Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Naya melalui hari-hari damainya di rumah Irham. Di rumah Irham terdiri dari tiga anggota keluarga, ada Irham, Alina dan juga Alisa–gadis kecil buah hati mereka. Untunglah Naya tidak terlalu kesepian karena ada mereka. Apalagi Alisa sangat menggemaskan. Di usianya yang baru menginjak lima tahun, Alisa tumbuh dengan baik. Tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sejenak Naya merasa iri dengan kehidupan Alisa, dalam benaknya Naya bertanya-tanya, akankah anaknya kelak akan tumbuh ceria seperti Alisa di saat hanya ada ibunya yang membesarkannya. Ketakutan akan ketidak mampuannya membesarkan anaknya kelak, selalu menghantui Naya. Apalagi jika kelak dia ditanya oleh anaknya di mana ayahnya berada, mau bagaimana Naya menjawabnya? Tidak mungkin Naya menceritakan semua pada anaknya. Naya takut akhirnya anaknya akan membenci ayahnya sendiri. Apakah Naya sanggup menghadapi pertanyaan-pertanyaan anaknya tentang ayah kandungnya? Naya menghela nafas berat, mencoba menetralkan sesak di dada. "Hai ... ngelamun aja," tegur Alina mengagetkan Naya. "Eh Mbak Alina, ada apa Mbak?" sahut Naya. "Nggak ada apa-apa, Nay. Kamu lagi ngelamunin apa sih, Nay? Sampai kaget gitu Mbak sapa," tanya Alina penasaran. "Aku nggak ngelamunin apa-apa kok, Mbak," jawab Naya berbohong. "Ah kamu gitu, Nay. Kamu itu tidak pandai berbohong, jadi jangan coba membohongi Mbak, ya," ucap Alina dengan mengerucutkan bibirnya. "Maaf, Mbak. Aku cuma merasa iri saja pada Alisa, yang bisa merasakan keutuhan keluarga. Aku takut, Mbak. Aku takut tidak bisa membesarkan anakku dengan kasih sayang yang utuh," ucap Naya sendu. "Jangan khawatir, Nay. Aku dan Abangmu tidak akan membiarkan anakmu kekurangan kasih sayang. Kita pasti akan merawatnya bersama-sama." Alina menggenggam tangan Naya, mencoba meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. "Terima kasih, Mbak. Jika tanpa kalian, tentu aku sudah tidak punya siapa-siapa." Naya berucap dengan mata berkaca-kaca. "Sudah, ibu hamil dilarang sedih. Nanti dedeknya ikutan nangis," ucap Alina menggoda Naya. Naya pun tersenyum menanggapi godaan Alina. Untunglah Irham memiliki istri sebaik Alina. Orangnya sangat lembut penuh kasih sayang. Tapi Naya melihat akhir-akhir ini, Alina terlihat pucat sekali. "Apa mungkin Mbak Alina sedang sakit?" batin Naya. "Mbak, kulihat akhir-akhir ini, wajah Mbak terlihat pucat," ucap Naya pada Mbak Alina. "Oh, aku hanya kecapekan saja, Nay. Mungkin setelah istirahat, aku akan membaik lagi," jawab Alina dengan tersenyum hangat. "Jangan terlalu capek, Mbak. Jaga kesehatan, Mbak." "Iya-iya. Oh iya, kandunganmu sudah mendekati waktu melahirkan, ya? Bakal ketemu dokter ganteng lagi, nih," goda Alina mencoba mengalihkan pembicaraan. "Apa sih, Mbak. Biarpun ganteng mana mau sama janda mau punya buntut satu," jawab Naya sekenanya. "Ya, maulah. Jandanya cantik gini. Lagian Mbak lihat, Dokter Arya tertarik sama kamu. Dari tatapan matanya yang penuh dengan kelembutan," ucap Alina dengan tawa yang tertahan. Ya, Dokter Arya yang sama yang pernah merawat Naya saat dia terluka oleh Hanan. Beberapa waktu yang lalu dia dipindah tugaskan di rumah sakit tempat Naya periksa selama pindah dengan Irham. Saat pertama bertemu kembali Naya terkejut akan kehadirannya. Padahal sudah lama sekali dia tidak bertemu dengannya, semenjak di restorannya dulu. "Mbak jangan begitu, nanti kalau terdengar Dokter Arya, aku yang malu, Mbak. Dikiranya aku berharap padanya, aku ingin fokus pada kelahiran anakku dulu, Mbak." "Tidak apa-apa, Nay. Sah-sah saja jika Dokter Arya menjadi jodohmu. Cobalah buka hatimu, Nay. Barangkali Dokter Arya bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk anakmu." "Jangan ngelantur, Mbak. Mana level aku dengan Dokter Arya yang sempurna itu," ucap Naya mulai kesal dengan Alina. "Mana tahu, Nay. Nasib, jodoh dan ajal kita, semua hanya Allah yang tahu. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa, Nay," ucap Alina membuat Naya termenung. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, biarkan semua mengalir mengikuti jalannya. Mbak mau menyuapi Alisa dulu, sudah waktunya dia makan. Kamu jangan banyak stres menjelang melahirkan ya, Nay." Alina bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Naya pun hanya mengangguk menanggapi ucapan Alina. Memang benar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu, semua hanya Allah yang tahu. Kita sebagai manusia hanya mengikuti jalan takdir masing-masing. Naya beranjak bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar, dia merasakan perutnya sedikit mulas. Naya bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum sampai di kamar mandi, dia terkejut saat melihat air ketubannya mulai membasahi baju yang dia pakai. Segera Naya berteriak memanggil Alina. "Mbak ... Mbak Alina. Tolong aku," teriak Naya memanggil Alina. "Ada apa, Nay?" tanya Alina begitu mendengar teriakan Naya. Alina masuk, diikuti Irham yang menggendong Alisa. Raut khawatir terlihat jelas di wajah mereka. "Astaghfirullah, Nay. Kamu sudah mau melahirkan," seru Alina panik setelah menghampiri Naya. "Mas, turunkan Alisa. Cepat kamu bawa Naya ke rumah sakit," ucap Alina kepada Irham. Irham bergegas menurunkan Alisa dari gendongannya dan meraih Naya dengan kedua tangannya. wajah Irham panik melihat sang adik merintih kesakitan. "Tahan, Nay. Abang akan segera membawamu ke rumah sakit," ucap Irham pada Naya. Alina berlari tergopoh-gopoh dengan menggendong Alisa dan membawa tas yang berisi perlengkapan bayi. Irham membopong Naya masuk ke dalam mobil, setelah mendudukkan Naya di kursi mobil, Irham dan Alina pun menyusul masuk ke dalam mobil. Irham mulai mengemudikan mobil dengan cepat menuju rumah sakit. Selang lima belas menit mereka pun sampai di rumah sakit. Kembali Irham membopong Naya masuk ke dalam rumah sakit dan berteriak memanggil dokter. Sementara Naya hanya bisa merintih menahan sakit teramat sangat. Dia harus bisa menahan rasa sakit ini demi anaknya. Akhirnya penantiannya akan berakhir, dia akan segera bertemu dengan buah hatinya. Penantian Naya yang panjang akan segera berakhir, dia akan segera melihat wajah anaknya. Wajah yang dia rindukan siang dan malam. Irham membawa Naya masuk ke ruang bersalin, setelah merebahkannya di ranjang, lalu Irham bergegas keluar untuk mengurus administrasi. "Jangan tegang, aku pasti akan membantu proses melahirkanmu dengan baik," ucap Dokter Arya begitu tiba di ruangan. Naya hanya menganggukkan kepala menanggapinya, bibirnya tak mampu mengeluarkan kata-kata karena menahan sakit. Dokter dan semua perawat mempersiapkan keperluan melahirkan Naya dengan cekatan. *** Selang beberapa jam setelah Naya berjuang, akhirnya dia mendengar suara tangisan bayi. Hati Naya lega rasanya, air mata bahagia mengalir begitu saja dari matanya. Akhirnya dia dipertemukan dengan anaknya. Setelah bayi Naya lahir, dia dibersihkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada Naya. Sedang dia yang kelelahan karena proses melahirkan pun, kalah oleh rasa bahagianya mendapatkan anugerah terindah yang selama ini dia nanti-nanti. Selang beberapa menit suster mendekat membawa bayi Naya yang sudah dibersihkan. "Selamat, anak Ibu laki-laki. Sekarang di mana Ayahnya? Biar bayinya lekas diadzani," ucap suster tersebut membuat hati Naya berdenyut nyeri mengingat Hanan. "Tolong panggilkan kakak saya, Sus." Naya pun meraih bayinya ke dalam gendongan. Dia menatap wajah tampan putranya dengan air mata yang berlinang. "Anakku, buah hatiku akhirnya Ibu bisa bertemu denganmu. Penantian panjangku tidak sia-sia, akhirnya aku bisa mendekap bayiku sendiri, permata hatiku," lirih Naya. Irham melangkah masuk ke dalam ruangan, nampak air mata menggenang di pelupuk matanya. "Sini, Nay. Abang adzani dulu bayimu," ucap Irham sembari meraih bayi Naya. Naya pun menyerahkan bayinya pada Irham. Netranya memandang haru saat Irham mengadzani sang putra. Seandainya saja rumah tangganya tidak hancur, tentu Hanan lah sekarang yang sedang menggendong anaknya dan mengadzaninya. Naya menepis pikirannya yang masih memikirkan Hanan. Biarlah kini mereka berjalan di jalan masing-masing. Hanan dengan kehidupannya dan Naya dengan kehidupannya bersama dengan anaknya. Naya berjanji akan mendidik anaknya dengan baik, agar kelak tidak akan menjadi seperti ayahnya, yang tega menyakiti hati perempuan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik
03/09/2025
0bagus
29/05/2025
0bagus bagat
28/05/2025
0Lihat Semua