logo text

17. DIMANA ANAK ITU?

"Apa di luar masih ada bangun lain?"
petugas berseragam itu mengangguk, ia lalu menunjuk bagian belakang rumah.
"Masih ada satu, Sir, Crime scene," ucapnya pada Iori yang mengangguk.
"Apa saya boleh ke sana?"
"Tentu, Sir," jawab petugas berseragam membuka pintu belakang rumah lalu berjalan terlebih dahulu.
"Silahkan," ucapnya pada Iori yang menunduk saat melewati garis polisi yang terpasang dalam bangunan kecil yang letaknya terpisah dari bangunan utama 
Bangunan yang lebih pantas di sebut gudang.
Tapi, Iori bisa melihat kasur keras di antara tumpukan barang, dua buah bantal dan sebuah guling di atasnya yang menunjukan ruangan ini juga dijadikan kamar, 'tapi, kamar siapa?' batin Iori yang matanya berkilat saat melihat koper-koper yang ia kenali.
"Bolehkan?" tanya Iori meminta izin petugas yang mengangguk. Tak bisa menolak karena itu juga permintaan sang kapten. 
"Silahkan," jawab petugas berseragam rapi, matanya menatapi tiap gerakan Iori yang masuk ke bagian dalam ruangan. Dan kini, pria tua yang sejak tadi hanya menatapi tiap sudut rumah tanpa terkecuali itu, untuk pertama kalinya menjulurkan tangan. Membuka koper bermerek yang isinya membuat pria tua itu diam. 
'Apa yang sedang ia lihat?' tanya petugas berseragam itu tanpa suara.
Sementara pria tua yang ia perhatikan, dengan cekatan membuka lagi koper lain yang isinya Iori pandangi.
Sampai iori kembali menatap kasur keras di antara tumpukan barang dalam ruangan tanpa jendela. 
"Mereka ... tidur di sini?"
"Ya? Maksud saya maaf," jawab petugas yang menatap bodoh pria tua itu, lalu mengangguk, "benar, Sir. Nyonya Cyntia dan anak tidur di ruangan ini."
Manik mata hazel Iori yang menatapnya jadi terasa menakutkan, bahkan membuat bulu-bulu halus petugas itu berdiri dan merasa bersalah atas apapun yang bahkan tidak ia mengerti.
Ia benar-benar merasa bersalah untuk alasan yang bahkan tidak ia pahami, 'kapten, kenapa aku yang kau pilih untuk melakukan tugas ini?'
Iori menatapi tiap sudut ruangan yang bahkan jauh lebih kecil dari kamar mandinya. Bukan masalah. Tapi, ia memang menyukai ruangan luas yang bisa membuatnya bergerak bebas dan ruangan sempit ini? Bahkan harus ditinggali nona mudanya berdua bocah yang- Iori tidak ingin mengucapkan apa yang ia pikirkan. 
Kecuali sekarang ia jadi tahu anak yang Ais lahirkan adalah laki-laki saat melihat pakian dan celana yang ada di dalam koper.
Sampai, sudut matanya menatapi barang yang ia kenali. Barang yang seharusnya tidak ada di antara barang-barang berisi baju-baju kecil dan tipis anak lelaki. 
Greett!
Tangan Iori mengepal kuat syal miliknya, syal yang ia pakaikan pada bocah kecil yang memakai baju tipis di balik jaket mahal kebesaran di tubuh kecilnya.
[Aku tidak mau ikut denganmu]
Seluruh dirinya mengingat bocah kecil bermata biru yang menempelkan badannya seakan ingin menembus etalase. Bocah pintar yang tidak mungkin mau diajak siapapun sekalipun mereka memberinya candi dan tawa ramah.
"Di mana?" 
"Ya?" Sekali lagi jawaban bodoh keluar dari petugas berseragam yang bulu-bulu halusnya berdiri, ia bahkan tak lagi bisa menutupi ketakutannya saat mendapati tatapan pria tua yang di tangannya memegang syal dengan tangan bergetar. Menahan emosi.
'Kapten pria tua ini sungguh menakutkan.'
*
Wanita dingin itu, ahirnya membuka mata. Manik hitamnya yang lebih gelap dari malam langsung menatapi tangannya sendiri yang rasanya masih merasakan jemari kaku nan dingin sang adik yang sudah berpulang.
Adik yang ia usir dari kehidupannya tanpa kesempatan kembali.
"Apa ada sesuatu di tanganmu?"
Suara bariton itu membuat Nara menoleh pada tubuh yang punggungnya disinari cahaya matahari. Ia baru sadar ia tak sendirian di dalam kamar.
"Apa di rumahmu ini juga ada jam bangun, Tuan Sulivan?" 
Alan tertawa mendengar suara wanita dingin yang bangun lalu menoleh pada tangan kecil yang tergeletak di pinggang.
"Anakku lelah menunggumu, Nona, ia jadi ikut naik ke kasur," ucap Alan merubah posisi, "dan saat kulihat, ia sudah terlelap sambil memelukmu." 
Nara menatap tangan kecil Joe yang jemarinya memegangi gaun tidurnya.
"Tuan Sulivan," panggil Nara membuat alis Alan terangkat, "tiga hari lagi aku akan pulang, tidakkah kau merasa kasihan pada putramu?"
"Untuk?"
Nara menarik dalam nafasnya. Ia tahu lelaki menyebalkan yang menatapinya dengan wajah tak berdosa itu paham betul maksud dari ucapannya barusan.
"Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu, Tuan Sulivan. Tidak lebih dari itu."
"Aku tau itu."
Mata hitam pekat Nara menatap manik ash Alan yang masih menunjukan wajah sama, begitu santai tanpa beban.
"Tidak," ucap Nara sambil menggelengkan kepalanya pelan, "kau tidak tahu. Karena jika kau tahu kau tak akan membiarkan anakmu ini dekat-dekat denganku!" seru Nara tanpa sadar sudah meninggikan suara.
Ia jadi kaget saat merasakan gerakan Joe dan bersyukur bocah yang pipinya enak dipegang ini hanya mengubah posisi tubuhnya yang kaget masih dengan mata terpejam.
"!" Nara semakin terkejut saat Alan yang tadi duduk di kusen jendela sudah berdiri di sampingnya. Ia jadi tak bisa bergerak karena kaki Joe menindih pahanya begitupun tangan Alan yang seakan mengungkung tubuhnya.
"Apa kau tak menyukai putraku yang nakal ini, Nara?"
"What?" tanya Nara pelan, menatapi bodoh duda yang membuatnya mundur, meski hanya kepalanya saja, "bisakah kau menjauh dariku!"
Seruan tertahan Nara membuat Alan memiringkan kepala. Pria yang merasa terhibur saat menatapi wajah dingin Nara yang tanpa ekspresi menatapnya tajam.
"Why?" Ucap Alan sama sekali tak terpengaruh pada sorot mengintimidasi yang begitu alimi milik Nara.
"Wh-"
Nara bahkan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia lalu menarik nafas begitu dalam lalu menutup mata. Tatapan tak nyamannya menghilang ketika ia membuka mata. Nara bahkan seolah menantang pada lelaki yang keduan tangannya seolah memenjarakan tubuhnya.
"Karena aku tidak butuh keluarga, Alan," ucap Nara yang baru kali ini memanggil nama Alan tanpa embel-embel tuan ataupun nama keluarga.
"Tidak dulu, tidak sekarang, tidak juga di masa yang akan datang. Jadi menyingkirlah dariku kalau kau tidak ingin melukai putramu." 
Senyum Alan yang tercipta setelah mendengar ucapannya ini, benar-benar membuat wanita yang perasaanya sedang buruk mengambil bantal yang langsung ia pukulkan pada wajah Alan, pria yang malah tertawa geli lalu menggenggam lengan wanita dingin yang jadi diam saat Alan mengecup bibirnya tanpa permisi dan Nara menutupi bibirnya saat Alan yang wajahnya masih begitu dekat, menatapinya.
"Berhentilah menolak atau kamu akan membangunkan Joe, dan ia akan melihat apa yang kita lakukan."
Mata Nara membesar saat tangan Alan menangkup belakang lehernya lalu menyingkirkan tangan Nara yang melindungi bibir.
Hembusan nafas Alan yang terasa hangat makin terasa bahkan dihafal kulit wajah wanita dingin yang ahirnya membuka bibir, membiarkan lidah Alan menelusuri tiap jengkal bagian dalam mulutnya.
Ciuman Alan begitu menuntut. Kadang lembut. Bahkan, saat Nara membutuhkan udara, Alan tetap menciumi Nara yang matanya jadi sayu lalu mendorong pundak Alan yang kini menindih tubuhnya.
Alan yang tau Nara sungguh butuh udara baru menarik lidahnya keluar dari mulut Nara, menciptakan seuntai benang bening yang lalu dijilatnya dari bibir Nara yang masih mengatur nafas dengan mata berair. 
Nara yang berpikir Alan sudah selesai, matanya membesar dengan eluhan pelan tapi tertahan, berkat mulut Alan yang kembali menciumi bibirnya begitu lapar. Bahkan, tangan Alan masuk dalam gaun tidur Nara yang kaget merasakan sensasi di atas kulitnya.
Tangan Nara yang semakin kuat mendorong Alan, tak berhasil karena Alan makin menindih tubuhnya sampai tak ada sekat sama sekali diantara keduanya.
"Aku menginginkanmu, Nara. Sungguh-sungguh menginginkanmu," ucap Alan diantara ciumannya yang menuntut namun lembut.

Komentar Buku (77)

  • avatar
    PedroJoao

    eu adorei muito

    22/01

      0
  • avatar
    AlpiansahPirdi

    seru

    18/12

      0
  • avatar
    Nur Dania2007

    very best this novel

    02/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru