih juga belum memperlihatkan batang hidungnya. Ratu membiarkan hal itu, namun Mamah minta agar Ratu membangunkannya, dengan sangat terpaksa dia beranjak dan melangkah malas ke dalam kamar untuk membangunkan Erlang suaminya.
"Mas bangun mas," seru Ratu sambil menggoyangkan sedikit tubuh Erlang. "Mas bangun sudah siang, sudah jam sembilan nih," gerutu ny sedikit kesal karena Erlang susah sekali bangun.
Erlang menggerakkan tubuhnya, kemudian berkata dengan suara berat bangun tidur, "Baru jam sembilan Ra, aku libur kerja,"
"Terserah, kalau kamu mau tidur pulas disana dirumah, ini gak enak sama kedua orang tuaku Mas, bangun, bantu apa gitu, jangan seperti ini lah," cerocos Ratu yang membuat Erlang jadi kesal.
"Bawel banget sih kamu, iya aku bangun, siapin saja sarapanku," rengeknya.
"Sudah siap Mas semuanya," ketusnya, lalu Ratu meninggalkan Erlang, dia merasa malas untuk berdekatan dengan pria yang masih menjadi suaminya itu.
Ratu menghela nafas kasar, dia merasa tidak enak hati membangunkan suaminya seperti itu karena biasanya dia membangunkan Erlang lembut tidak kasar seperti tadi, "Maafkan aku Mas, saat ini aku malas melihat muka kamu dan berdekatan, setelah aku tau apa yang kamu lakukan padaku."
Hampir Ratu mengeluarkan air matanya, namun dengan cepat dia menahan air mata itu keluar dengan mendongakkan kepalanya dan menarik nafas panjang. Dia sudah berjanji dalam hatinya jika dia harus kuat, dirinya harus terus kuat untuk kedua orang tuanya kali ini, karena Al sudah tidak ada menemani hatinya yang sekarang menjadi sepi.
Sudah dua hari yang berada di rumah itu, dan selama itu juga dia merasakan jika Ratu sangat berbeda. Biasanya Ratu akan terus berada disisinya kalau dia sedang merasakan sedih, apalagi di saat seperti ini tidak mungkin dia bisa jauh dari dirinya pikir Erlang.
Namun saat ini Ratu seperti menjadi wanita yang lain, Erlang seperti melihat Ratu yang berbeda. Ratu memang memenuhi semua kebutuhan Erlang di rumah itu, namun sikapnya berbeda, Erlang berpikir jika itu karena dia sedang merasakan kesedihan, namun lambat laun dia merasakan bila semua bukan karena hal itu.
Malam ketiga Erlang sengaja membangunkan Ratu, dia ingin mengajak Ratu bicara, karena selama ini mereka hanya membicarakan masalah keperluan sehari-hari acara Al.
"Ada apa Mas," jawab Ratu saat dia terbangun karena dibangunkan Erlang.
"Aku ingin bicara Ra, besok aku sudah mulai bekerja, dan bukannya kamu juga yah," ujar Erlang.
"Iya Mas, tapi aku sudah ijin minta satu hari lagi gak masuk, aku masih malas, capek,"
"Gitu, ya sudah nanti biar aku yang bilang lagi saat aku masuk besok," ucap Erlang, "Ra, aku kok ngerasa beberapa hari ini kamu berubah sikap sama aku, apa kamu masih marah karena hari itu!"
"Sudah lah Mas jangan dibahas masalah hari itu," sela Ratu lalu kembali merebahkan tubuhnya.
"Aku bener-bener minta maaf atas hal itu Ra,"
"Iya Mas, lagi pula memang itu sudah jalannya Al, aku juga sudah merasa lebih baik sekarang, aku sudah coba untuk lebih ikhlas lagi menerima kepergian Al yang begitu cepat, jadi sudah yah jangan dibahas, aku takutnya nanti malah kesedihanku kembali," pinta Ratu, karena jujur dia masih baru mau mengikhlaskan, jadi belum bisa ikhlas benar, jika ada yang sedikit saja membicarakan Al, spontan dia akan merasa sedih.
Erlang menghembuskan nafas panjang, dia lalu merebahkan tubuhnya di sisi Ratu, perlahan Erlang lebih mendekat lalu memeluk Ratu. Mata Ratu membulat sempurna saat dirinya mendapat pelukan dari Erlang, pria itu menyandarkan kepalanya di punggung Ratu seraya berbisik, “Maafkan aku.”
“Sudah lah Er, jangan ucapkan itu lagi,” pinta Ratu.
“Tapi aku sungguh menyesal, aku tidak bisa ada disaat Al sedang bertahan hidup, dan kamu sedang berusaha untuk membuat Al terus bertahan,” lirih Erlang, Ratu merasa jika saat ini Erlang sedang menangis, namun dia membiarkannya. “Aku sangat terkejut saat mendengar hal itu, hatiku juga hancur, aku sempat mengeluh pada Tuhan dalam perjalanan kesini kala itu, kenapa Al yang baru diberi harus cepat diambil, baru sebentar aku merasakan jadi seorang Ayah,” timpalnya, saat itu Ratu juga bisa merasakan kesedihan yang Erlang rasakan saat ini.
‘Aku lupa jika Erlang juga Ayah Al, dia juga merasakan kesedihan yang sama denganku, dia juga sangat menyayangi Al sama denganku.’ Batin Ratu.
Mata Ratu mulai berkaca-kaca, Ratu coba tahan air mata yang hendak keluar itu. Tapi dia tidak bisa, beban yang dirasakannya dirasa cukup berat saat ini. Ratu membalikkan tubuhnya, lalu dia menyusup kedalam tubuh Erlang dan dengan hangat Elang menyambut serta memberikan pelukan hangatnya.

Komentar Buku (130)

  • avatar
    billaaa

    bagus sekali cerita nya

    25d

      0
  • avatar
    ManaluSarido April

    saya sangat senang membacannya

    28/08

      0
  • avatar
    Nurkahfi Cahyadi

    sangat bagus

    01/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru