"Joe," panggil Nara pada pemilik mata bulat yang menatapinya penuh harap, "kamu boleh tidur dengan Onty malam ini karena besok Onty harus pulang ke rumah Onty." "Pulang?" tanya bocah dengan pipi tembem itu yang wajahnya terkejut. Nara mengangguk, "apa Onty akan datang lagi setelah Onty pulang?" Kali ini Nara menggeleng. Mata berharap Joe berubah sedih seketika, "apa-- apa aku boleh ikut Onty pulang?" Tangan Nara terjulur menyentuh kelopak mata bulat nan jernih yang mulai tergenang air, bocah nakal yang begitu jujur sampai apa yang ia rasakan tercetak di wajah bulatnya yang mudah dibaca. "Kalau Joe ikut Onty, nanti daddy kesepian di sini." "Kan--kan, ada onty Ciara, daddy tidak akan kesepian kalau aku ikut Onty Nara pulang." Nara memperhatikan wajah kekeh Joe yang lalu dikecupnya, hal ini membuatnya mengingat bocah lain yang membisu menatapi juntaian tali gordin, "tapi, Daddy akan merindukanmu, Joe." "Kalau Onty pulang, apa Onty tidak akan merindukanku dan daddy?" Nara jadi diam, tangannya menghapus sisa airmata di mata Joe yang menunggu jawabannya. Seharusnya ia mengatakan ia tak akan merindukan mereka. Tapi, rasanya itu adalah hal salah jika ia ucapkan. "Onty akan merindukanmu dan Onty akan makan cheesecake bersama Iori jika Onty rindu padamu." Joe jadi diam, menatapi Nara yang memegangi pipi gembilnya yang enak dipegang, "aku-- ... aku juga akan makan cheesecake kalau rindu pada Onty." Nara mengangguk lalu manatap Joe dengan manik sedikit membesar karena perut kecil Joe berbunyi. Protes minta segera diisi. KRUYUUK! "Let's have our Fish." "Ng!" Jawab Joe mengangguk lalu turun dan menggandeng tangan Nara. Mereka berjalan menuju dapur yang percakapannya jadi berhenti saat dua orang yang sedang ada di dapur melihat keduanya. "Daddy, aku dan Onty sudah lapar," semangat Joe berucap pada Alan yang menatap canggung wanita yang menggandeng putranya. Sementara wanita yang pakaiannya minim, manik matanya membesar, 'apa yang wanita dingin ini lakukan di sini?' ucap Ciara dalam hati. Suasana meja makan terasa canggung. Tapi, tidak bagi anak berpipi tembem yang enak dipegang ataupun wanita dingin yang sesekali menoleh pada Joe yang berceloteh mengajaknya bicara. Ciara sesekali mencuri pandang pada Alan yang makan dengan diam. Wanita yang bekerja sebagai sekretarisnya itu pun melirik wanita dingin yang pasti mengenali wajahnya. Mengingat beberapa kali mereka bertemu saat ia menemani Alan bekerja. Namun, kenapa wanita dingin itu ada di sini? bahkan bocah kecil yang terang-terangan menunjukkan ketaksukaan pada dirinya begitu akrab dengan Nona Larson, 'menyebalkan!' Rutuk Ciara. Yang tidak diketahui Ciara adalah Nara sama sekali tidak mengingatnya. Apalagi tampilannya yang jauh berbeda--sesungguhnya tidak begitu berbeda, wanita dingin itu hanya tidak suka mengingat orang-orang tidak penting yang bisa diganti kapan saja. "Daddy." Alan menatap Joe yang memanggilnya begitu manja, pasti ada yang diinginkan putra nakalnya itu tebak Alan, "ya, Sayang?" "Aku tidur dengan Onty Nara malam ini." Dahi Ciara mengernyit menatapi wanita dingin yang menyuapkan potongan ikan dan buncis panggang ke dalam mulut. Sementara Alan menatapi putranya, "tumben? Apa kamu sudah bilang Onty Nara?" tanya Alan. Joe mangangguk lalu menatap Ciara dan Alan bergantian. "Why?" Tanya Ciara yang merasa tak senang bocah yang hatinya berusaha ia dapatkan sejak lama, sama sekali tidak suka padanya. Ia lalu menatap wanita dingin yang mengunyah begitu pelan tanpa suara dan itu menyebalkan, 'bisa seelegan apa wanita dingin tanpa ekspresi itu bersikap!?' Joe mengerucutkan bibir lalu menatap Ciara. Wanita muda itu, menunjukkan senyum termanisnya pada bocah berpipi gembil yang tak suka melihat senyum palsu itu. Well, anak-anak dan insting mereka. "Karena aku mau, duh!" 'Duh? Ok, darimana putraku belajar kalimat itu?' batin Alan yang mengernyitkan dahi melirik wanita dingin yang seolah tak terganggu--tidak!! Nara bahkan sama sekali tidak menunjukan apapun untuk kehadiran Ciara ataupun bertanya- tetapi, apa yang ia harapkan dari wanita dingin minim ekspresi itu? "Kamu tahu Daddy akan kesepian tanpamu, bukan?" Joe menatap Daddy-nya dengan tatapan kesal, 'what's wrong?' Tanya Alan dalam hati, sama sekali tidak memperhatikan wajah Ciara yang tersenyum. 'Good job, Little Devil,' batin Ciara lalu melirik wanita dingin yang mengelap mulut dengan napkin setelah ia meletakkan garpu dan pisau di atas piring. "Thanks for the meal. It's teste good." Alan tertegun mendengar pujian yang diucapkan Nara. Lelaki itu sedang mengingat apa selama di sini, ia pernah mendapat pujian seperti itu dari Nara? Oh, bagaimana ia ingat kalau Iori selalu menyediakan makan untuk mereka, ataupun sereal juga makanan beku, 'damn! Seharusnya aku masak tiap hari!' Joe yang melihat onty Nara-nya sudah selesai dengan makanan di piring, jadi sibuk menghabiskan salmon panggangnya. Tapi, menyingkirkan buncis dan wotrel ke pinggir. Ia hanya memakan biji kacang polong yang rasanya enak dikunyah. "Kamu harus makan sayurmu, Joe." Joe menatap pemilik suara manja yang tetap tersenyum pada tatapan tak suka yang ia tunjukkan, "aku makan kacang polong-ku, duh." "Oh, that's not enough, Darling. Atau kamu tidak akan tumbuh setampan Daddy-mu." Alan terbatuk merasakan kakinya disentuh kaki lain di bawah meja. Matanya langsung menatap Nara yang sedang meminum air putih, sementara Ciara memberikan kedipan mata manja yang rasanya-- 'aku sedang tidak butuh ini, Ciara.' "Apa Onty Nara juga ingin setampan Daddy, makanya Onty makan sayur?" 'Hey, little devil! Yang mengajakmu bicara itu aku, bukan wanita dingin itu!' "No," jawab Nara begitu selingkat. Joe menatap piring Nara, "tapi- tapi Onty makan sayur. Aku tak suka sayur." "Well, I don't like vegetables, Joe, but I still eat it." Joe mengernyitkan dahi begitu dalam, entah apa yang sedang dipikirkan otak kecil bocah yang belum genap empat tahun itu setelah mendengar ucapan Nara. Sampai ahirnya dengan sedikit ragu Joe menusuk potongan buncis dan memasukannya ke dalam mulut, matanya sedikit berbinar. Namun, saat ia melakukan hal sama dengan wortelnya, wajah bulat yang pipinya mengunyah itu menunjukan ekspresi tak suka. "Aku tidak mau makan wotrel," jujur Joe pada tiga pasang mata yang sesungguhnya tahu hanya dari ekspresinya. Alan tersenyum apalagi saat senyum lebar Joe tercetak merasakan usapan tangan Nara yang wajah dinginnya membuat Ciara kesal, 'apa-apaan mereka semua!' Ciara menunjukan tatapan protesnya pada Alan yang mundur dan memiringkan posisi duduk, sehingga kaki nakal Ciara yang jenjang tidak bisa lagi naik makin ke atas menyusuri paha lelaki yang terus-terusan menatapi wanita dingin yang diberi tatapan tajam oleh Ciara. Tapi, itu tak akan menghentikan dirinya tentu. "Joe?" Bocah yang masih mengunyah buncis itu melirik Ciara, "kenapa kamu tak mau tidur dengan Daddy-mu?" Joe mumutar bola matanya kesal, ia tak bisa menggembungkan pipi karena mulutnya sibuk mengunyah, "karena Onty Ciara tidur dengan Daddy."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
eu adorei muito
22/01
0seru
18/12
0very best this novel
02/10
0Lihat Semua