logo text

39. Memilih Jihan

"Melakukan itu? Apa kau mau?" Mata tegas milik Renan begitu menguasai pergerakan Rania. Wanita itu bahkan terbuai dengan pesona tampan si pria.
"Pertanyaanmu konyol, apa aku harus menjawabnya?" Rania bertanya untuk menetralisirkan rasa gugupnya yang kelewat batas. Entah mengapa jika Renan dalam mode seserius ini, Rania
Renan menganggukkan kepalanya dengan santai dan mantap. Dia membutuhkan jawaban dari pertanyaannya itu. Ayo Rania, kabulkan.
"Mau dengar jawaban apa? Masa aku bilang tidak mau melakukannya di saat sudah menikah," jawab Rania dengan suara lembutnya. Tangannya bergerak menyisir rambut Renan ke belakang.
Lagi, Renan tersenyum lebar mendengar jawaban wanitanya. Kini, tangannya menahan punggung Rania yang sedang berposisi menyamping dan berhadapan dengannya.
"Buna, Handa ingin anak-anak yang lucu seperti Enan kecill dan akak Anya."
"Hm …," Rania menarik satu alisnya untuk terangkat. Bukankah sangat lucu jika ada satu Enan kecil dan satu Anya kecil? Uh, pasti akan sangat menggemaskan.
"Ingin membuat sekarang?"
***
Di tempat lain, ada dua sosok pria yang sedang merenungi nasib dan salah satunya berpikir untuk menyudahi rencananya yang sudah tersusun rapi sejak awal hanya karena wanita yang membuatnya tertarik.
"Aku mengundurkan diri, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan."
"Kau gila? Balas dendammu semakin di depan mata. Haru Atmadja akan benar-benar hancur sebentar lagi," ucap Brian yang menatap dinding kamar ruangan mereka. Dia tidak rela jika teman seperjuangannya menyerah seperti ini, bukan itu yang di mau olehnya. Pasti, orang-orang penghianat seperti mereka akan mendapat ganjaran yang setimpal.
"Aku menyakiti Irene," ucap Yogi dengan memijat pelipisnya, dia miris dengan kelakuannya yang seperti setan. Bisa-bisanya menduakan wanita yang selama ini selalu menjadi support system untuknya.
"Salah kau sendiri menyentuh Jihan," hardik Brian cepat. Dia juga tahu tentang hubungan terlarang itu dan berharap Yogi cepat sadar dan tidak terjerumus semakin dalam ke dalam lubang neraka itu.
"Lelaki memang tidak pernah puas hanya dengan satu wanita dan aku benci diriku yang seperti ini," jawab Yogi dengan jujur tanpa membela diri. Dia sadar sekali, perbuatannya memang tak layak dimaafkan. Tapi, dia tetap ingin Irene memaafkan kesalahannya.
"Aku tidak suka punya dua wanita, itu merepotkan. Jika tidak siap, tanganku terbuka lebar untuk bertanggung jawab menjaga Irene."
"Mau mati kau!" ucap Yogi dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Mana sudi dirinya melihat Irene diambil oleh Brian. Wah, tebasan pedang melayang di leher Brian nantinya.
"Ya kau, tolol! Ayah Jihan sama bejatnya dengan Haru Atmadja. Jihan juga terlibat dalam permainan ini, ingat ayah dan ibumu mati oleh Haru Atmadja dan si tua bangka itu!" lontar Brian mengingati Yogi untuk segera sadar siapa Jihan sebenarnya.
"Aku kasihan pada Jihan, jujur hatiku tidak ingin dia terluka. Aku rasa, aku benar-benar menyayangi gadis itu," ungkapnya. Kembali, ia menjadi bimbang antara Irene dan Jihan. Yogi sama-sama ingin melindungi keduanya jika boleh. Nyatanya, itu tidak bisa … hanya satu yang boleh dipilih.
Brian langsung terduduk seketika. "Kau sinting! Beraninya kau berbicara seperti itu! Lepaskan saja Irene, dia berhak mendapatkan laki-laki yang hanya fokus mencintainya, bukan yang bermulut manis dan banyak janji sepertimu!" makinya lagi pada sahabat bajingannya ini. Benar-benar laki-laki yang tidak pernah bersyukur dengan wanita yang setia seperti Irene.
"Irene adalah bagian hidupku," kilah Yogi. Memang laki-laki ini selalu labil. Jelas, Irene adalah bagian hidupnya, dia tidak akan pernah lupa siapa yang menemaninya dari 0.
"Kau ini bagaimana sih?" Brian menjadi jengkel pada sahabatnya itu. Sungguh, sulit dimengerti jalan pikirannya.
"Aku menyayangi Jihan"
Wah!
Brian mengusap wajahnya dengan kasar, sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Yogi.
"Benar-benar tidak waras dan sinting!"
"Karena Irene bagian hidupku, itu artinya dia akan selalu terasa dekat dengan hatiku," timpal Yogi lagi memuji Irene. Yogi sepertinya sangat bergantung pada Irene, namun hatinya sedang berkelana dan tertarik pada tuan putri seperti Jihan. Hatinya jelas tahu kemana seharusnya ia berlabuh tanpa perlu mendayung lebih jauh.
"Ehm, Lalu?" Brian sempat berdehem kecil dan kepo pada ucapan Yogi selanjutnya.
"Jika kita sudah menyelesaikan misi yang terakhir, aku membunuh Haru Atmadja dan kau membunuh ayah Jihan, aku akan menceraikan Irene secepatnya dan membawa Jihan untuk hidup bersamaku setelah ini," cakapnya tanpa dosa dan tidak memikirkan perasaan Irene setelahnya. Dia … dia adalah salah satu bentuk kacang yang lupa pada kulitnya.
"SINTING!" Brian hampir menyemburkan air liurnya ke wajah Yogi. Jika perlu mengeluarkan otak pria itu agar berpikir dengan benar.
"Aku tidak sinting, Irene lebih kuat dari Jihan," belanya lagi. Kini, tatapannya lurus ke depan dengan pikiran yang kosong. Apa benar pikirannya ini untuk kebaikan bersama? Apa benar dia akan siap melepaskan Irene?
"Biar aku saja yang menjaga Irene, wanita setulus dia kau sia-siakan," cibir Brian. Dia menyukai Irene sebagai kakak, tak masalah jika setelah ini ia diberi tanggung jawab untuk menjaga wanita itu. Dengan senang hati Brian menerimanya.
"Dia mandul," ceplos Yogi yang membuat Brian sedikit kaget.
Akhirnya, Brian menarik napasnya dengan dalam dan berusaha untuk normal kembali
"Tidak masalah, kami bisa mengangkat anak."
"Kau akan mati ditanganku nanti."
Setelah itu, Brian kembali berbaring dan menarik selimutnya. "Lama-lama bisa gila berbicara denganmu! Tidak tahu diri dan egois! Aku harap kau mendapatkan karma atas kata-katamu itu. Kurasa kau yang mandul!"
"Aku tidak mandul," sela Yogi. Dia yakin kalau dia adalah orang yang sangat sehat dan jadi itu mustahil untuknya mandul.
"Siapa yang tahu? Wanita suka menyembunyikan sesuatu."
Mendengar penuturan Brian barusan, membuat Yogi mendadak terdiam. Pikirannya kembali bercabang dan berbelit-belit. Apa benar? Jika benar …
***
Waktuku sudah mencapai titik batas, aku mencintai Yogi tanpa kurang sedikitpun. Benar, aku tidak akan memaksa Yogi untuk bertahan. Aku hanya ingin kebahagian yang akan selalu datang menemuinya selanjutnya - Maudy Irene.
A-aku, sudah sangat lelah dan aku tidak dendam - Maudy Irene
Kelopak mawar yang kuat hanya untuk menggambarkan ketangguhan hatimu menghadapinya. Jika nanti sudah rapuh, jatuhnya juga akan menjadi deruan kelopak yang tertiup angin untuk terbang jauh lebih tinggi.
•••
"Uhm, Ren ...."
"Huh?" Renan sedikit menaikkan pandangannya menjumpai mata Rania.
"T-tatomu."
"Ada apa dengan tatoku?" Renan telah berhasil melepas kancing piyama Rania dengan sempurna.
Rania menggeleng. "T-tidak tahu, seram."
Renan pun mengusap rambut Rania ke belakang dan di elus perlahan sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian. "Ano dan David bangun jam berapa?"
"Hari libur, otomatis jam sembilan," jawab Rania dengan akurat.
"Sekarang sudah setengah empat, aku jadi tidak tega menyalurkan nafsuku padamu. Kau tidurlah, aku akan gunakan kamar mandimu saja." Renan kembali memasangkan kancing piyama Rania dengan telaten. Tidak, tidak sekarang …. Pasti akan ada waktunya nanti, seperti sudah sah menikah.
Rania menahan pergerakan Renan. "M-maaf, kau selalu mengalah untukku."
Renan sedikit ke atas untuk mencium dahi Rania dengan lembut. "Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah."
Rania memeluk Renan dengan tiba-tiba. "Apa tidak bisa ditahan, aku ingin tidur memelukmu sekarang." Rania mengecupi leher Renan dengan bibir basahnya. Wanita itu, jika sudah memantapkan hatinya maka akan keluar tabiatnya, tabiat manja ingin disayang terus menerus oleh lelakinya.
"B-bagaimana, ini sesak." Renan menciumi puncak kepala Rania. Ah, Renan sangat suka jika Rania menjadi manja dan bertingkah menggemaskan seperti ini. Sering-sering ya, Bun.
"Tahan sampai aku terlelap."
Renan tidak tega jadinya. "Atau tunggu sebentar, aku tidak lama."
"Aku tidak mau kau pergi walaupun hanya ke kamar mandi." Rania mengeratkan pelukan yang melingkar di punggung Renan.
"Aishh, kau benar-benar membuatku berlutut. Aku mana bisa menolak permintaanmu."
"Me … ngan-tu-k ...." Rania tertidur dengan tangan yang setia melingkar di perut Renan.
"I-ini penyiksaan Rania namanya ... a-aku tersiksa dalam keadaan sesak ini." Perlahan Renan melepaskan tangan Rania yang melingkar di perutnya. Lalu, memperbaiki posisi tidur kekasihnya itu dan menarik selimutnya. "Kau cantik sekali, mana bisa aku merelakanmu untuk abang Raihan. Jika abang mencoba mendekatimu lagi, siap-siap saja aku akan menghamilimu ...."
Cup! Cup!
Kecup Renan berulang kali pada bibir Rania dan menciumi pipi Rania dengan sangat puas. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk
melakukan sesuatu.
***
Rania membuka matanya saat pukul 07.30 di sampingnya Renan tertidur lelap dengan Ano yang ada di atasnya.
"Loh, kapan Ano bangun dan kesini. Dia sangat merindukan handa Enannya sampai tidur memeluk seperti itu." Rania mencoba memperbaiki posisi Vano agar tidak sakit. Rania tiba-tiba tertegun melihat wajah damai Renan yang tertidur nyenyak. Rasanya dia ingin menangis, masih banyak wanita diluar sana yang lebih pantas untuk Renan, tapi laki-laki itu lebih memilih dirinya dengan tanggungan dua anak.
Rania menurunkan kakinya secara hati-hati, dia tidak ingin membangunkan Vano dan Renan karena ini masih terlalu pagi untuk bangun di hari libur. Rania melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Apa ini? Kenapa dia masih pakai kolor bergambar spiderman? David saja sudah tidak mau memakai kolor-kolor bergambar seperti ini. Renan ini memang masih seperti Ano ya," kekehnya dan meletakkan kolor spiderman Renan ke dalam keranjang pakaian kotornya.
"Eh, bukan Enan saja sih, aku juga masih pakai kolor hello kitty, hehe," gumam Rania sambil malu sendiri, dirinya tidak ada bedanya dengan Enan, masih suka memakai kolor bermotif seperti anak-anak.
Rania melanjutkan aktivitasnya sampai membereskan rumah dan memasak sarapan pagi. Hingga tiba waktunya, David duluan yang bangun dan menunggui bunanya memasak di meja dapur.
Setelah itu, Renan yang juga keluar kamar sambil menggendong Ano. Ano tidak ingin dilepas oleh handa Enannya, sudah lama dia merindukan handanya.
"Handa, jahatttt, tidak pelnah datang nemu Ano!"
"Handa kesini, Ano sedang dengan handa Hahan, bagaimana dong?"
"Kan bica telpon handa Hahan bial antal Ano kecini," balasnya lagi tidak mau kalah.
"Nanti, handa Hahanmu yang merajuk jika Ano tinggalkan," timbrung Rania menanggapi. Renan membawa Ano untuk duduk bersamanya di kursi meja makan. "Sarapan apa, Bun?"
"Gelembung telur pakai tahu putih, ya."
Renan hanya menganggukkan kepalanya. "David kau diam saja? Matamu menghitam, pasti tadi malam tidak langsung memejamkan mata."
"David memang bandel, tunggu minusnya naik baru mau menyesal," sindir Rania dengan nada suara yang masih lembut. Bagaimanapun, David juga tidak boleh terlalu dimarahi.
"Tidaklah Buna, David cuma kek ga bisa tidur karena kebangun tadi malam itu."
"Ya sudah, makan dulu sarapannya. Ano sini nak sama Buna. Makanan Ano bukan yang itu sayang." Vano turun dari pangkuan Renan dan berjalan ke arah bunanya.
"Rania ... sampai kapan Ano akan memakan makanan seperti itu?" tanyanya melihat rebusan kentang dan wortel diiringi dengan brokoli rebus. Penutupnya, Ano disuguhi dengan pisang rebus dan susu murni tanpa olahan.
Rania menatap Renan dengan perlahan. "Kesehatannya belakangan menurun jika sudah menyentuh makanan yang digoreng atau dipanggang, apalagi jika berbumbu." Ano mulai menyuapi kentangnya ke dalam mulut.
Rania sama juga, dia memilih memakan makanan yang sama seperti Vano agar anak laki-lakinya mau memakan makanan seperti itu.
"Ah, Handa harusnya juga mengikuti cara makan Ano," ucap Renan merasa bersalah dan tidak enak.
"Abang juga, Bun. Kasihan Ano tidak bisa mencicipi gelembung telur ini, abang juga akan memakan yang sama seperti Ano," ucap David yang ingin memakan makanan seperti Vano.
"Tidak, Handa dan Abang makanlah apa yang dimasak Buna, nanti kalau Ano sudah stabil kembali, dia bisa memakan yang berbumbu lagi, kok."
Sesungguhnya, Rania sangat khawatir. Kesehatan Ano semakin memburuk bahkan mendekati parah, dia ingin mengatakan pada Renan, tapi takut membebani laki-laki itu. Apalagi, laki-laki itu saat ini sedang ada masalah dengan Bandung.
Renan melirik ke arah Rania. Laki-laki itu kelewat peka, dia tahu, Rania membutuhkan sandaran dan tempat berkeluh kesah saat ini.
Cinta bukan tentang melihat keindahan pasanganmu saja. Cinta mengajarkan untuk saling peduli dengan apa yang terjadi dengan pasanganmu. Rania jangan dipendam, bukankah aku tempat bersandar yang paling kau butuhkan saat ini? - Renan Aditama.
***
"Aku sudah punya istri sejujurnya."
Jihan tampak diam saja, dia sudah tahu. "Aku tahu."
Yogi tampak sedikit kaget atas jawaban Jihan. Lalu, dia dengan cepat mengganti ekspresi dengan biasa saja. "Jadi, aku rasa ...."
"Mas, lepaskan saja aku."
"J-jihan ...."
"Tidak apa-apa, aku mengalah saja."
Yogi tampak meneguk ludahnya dengan susah payah. "Apa kau serius dengan perkataanmu?"
Jihan mengangguk. "Benar, karena setelah ini aku rasa aku harus segera meminum racun dan mati."
"Jihan!" gertak Yogi. Ya, pada Ujung-ujungnya gadis itu hanya menguji Yogi agar tidak meninggalkannya.
"Mas, jangan munafik. Mas juga salah memilih berselingkuh dari istrimu. Irene pantas mendapatkan lelaki yang baik dan mencintainya 100% tanpa melirik wanita lain. Mas hanya pantas mendapatkan pasangan yang sama bejatnya denganmu, yaitu aku. Jika aku tahu kau punya istri, aku tidak akan mau memilihmu. Namun jika begini, aku tidak bisa membiarkan wanita sebaik Irene terus bersamamu."
"Kau gila, Jihan."
"Bukan aku saja, kau juga gila."
Jihan berjalan melewati Yogi dan melangkahkan kakinya ke anak tangga. "Mas pikirkanlah, ada baiknya kau segera menceraikan Irene. Aku mencintaimu dan Irene pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik darimu."
***
Di taman sore itu, pasangan gula sedang berkencan. Laki-laki itu pamit sebentar hendak ke toilet, meninggalkan wanitanya yang sedang memegang dua es krim. Wanita itu menunggu dengan sabar.
Dua orang pemuda menculik sang wanita dengan cara dibuat dengan tak sadarkan diri, ini perintah.
Sampai ketika laki-laki itu kembali dengan sedikit berlari dan kebingungan saat tidak menemui wanitanya. Yang tersisa, hanya dua es krim yang terjatuh di atas tanah.
Seorang berpenampilan serba hitam menyentuh bahu lelaki itu. "Tuan muda, ayahmu menunggu kepulanganmu ke rumah. Ini perintah, teman lamanya datang berkunjung dari Bandung."
"Duluan saja, aku ingin mencari wanitaku dahulu."
"Tidak bisa, ayahmu sedang sangat menantikan kehadiranmu."
Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merogoh ponsel dalam saku celananya.
Stak!
Pria berpenampilan kekar itu langsung memukul leher sang lelaki sampai tak sadarkan diri dan mengangkatnya untuk dibawa bertemu ayahnya.
***
Menyeramkan dengan mengenyam fakta bahwa kau tidak paham dengan perasaan sesama wanita.
Sangat jauh terbangnya, aku harap kau harus melupakan cara untuk berjalan pulang.
•••

Komentar Buku (13)

  • avatar
    Tina Kartinawati

    seriiii cerita nya

    29/09

      0
  • avatar
    NewTegar

    cerita bagus

    07/01/2025

      0
  • avatar
    01Jajangnurjaman

    bagus cobain

    16/09/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru