Beranda/PRIA BERKEKUATAN MONSTER DI DALAM DINDING YANG TAK AKAN MUDAH DIHANCURKAN/
#8 Gerbang yang Hancur
“Kita harus cepat,” ucap Maki buru-buru.
Maki dan Shin telah berangkat menuju Desa Gin, kali ini Yuki diperintah Gojo untuk ikut bersama mereka berdua. Sementara itu, Prof. Yamato tetap di Benteng Gojo supaya aman, pun Gojo juga harus tetap berada di bentengnya.
Kasumi masih terbaring dalam perawatan.
Betapa terpukulnya Maki saat menatap desanya kini telah porak-poranda, seperti telah dilahap bencana gempa puluhan skala richter. Mereka sekarang terdiam di ambang gerbang desa yang telah hancur. Meski berusaha membendung air mata Maki tak bisa menahannya. Ini kedua kalinya Shin tak dapat berkata apa-apa. Yuki mengusap-ngusap kelopak mata, walau wajahnya tanpa ekspresi, tapi kesedihannya bisa terlihat dari wajah yang memerah.
“Pasti ada yang selamat, kita harus mencari.” Shin berusaha mengalihkan suasana.
Maki dan Yuki mengangguk sambil mengusap mata mereka.
Mereka segera berlari menuju tengah desa. Ternyata sama saja, tempat itu sudah lengang.
Pandangan Shin menatap ada seseorang yang tergeletak tak jauh dari sana. Dia segera menghampiri.
“Dia.” Shin terkejut. “Maki, Yuki, sebelah sini!” serunya sedikit berteriak.
Maki dan Yuki segera mendekat ke sumber suara.
“Yoshi!” Maki segera berjongkok, dia langsung memeriksa napas lelaki sipit itu. “Aku harus mengobatinya,” ucapanya tegas. Kemudian bergegas memberikan salah satu obat luka dalam.
Dalam sekejap perlahan Yoshi sadar dengan terbatuk-batuk. Matanya menatap sekeliling, semuanya telah hancur. Yoshi menunduk kesal sambil memukul tanah. “Sial!”
“Apa yang terjadi?” tanya Maki perlahan.
“Para bandit telah membawa semua warga desa dengan alat teleportasi dan membunuh semua setiap divisi yang tersisa.” jawab Yoshi sembari memegangi kepala. “Ada orang dalam yang berkhianat, dia meracuniku. Tapi aku bisa kabur.”
“Sebaiknya kita menguburkan mereka dulu, setelah itu kita bicarakan masalah ini nanti,” saran Shin sembari memandang tubuh orang-orang yang berlumuran darah bergelimpangan, mengenaskan.
Mereka telah sepakat, kemudian segera berpencar mencari orang yang selamat ataupun yang telah gugur. Nyatanya tak ada yang tersisa di sana, kecuali reruntuhan dinding juga satu bangunan yang masih setengah berdiri.
Maki berdoa tatkala tubuh terakhir dikuburkan. Shin, Yuki, dan Yoshi menunduk berkabung.
“Kita harus segera pergi dari sini, Maou mulai berdatangan.” Shin melihat sekeliling.
Mereka bergegas pergi dari sana. Beberapa Makhluk mulai berdatangan ke dalam benteng yang telah porak-poranda itu.
Mereka tidak perlu melawan sebab makhluk-makhluk itu tak akan mengejar lebih jauh, karena yang datang hanya Maou tingkat normal bukan tingkat akuma. Yang membedakan tingkat normal dengan akuma yaitu dari tanduk. Tingkat normal tak mempunyai tanduk, tak begitu kuat. Namun, agresif ketika mendengar suara. Sedangkan, tingkat akuma mempunyai tanduk, sangat kuat, tergantung berapa tanduk yang dimilikinya, tapi cenderung tenang, agresif ketika melihat manusia. Tingkatan tersebut juga telah jarang terlihat setelah perang ratusan tahun lalu.
“Syukurlah makhluk-makhluk itu tidak mengejar kita.” Yuki menghela napas.
Sembari berlari menjauh dari desa, Maki masih menyeka air mata.
---
Kini mereka tiba kembali di depan Benteng Gojo. Gerbangnya segera terbuka. Mereka bergegas ke dalam. Gojo sedang berdiam diri di aula. Mereka segera menghampirinya.
“Aku tak mau mendengar kabar menyedihkan dari kalian,” ucap Gojo sembari tertunduk. “Si Kembar kabur membawa Kasumi,” ungkapnya tiba-tiba.
“Apa?” Maki terperanjat.
“Mereka melarikan diri dari tempat tahanan. Kemudian, mungkin mereka membawa Kasumi dengan menerobos langit-langit ruangan medis terbang memakai bola cahaya. Setelah aku memeriksa ke sana. Ternyata benar, Kasumi sudah hilang.”
Maki tertunduk, air matanya kembali jatuh. Namun, tak lama Maki menengadah, mengepalkan tangan. “Aku percaya Kasumi bisa menjaga dirinya. Kita sekarang hanya harus menjadi kuat. Kemudian mengalahkan penjahat-penjahat itu.”
Shin, kemudian mengepalkan tangan ke atas. “Kita kalahkan mereka bersama!”
Yoshi dan Yuki mengangguk tegas.
“Namun, kalian masih harus banyak berlatih.” Gojo tersenyum. “Terutama, Shin, kau masih belum bisa menguasai Nar,” tambahnya.
“Aku tidak akan menyerah, selama dunia ini masih ada,” teriak Shin menyemangati.
“Aku mendapat sedikit informasi dari si Kembar,” Gojo bicara serius.
___
Beberapa bulan telah terlewati. Selama itu pula tak ada berita penyerangan desa lagi oleh para bandit pemerintah. Dalam waktu itu juga, Shin sudah sedikit dapat menguasai Nar di tubuhnya. Maki berhasil memperkuat teknik segelnya, dan juga yang lain bertambah kuat dari sebelumnya.
Benteng Gojo hanya diserang satu kali, tapi itu juga hanya serangan dari para Maou.
Shin menunggu di aula bersama Maki, kemudian Yuki datang. Sementara itu, Yoshi bertugas mengamati sekitar dari atas benteng, tapi hari ini tak ada banyak Maou yang menyerang. Yoshi dan para penjaga hanya membasmi beberapa Maou yang mendekat.
Prof. Yamato memulai penelitian dari awal, dia meneliti sel Maou baru buatan pemerintah. Dia beruntung benda dalam kapsul kecil tersebut disimpan di kantong celananya waktu itu.
Shin, Maki, dan Yuki sudah berkumpul di aula. Gojo segera meminta mereka untuk duduk melingkar. Yoshi segera menyusul bergabung.
“Aku ingin berdiskusi tentang informasi yang kudapat,” bisik Gojo. “Informasi ini aku dapat dari beberapa muridku yang masuk di pemerintahan. Informasinya para penjahat itu berencana akan meruntuhkan semua benteng desa yang masih berdiri dan itu adalah perintah langsung dari Raja.” tambahnya cepat, tapi jelas.
“Kita tidak tahu di mana mereka akan menyerang,” ujar Shin mengernyit.
“Tenang saja, aku sudah tahu di mana mereka akan muncul dan aku tahu berapa pasukan yang akan mereka kerahkan.” Gojo tersenyum. “Pemerintah akan menyerang satu persatu desa, mereka tidak akan gegabah.”
Lima menit setelah Gojo bicara panjang lebar, dia menjelaskan secara singkat bahwa penyerangan tempat kedua itu adalah Desa Do.
“Kita tidak mungkin memakai kendaraan kesana.” Kini Gojo memperlihatkan peta hologram. “Untung saja aku mendapat barang-barang selundupan dari kota. Peta canggih ini adalah salah satunya,” ungkapnya sambil menandai salah satu titik dengan jarinya. “Dan aku masih punya yang lain yaitu alat teleportasi yang berhasil diperbaiki.” Gojo menatap mereka satu per satu. “Alatnya ada di ruangan yang akan kalian buka saat itu.”
Shin dan Maki tersenyum paksa, Yuki biasa saja. Yoshi mengernyitkan dahi tidak tahu apa-apa.
“Kenapa pintu itu harus dikunci dengan segel?” Maki melotot penasaran.
“Kenapa? Cepat katakan,” ucap Shin dan Yuki bersamaan, mereka juga penasaran.
“Karena dulu ada seorang yang mempunyai elemen segel di benteng ini. Namun, saat dia terbunuh di tangan bandit pemerintah, pintu itu terkunci selama belum ada yang mempunyai bakat elemen segel, dan setelah Maki dan kakaknya masuk ke perguruan ini aku berharap akan ada kesempatan untuk membukanya lagi.” Gojo tersenyum.
Mereka masih melingkar di tengah aula. Kali ini Shin dan yang lainnya memperhatikan strategi yang direncanakan oleh Guru mereka. Di akhir penjelasanya Gojo berkata tegas,”Jangan mati di tangan orang-orang licik!”
Mereka berempat mengangguk paham.
Perkumpulan pun selesai, Gojo bergegas pergi menuju bangunan tempat Prof. Yamato meneliti. Shin, Maki, dan Yuki membuntuti, sedangkan Yoshi kembali ke atas benteng untuk mengintai karena dia yang paling dibutuhkan, penglihatan dan pendengaran Yoshi sangat tajam.
Shin memperhatikan Prof. Yamato yang dari tadi bolak-balik. “Prof, apa kau butuh bantuan?” Dia mengernyitkan.
Prof. Yamato masih mondar-mandir tak menanggapi.
Mereka memperhatikan sembari mengangkat satu alis.
“Ya! Aku berhasil! teriak Prof. Yamato tiba-tiba.
Yuki, Maki, dan Shin penasaran, buru-buru mengerumuni ke sana. Gojo melihat dari belakang.
“Apanya yang berhasil, Prof?” Maki sangat penasaran.
“Kalian baru enam belas tahun tidak seharusnya tahu.” Prof. Yamato menggoda mereka bertiga. Tertawa.
“Kalau kau tidak memberi tahu, kita akan hancurkan.” Maki tersenyum licik.
Shin dan Yuki menyeringai.
“Baik, aku jelaskan sedikit.” Prof. Yamato tersenyum, pucat.
Saat Profesor akan menjelaskan, Shin yang saat itu penasaran tiba-tiba merasa ada sesuatu yang jahat mendekat. Wajahnya kini seketika masam. Tubuh Shin bereaksi.
Kekuatan Gojo juga sedikit mendeteksi, lalu dia menghampiri Shin. “Apa kau merasakan sesuatu?”
Shin mengangguk, dahinya berpeluh.
Suara yang sangat kencang terdengar hingga ke tempat penelitian. Bunyi ledakan itu dari arah gerbang. Mereka semua melesat keluar dari sana, kecuali Prof. Yamato yang langsung sibuk menyelamatkan hasil penelitiannya.
“Maki dan Yuki, kalian minta orang-orang untuk tetap di rumah. Shin, kau ikut aku.” jelas Gojo cepat.
Mereka mengangguk paham.
Shin dan Gojo dengan cepat menuju gerbang.
Saat tiba di depan gerbang, Yoshi sudah tak di sana. Penjaga penembak menunjuk keluar benteng. “Yoshi sedang bertarung bersama tim penyerang melawan musuh.”
“Jangan buka gerbangnya.” Gojo menghentikan penjaga yang akan menarik tuas.
Ledakan kembali menggema sangat kencang. Tak lama ada satu penjaga yang terhempas melewati benteng, lalu terjatuh di pinggir aula, membuat tanah berhamburan, seketika penjaga itu berubah menjadi pohon berdaun asap.
Shin tampak sangat menatap marah. Tangannya terkepal. “Monster waktu itu,” gumamnya.
Gojo merasakan kekuatan besar dari musuh. Dahinya terlipat.
“Sebagian penjaga di depan tambah ke sisi kanan, kiri, dan belakang!” perintah Gojo. “Shin, kita fokus ke depan,” tambahnya.
Setengah penjaga cepat-cepat melesat dari atas benteng.
Maki dan Yuki berteleportasi ke hadapan Shin dan Gojo. Yuki menatap Gojo, mengangguk. Kemudian memegang pundak Shin. Dalam sepersekian detik keduanya hilang.
“Maki, kau bersiap di atas benteng,” ucap Gojo sambil perlahan tubuhnya terserap tanah.
Yoshi menghempas makhluk itu ke atas dengan tinju membara, tapi Maou itu dapat mendarat mantap. Kini gilirannya menyerang, ia langsung melesat ke arah lelaki sipit itu, menjulurkan tangan besarnya. Yoshi belum siap menerima serangan langsung, matanya terbelalak menatap lengan berduri makhluk itu telah berada di depan wajah, tak ada kesempatan menghindar baginya. Namun, seketika Yoshi telah berada jauh di belakang makhluk itu.
Shin melepaskan kepalan tinju esnya, membuat makhluk itu tersungkur jauh. Terkapar. Ketika Gojo akan menjeratnya dengan tanah, makhluk itu seketika bangkit, lalu melesat menjauh ke seberang danau.
Shin dan Gojo segera mendekat ke arah Yoshi dan Yuki.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Shin.
“Tidak. Racun sialan ini kembali bereaksi,” ungkap Yoshi sembari memegang dada. “Aku masih bisa bertarung,” tambahnya seraya berusaha berdiri. Namun, dia kembali jatuh.
“Jangan memaksakan diri,” ujar Gojo sambil waspada ke depan. “Kekuatan Maou itu setara dengan Panglima. Kalian lihat, dia mempunyai empat tanduk di kepalanya. Meski kekuatanmu juga setara, dengan racun di tubuhmu kau tidak akan bisa menang,” tambahnya.
Maou berliur itu menatap ke arah mereka, lalu menyeringai. Perlahan ia menghilangkan empat tanduknya, sedikit mengecilkan badannya, kemudian berubah menjadi sosok manusia.
Mereka berempat mengernyit, tak menyangka dengan perubahan makhluk itu.
“Jadi, ini eksperimen baru pemerintahan.” Gojo memegang dagu. “Menarik.”
“Sepertinya wajahnya tidak asing,” ucap Shin melipat dahi.
Orang di seberang danau itu tersenyum penuh palsu.
-Bersambung-Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (112)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
lanjut
26/04
0bagus
02/11/2024
0film ini seru sekali
29/08/2024
0Lihat Semua