“Maafkan aku Ra.” Erlang memeluk Ratu sangat erat, dalam pelukannya itu dia juga menangis, Erlang sudah tidak bisa menahan Air matanya, dia menangis menyesali semuanya, menyesal kenapa disaat anaknya itu sedang dalam keadaan sulit dia tidak ada disampingnya, kenapa di saat anaknya berjuang untuk bertahan hidup dan istrinya yang berjuang untuk mempertahankan hidup anaknya dia tidak ada untuk mereka. Erlang terus menangis sambil mengucap maaf, sedangkan Ratu tidak bisa mengucap apapun, dia hanya bisa menangis melihat suaminya. Orang tua serta beberapa orang yang ada disana menjadi terharu melihat Erlang, mereka merasa kasihan pada pria yang baru saja menjadi Ayah tapi dalam waktu yang singkat dia sudah tidak menyandang nama itu lagi. Di antara wajah-wajah sedih itu ada dua wajah sinis melihat ke arah Erlang, wajah yang menatapnya dengan penuh rasa kebencian. Bukan kata kasihan atau haru yang terdengar dari bibir mereka, namun kata sinis juga kata geramnya mereka melihat air mata palsu Erlang saat ini. “Dasar lelaki gak tau diri, penipu. Bisa sekali dia memainkan drama ini, ngeliat mukanya aja gua udah pengen jambak rasanya,” geram Ica sambil menatap nanar. Senyum menyeringai terlihat di wajah sangar Riska, “Lihat aja nanti, apa yang akan gua lakukan buat lelaki macam itu, apalagi dia udah main-main sama temen gua, kalau dia berani sama temen gua, berarti dia juga udah nyenggol gua,” tukas Riska yang juga menatapnya tajam penuh kebencian. Para tamu sudah mulai sepi, setelah kejadian yang mengharukan itu Erlang bicara pada kedua orang tuanya kemana dia dan apa yang sudah dia lakukan selama tidak bisa dihubungi. Dia juga mengungkapkan rasa penyesalannya, karena disaat dirinya dibutuhkan dia malah tidak ada ditempat dan susah untuk dihubungi. “Kamu jelaskan semua pada Ratu, dia sangat terpukul, seperti yang kamu bilang tadi, disaat dia butuh seorang suami disisinya dia tidak menemukan itu,” “Iya Lang, dia sangat terpuruk, kami tahu dan mengerti kalau kamu juga mempunyai perasaan yang sama hancurnya seperti Ratu, tapi kamu adalah suami juga pelindungnya, beri dia kenyamanan selama dirinya dalam keadaan seperti ini, beri dia dukungan, kamu harus lebih kuat dari Ratu karena kamu adalah pemimpinnya,” “Iya Pah, aku akan melakukan itu semua, sekali lagi maaf kan aku,” ucap Erlang penuh penyesalan. Malam itu Papah serta Mamah Erlang pamit, Erlang dan Ratu akan tinggal disana sampai malam yang ketujuh. Setelah kedua orang tuanya pamit, Riska dan Ica berniat berpamitan, mereka berbincang sebentar dengan Ratu. “Assalamualaikum,” ucap seseorang membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya. ‘Wanita jalang!’ sinis Riska saat dia melihat siapa yang baru saja mengucap salam. ‘Dasar cewek gila, masih gak punya malu dia datang kesini!’ benak Ica dengan tatapan nanar. Erlang merasakan keterkejutan yang sama dengan dua wanita itu, dia juga tidak menyangka bila Serli akan datang ke tempatnya saat ini. Hanya beberapa orang yang menjawab salam Serli, Ratu hanya diam dan melihat wanita itu yang terus melangkah mendekati dirinya. Ratu mencoba menahan semua emosinya saat ini, dia hanya menatap wajah temannya itu dengan wajah datarnya, ‘Ternyata dia masih bisa datang untuk menghormati aku, apa dia sengaja ingin mengejek dengan memperlihatkan rasa simpatinya padaku.’ geram Ratu dalam hatinya. Serli langsung memeluk tubuh Ratu seraya mengucap kata belasungkawa, Ratu diam mematung, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya seutas senyum tipis terlihat diwajah datarnya sambil memandang Serli dengan tatapan penuh arti. Erlang memperhatikan bagaimana dua wanita yang saat ini berada dalam kehidupannya saling berpelukan, sesaat dia lupa bila wanita yang sedang bermain api dengannya itu adalah sahabat dari istrinya. Ada sedikit rasa bersalah di diri Erlang saat melihat kedua wanita itu, apalagi pada Ratu. Ratu hanya diam tidak bereaksi apa-apa, melihat hal itu Mamah menghampiri Serli dan mengucap kata terima kasih karena sudah datang memberikan penghormatannya pada Al. “Maaf Ser, saat ini Ratu sangat terpukul, dia hanya bisa menangis dalam diamnya,” ujar Mamah sambil mengajak Serli menjauh dari Ratu. Wanita itu tersenyum ramah, “Iya Mah aku mengerti, kasihan Ratu, baru juga dia mendapatkan Al, tapi sudah diambil lagi sama Tuhan,” ucap Serli. Dua sahabatnya langsung , mendekat saat mereka melihat Serli dijauhkan oleh Mamah, mereka memeluk Ratu mencoba memberikan support padanya. Mereka terus memperhatikan wanita itu, setelah berbincang dengan Mamah, Serli dengan tanpa ragunya menghampiri Erlang dan mengucap belasungkawa. Decak sinis keluar dari bibir serta wajah Riska dan Ica, melihat dua orang yang penuh kebohongan itu. Ratu menundukkan kepalanya, dia jujur saat ini sangat rapuh, apalagi Erlang dan Serli masih mengira kalau perbuatan mereka itu tidak diketahui olehnya, jadi mereka bisa bersikap seperti biasa. “Aku pulang Lang,” ucap Serli setelah beberapa menit mereka berbincang. “Iya Ser, maaf aku tidak bisa mengantar kamu ke depan,” “Iya gak masalah, aku ngerti kok. Aku akan terus mengerti kamu Er,” sahut Serli sambil memberikan senyuman manisnya pada Erlang. Saat mereka berpamitan ada seseorang yang kembali datang, dan kedatangan orang itu tidak ada yang menyadarinya, Serli serta Erlang sedang berpamitan, Riska, Ica sedang memberikan kekuatan pada Ratu. “Ratu!” tegur seseorang yang bersuara berat dan spontan membuat tiga wanita itu menoleh ke arahnya. Pria dengan tubuh tinggi kekar juga wajah tampan blasteran timur tengah membuat tiga wanita itu terpesona. “Zayn!” seru Ratu dengan wajah terkejutnya karena kedatangan pria tersebut. Mendengar namanya disebut Ratu pria itu langsung tersenyum, ada rasa senang dalam dirinya karena ternyata Ratu masih mengingatnya. Riska dan Ica saling pandang, karena mereka tidak mengetahui siapa pria yang membuat mereka terpesona itu. “Aku senang kamu masih bisa mengingat aku Bee,” ucap pria itu yang membuat dua teman Ratu merasa asing dengan panggilan itu, “Maaf sebelumnya, tapi aku datang kesini karena mendengar kabar duka tentang anakmu, aku turut berduka cita,” timpalnya. Ratu tersenyum tipis dan mengucap kata terima kasih, Ratu merasa tidak nyaman berbincang dengan Zayn karena ada Riska dan Ica. Ratu memperkenalkan Zayn pada mereka, Zayn dengan hangat menyapa dua teman Ratu itu lalu mereka sedikit berbincang. Zayn dapat banyak pertanyaan dari Ica dan Riska, Ratu merasa tidak enak melihat kedua temannya seperti itu, dia sudah memperingatkan jangan seperti itu, namun kedua temannya itu malah cuek dengan ucapan Ratu, sampai pada akhirnya Riska memberikan pertanyaan yang membuat Zayn dan Ratu saling tatap. “Sorry kepo Zayn, kamu mantannya Ratu?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekali cerita nya
29d
0saya sangat senang membacannya
28/08
0sangat bagus
01/03
0Lihat Semua