"Bibi, Bibi! apa Daddy akan mengantar kita?" tanya Joe saat bibi Ann memegang engsel pintu. Ciara yang terus memandangi 'little devil' yang tidak pernah menyukainya seketika berhenti berceloteh dengan mata bulat yang membesar, menoleh terang-terangan saat Joe yang memang cerewet membisu tepat didepan ruangan Alan yang pintunya kembali ditutup sang nanny. Wanita tua yang juga berani menatapnya tidak ramah. Ciara tak perlu bertanya apa yang dilihat Joe yang jadi membisu setelah bibi Ann membuka pintu ruangan Alan. Sementara setan kecil yang tak menyukainya mata bulatnya membesar. "Come, kita makan cheesecake dulu sebelum ketemu Rei," ajak bibi Ann langsung menggendong bocah nakal yang wajahnya jadi muram mendengar teriakan Sofia yang terdengar saat pintu dibuka. "Apa yang mereka ributkan kali ini?" ucap bibi Ann dan hanya melewati Ciara, "sebaiknya kau tak menguping pembicaraan orang lain, Nona Robinson. It's a bad habit you know." Joe bahkan tak lagi berceloteh, anak cerewet itu terus menutup rapat mulut kecilnya meski pipi gembilnya yang enak dipegang itu, tidak menggembung kesal. Bocah nakal nan cerewet itu, jadi benar-benar diam sepanjang jalan dalam gendongan bibi Ann yang merasa bersalah tidak mengecek dahulu apa yang terjadi di ruangan Alan. 'Maafkan bibi, Joe,' ucap bibi Ann dalam hati. Sementara bocah kecil yang tidak mendengar suaranya, menunjukan sorot terluka yang Joe tahu bagaimana rasanya hanya saja ia belum mengerti apa sebutan untuk rasa yang sedang ia rasakan. * Rei menatapi Joe yang jadi pendiam sekali sejak datang. Bocah yang juga kecil itu, memeluk bola yang rasanya tak akan mereka tendangi hari ini. "What?" tanya Joe saat Rei duduk di sampingnya. Rei tidak pernah bicara, tapi bocah nakal di sampingnya tak mempermasalahkan hal itu. Rei yang hanya diam duduk menemani, membuat Joe yang tidak cerewet sejak datang merasa tenang--tenang? Bocah nakal ini bahkan belum tau arti kalimat itu. Tapi, ia tak masalah kalau Rei yang diam duduk menemani. "Rei, apa kau suka padaku?" tanya Joe membuat Rei menoleh lalu mengangguk. "Tentu saja kau suka padaku. Semua orang suka padaku. Daddy suka padaku, bibi Ann suka padaku, Lody suka padaku, onty Nara suka padaku, terus ... ng?" Rei menunjuk dirinya. "Yeah, kau sudah ngomong itu tadi, duh." Ok, 'duh' Joe terucap lagi. "Tapi-," mata ash bulat nan jernih itu menunduk, "-tapi, my mommy tidak suka padaku." Rei memiringkan kepalanya heran. Ia belum pernah melihat mommy Joe datang, hanya daddy-nya saja. Apa karena itu, Joe jadi tak cerewet hari ini? bahkan menunjukan wajah sedih karena mommy Joe tak suka padanya? Dan tangan kecil Rei yang sedang memeluk bola itu makin mengerat. "My Daddy not like me to." Mata ash jernih Joe membesar karena baru kali ini ia mendengar Rei bicara, "you can speak!?" Rei mengangguk pada keantusiasan Joe yang bahkan berdiri di hadapannya, menatapnya tak percaya. Joe seolah lupa pada ras sedihnya dan menatapi Rei yang mendongak masih memeluk erat bola. "Kupikir Rei tak bisa ngomong kayak aku." "Aku bisa." "Terus kenapa Rei tidak mau ngomong? Apa Rei tak suka ngomong?" Rei menggeleng dan kembali menutup bibirnya, sementara bocah nakal yang berdiri itu kembali duduk di tempat yang baru ia tinggalkan 10 detik. "My mommy not like me and your daddy not like you." Rei mengangguk, dua anak kecil itu kembali diam. Entah apa yang dipikirkan dua kepala kecil itu kini, sementara pelayan yang mengawasi agar keduanya tidak jatuh atau melakukan hal bahaya, tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan dua punggung kecil yang memunggungi mereka. "Apa sesuatu terjadi?" "Mungkin mereka lapar?" Mura aka Mira menatap temannya, "kalau lapar mereka pasti bilang, apalagi tuan kecil Joe." Ucapan Mira disambut tawa juga anggukan setuju karena Joe memang suka ngemil dan tidak pilih-pilih makanan yang penting rasanya enak dan tidak asam. "Tapi, apa kau dengar tuan kecil Rei bicara?" "Oh, come on. meskipun, tuan kecil Rei tak bicara, tuan kecil Joe tahu bahasa tuan kecil Rei." "Mungkinkah karena frequency mereka sama? Jadi, mereka nyambung dan paham?" "Bisa jadi, bahkan tuan kecil Joe tahu tuan kecil Rei tersenyum meski aku tak bisa melihat itu." "Apa anak-anak selalu memiliki telepati antara satu dengan yang lainnya, ya?" "Mungkin juga. Kau taut, saat keponakanku nakal, kakaknya akan berteriak lebih dulu hanya dengan memandang wajah adiknya." "Wow, seriously?" "Yeah, mereka kembar." Mira mengernyitkan dahi lalu memukul sahabat juga rekan kerjanya itu, "anak kembar itu memang lahir dari satu telur, s-t-u-p-i-d!" "Tapi, well, anak-anak hanya akan dipahami anak lain, bukan? Sementara Kita, para orang dewasa hanya mampu menebak dan menerka. Apalagi tuan kecil Rei jarang sekali mau bicara." "Yeah, aku sampai merindukannya menyebut salah namaku." "You know, Mura," Mira tersenyum lalu memasang wajah serius saat sang sahabat mengecilkan suara, "kau pikir apa yang sedang dipikirkan tuan kecil Rei saat ia diam memandangi sesuatu yang jauh? Aku selalu merasa penasaran." "Jangan campuri apa yang bukan urusanmu jika kalian mau hidup tenang dan tetap bekerja di sini." "I know that, Steve! Tapi- ... tapi, tetap saja aku merasa kasihan padanya." "Jangan sampai Iori ataupun nona Larson mendengarmu bicara seperti itu, Liz." "Yeah, I know. Hanya saja aku tak bisa mengenyahkan pikiran ini setiap kali tuan kecil Rei ketakutan melihat tali yang menggantung--ah! Kuharap mereka tidak luka." Tiga orang pelayan itu berlari cepat, menghampiri dua anak kecil yang berlari bahkan Joe jatuh, sementara Rei berhenti lalu mundur lagi untuk membantu Joe berdiri. "I hate bee's!" Seru Joe yang langsung minta digendong Steve, sementara Mira yang sudah membopong tubuh Rei berlari menjauh, masuk ke dalam rumah bersama teriakan Lizbet yang membuat banyak mata penasaran lalu menatap bahkan berlari keluar. "Dari mana datangnya lebah-lebah itu!" "Mungkin kita harus meminta Tim dan bawahannya memeriksa jika ada sarang lebah di taman." Well, mungkin lebah yang membuat mansion berpilar-pilar tinggi menjulang itu jadi ramai, berpikir, 'dua anak kecil yang akhirnya masuk ke dalam rumah itu makanan karena keduanya terlihat begitu manisnya. Ya, di mansion besar itu semua juntaian tali diganti. Gordin-gordin bertali pun ditukar dengan yang baru karena tubuh Rei akan kaku tiap kali melihat tali yang menjuntai. Apalagi jika ada angin yang meniup tali, seluruh kesadaran Rei akan menatapi juntian tali yang berayun dalam bisu bahkan melupakan sekelilingnya. Entah apa yang dilihat Rei, yang bahkan saat matanya ditutup tangan Nara ataupun Iori, mata bermanik biru Rei akan terus terbuka tanpa berkedip. Rei tenggelam dalam dunianya yang tidak bisa dilihat orang lain. Ia akan terus bertahan di sana sampai kesadarannya kembali dan saat itu terjadi, bocah kecil bermata biru yang batin dan jiwanya terluka ini, tidak akan mengingat apa yang ia lakukan. Tapi, hal pertama yang akan ia lihat adalah wajah Nara ataupun Iori yang tersenyum mendekapnya hangat setiap kali hal itu terjadi. * "Shit!" Seru Ciara menjatuhkan bokongnya pada sofa apartemen kecilnya yang nyaman. Gadis yang sedang memejamkan mata itu menarik nafasnya begitu dalam dan terkejut merasakan dingin di pipi berkat sekaleng soda. "Bad day?" Ciara menarik dalam nafasnya dan menerima soda yang diberikan Catlyn-gadis yang kini jadi roommate-nya. "It's the worse day ever!" jawab Ciara yang menghembuskan nafas begitu sepenuh hati. "Wow." Ciara mendengus pada reaksi Catlyn dan membuka pengait Soda yang airnya menyembur di antara bunyi desisan keras, sementara Catlyn tertawa melihat wajah tak percaya Ciara yang berhasil dikerjai. "Oh, you bitch! Aku akan membalasmu!" seru Ciara melempar bantal kecil pada Catlyn yang masih tertawa. Memiliki roommate yang bisa mengajakmu bercanda, tidak begitu buruk. Apalagi, saat harimu jadi blue tanpa peringatan ataupun tanda.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
eu adorei muito
22/01
0seru
18/12
0very best this novel
02/10
0Lihat Semua