Part 14

Aku pulang dengan motorku, saat sampai di halaman rumah dan aku akan memarkirkan motorku, aku mendengar suara ibu-ibu memanggilku.
"Mbak Diajeng."
Aku segera memarkirkan motorku dan mengampiri 2 ibu-ibu berbadan subur itu.
“Itu siapa yang sedang nyapu, Mbak? kalo pembantu, ‘kan gak mungkin bisa secantik itu , ya , Mbak?!” Aku melihat ke arah Charissa yang memang sangat cantik, jauh berbeda denganku. Charissa terlihat menundukan kepalanya saat aku melihat padanya, mungkin dia menyadari sedang dibicarakan.

“Mbak!”
“Jadi itu siapa?” Ingin sekali aku berbohong tentang siapa wanita itu, tapi kebohongan pasti akan ketahuan juga, 'kan. Jika di iyakan mungkin mereka akan beranggapan buruk padaku, aku yang sulit memiliki anak bisa saja disalahkan dalam hal ini. Suami yang menikah lagi pasti karena merasa kurang dengan istri pertamanya. Termasuk Bagas dan aku yang memang sulit memiliki keturunan 2 tahun kami menikah.
"Dia … madu saya, Buk."
"Hah." Kedua ibu itu terkejut sampai memegang dadanya.
"Maksudnya, Mas Bagas menikah lagi gitu, Mbak?" Aku mengangguk. Ibu-ibu itu menatap iba padaku, aku tidak suka ditatap seperti itu, tapi apalah daya nasib pernikahanku memang sangat miris.
"Yang sabar, ya, Mbak!" Aku mengangguk dan berterima kasih kepadanya. Ibu itu pamit begitupun juga aku masuk.
"Mas, Bagas nikah lagi, ya, Buk." Masih terdengar suara ibu itu berbicara.
"Mbak?" ucapnya. Aku menoleh dan tersenyum samar padanya. Aku segera masuk tanpa mau bicara padanya. Aku pikir tidak seharusnya juga aku bersikap kurang baik padanya jika Bagas masih memberikan keadilan dalam rumah tangga kami.
****
Semakin hari, sikap Bagas berubah padaku, ia lebih condong sayang pada istri keduanya daripada aku. Aku pikir karena Charissa sedang hamil makanya dia lebih diperhatikan, tetapi lama kelamaan rasa iri melingkupi hatiku. Aku menjadi pendiam di rumah karena selalu menyaksikan mereka yang selalu memperlihatkan kemesraan di depanku.
Terkadang aku juga pergi ke kontrakan Donda untuk menenangkan diri.
"Diajeng, lo kurusan, ya, sekarang?" ucap Donda saat membawa teh dan menyimpannya di tembok pembatas.
"Masa!"
"Iya, emang Lo gak ngerasain gitu,"
"Iya, sih," ucapku tersirat kepedihan di sana.
"Kalo Lo gak nyaman tinggal di rumah itu, lebih baik kamu tinggalkan saja, Jeng." Aku menunduk mendengar ucapan Donda. "Buat apa lo bertahan sementara laki lo aja sudah tidak menganggap lo." Aku selalu menceritakan keadaanku pada Donda, jadi Donda kau semuanya.
"Iya, Da. Gue pikir-pikir dulu," ucapku padanya.
Aku pulang sore hari. Aku melihat mobil Bagas sudah terparkir di depan rumah berarti Bagas dan Charissa sudah pulang terlebih dahulu.
Bagas dan Charissa akan berangkat dan pulang kantor bersama. Semua orang juga sudah tau pernikahan mereka termasuk bunda. Bunda marah pada Bagas sampai di tidak mau berkunjung lagi di hari Minggu. Bunda hanya menelponku diam-diam untuk menanyakan kabar dan menyuruhku tetap bertahan sudah 3 Minggu wanita itu tinggal di sini, tapi kekacauan sudah terlihat.
Charissa memang baik, tidak pernah ia mengadu domba atau terlihat tidak suka padaku. Hanya saja kehamilan Charissa yang membuat Bagas seakan tidak peduli lagi padaku membuat aku iri. Dan tetap saja Charissa sudah sangat bersalah disini karena sudah masuk kedalam rumah tangga orang tanpa izin istri sahnya.
Aku melihat Bagas sedang tiduran di sofa, dengan paha Charissa menjadi bantal. Tentu saja hal itu membuat aku semakin iri, di sini istri pertama Bagas adalah aku, tapi Bagas malah sangat dengan dengan istri mudanya bahkan Bagas sudah lama tidak tidur di kamarku semenjak Charissa tinggal di rumah ini.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang?" ucap Bagas saat melihatku.
"Dari kontrakan Donda." Aku berjalan cepat menaiki tangga. Biasanya aku akan mencium tangan Bagas jika Bagas pulang kantor terlebih dahulu, tapi sekarang aku malas sekali apalagi ada wanita itu di samping Bagas.
"Kalo suami ngomong itu dengerin!" teriak Bagas.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya.
"Suami … suami siapa, ya? suami pelakor itu …," ucapku sambil menunjuk ke arah Charissa. Charissa yang awalnya melihatku langsung menunduk.
"DIAJENG …," teriak Bagas.
Bagas mendekat ke arahku dan langsung menamparku. Aku memegang pipiku yang panas sambil menatap Bagas dengan sorot mata tajam.
"Aku gak nyangka kamu bisa lakukan ini padaku, Mas." Aku segera berbalik kembali melanjutkan jalanku menuju tangga.
Bagas mengikuti dan masuk ke dalam kamar bersamaku. Aku mengambil koper dari atas lemari.
"Diajeng, apa yang kamu lakukan. Aku minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya." Dengan cepat aku membuka lemari dan memasukan pakaian kedalam koper. Bagas mengeluarkan pakaianku kembali.
"Diajeng, stop! aku minta maaf Diajeng. Aku salah, aku tidak bermaksud menamparmu." Aku tidak peduli dengan ucapan Bagas. Aku langsung memasukan kembali pakaian yang sudah Bagas keluarkan meskipun berantakan tetap saja aku menutup koper itu.
"Diajeng, kamu mau kemana, di sini tidak ada keluarga kamu. Please Diajeng jangan lakukan ini, jangan tinggalkan aku." Aku berhenti sejenak dan menatap wajah Bagas yang merah.
"Aku pikir, sudah cukup selama 3 Minggu ini kamu abaikan aku, Mas. Aku menerima ketidakadilan darimu, Mas. Aku tidak ingin menerima kesakitan lagi karena tangan kamu juga ikut menyakiti pisikku, sudah cukup hatiku saja yang kamu sakiti." Bagas terlihat meneteskan air matanya saat aku bicara seperti itu. "Aku akan pergi ke tempat yang tenang."
Aku mengambil koperku dan berjalan meninggalkan Bagas yang diam membeku.
Ternyata Charissa juga ada di depan pintu menyaksikan pertengkaran kami. "Mbak, jangan pergi, Mbak. Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud masuk ke dalam rumah tangga, Mbak. Tanpa seizin Mbak." Charissa sampai memegang tanganku erat.
"Biar, saya saja yang pergi, Mbak!"
"No, you are pregnant. Harusnya kamu senang saya pergi jadi kamu bisa bebas memiliki, Mas Bagas seorang diri." Charissa menggelengkan kepalanya. Aku berusaha melepaskan tanganku dari tangan Charissa dan segera pergi meninggalkan rumah itu dengan kepahitan yang kubawa dari pasangan pengantin baru itu.
Bagas POV
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya jika Diajeng akan pergi meninggalkan rumah. Aku pikir Diajeng yang baik hati akan menerima Charissa dengan baik, tapi ternyata dugaanku salah. Diajeng justru malah meninggalkan rumah dengan marah.
Awalnya Diajeng memang sudah tidak menerima Charissa, tapihari demi hari sikap Diajeng pada Charissa semakin baik.
Aku pikir karena sikap Diajeng pada Charissa semakin baik Diajeng akan perlahan akan aku dengan Charissa karena sikap Charissa juga sama baiknya pada Diajeng. Namun, ternyata pikiranku salah. Aku selalu tidur di kamar Charissa karena Charissa yang sedang hamil selalu menginginkan sesuatu ketika malam dan Diajeng akan mengerti, tapi justru itu di anggap ketidakadilan ku padanya.

Komentar Buku (486)

  • avatar
    AdeliaKamila

    aku suka novel ini

    21d

      0
  • avatar
    Abdul Wahab

    sangat menarik dan seru

    24/08

      0
  • avatar
    GaldinoLeonardo

    Leonardo

    17/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru