Miya

Malam itu, Zaky tidak bisa memejamkan mata. Benaknya melayang ke mana-mana. Mengingat pertemuan dengan Muya, bagaimana ia bisa jatuh cinta pada gadis polos itu, pernikahan mereka yang diadakan dengan sederhana karena Muya menolak bermewah-mewah. Lalu, pertemuannya dengan Laksmi di suatu malam tak terduga.
"Mungkin Muya memang tidak berbohong soal kesuciannya. Tapi, kenapa dia menyembunyikan soal penyakitnya? Ah! Dia orang sakit. Tidak seharusnya aku mempertanyakan sedetail itu tentang apa-apa yang dia pikirkan. Kasihan dia, menanggung derita seperti itu hanya dengan seorang pembantu yang sudah tua. Betapa lelahnya Muya. Dan Laksmi? Pantas sangat liar. Dia adalah pribadi yang dibentuk oleh Muya yang sangat patuh pada peraturan."
Sayup-sayup terdengar seseorang bersenandung. Zaky mendengarkan dengan saksama. Dia menduga itu Laksmi, tapi dugaannya lenyap begitu sadar bukan langgam Jawa yang digumamkan.
"Apa itu Muya? Muya tidak suka musik, apalagi sampai bersenandung," gumam Zaky.
Penasaran, Zaky keluar dari kamar yang ditempatinya. Pelan-pelan ia menaiki tangga. Suara senandung itu kini semakin jelas. Gadis itu menyanyi dalam Bahasa Inggris.
Suaranya tidak melengking seperti Laksmi. Apa itu Muya? Zaky bertanya-tanya. Ragu hendak membuka kamar itu sendiri, Zaky turun lagi ke lantai bawah. Ia membangunkan Mbok Mun yang kali ini tidur di sofa ruang tamu.
Mbok Mun bangun sambil mengucek mata. Ia bertanya apa yang terjadi sehingga Zaky membangunkannya di tengah malam begitu. Zaky lalu menceritakan apa yang tadi ia dengar di kamar atas.
"Itu Laksmi apa Muya, Mbok?" tanya Zaky.
"Kalau nyanyi langgam Jawa berarti Laksmi, Mas," jawab Mbok Mun.
"Bukan. Dia nyanyi pakai Bahasa Inggris. Apa mungkin Muya?"
"Ndak, Mas. Nak Muya ndak pernah nyanyi. Lagipula kalau dia bangun, pasti sudah panggil mbok. Minta dibantu turun ke kamarnya."
"Kenapa kita ndak ke sana saja memastikan, Mbok?" Zaky mulai tidak sabar.
"Jangan, Mas. Mbok takut."
"Masa' orang sakit kita biarkan begitu saja, Mbok?" desak Zaky.
"Kita tunggu sampai besok pagi saja, gimana, Mas? Tadi mbok sudah diusir sama Laksmi. Nanti gimana kalau dia marah? Soalnya orang kalau ndak pernah marah, begitu marah bahaya. Kita kan belum tahu cara menghadapi amarahnya seperti apa."
Zaky mengusap wajah. Tampak frustasi. Namun, ia sadar bahwa Mbok Mun yang telah lama merawat Muya lebih tahu bagaimana cara menghadapi gadis itu.
"Ok. Kalau besok pagi Muya atau Laksmi tidak keluar, kita yang masuk ke sana," ucapnya.
Kemudian, Zaky beranjak ke kamar Muya. Ia tidak mengunci pintunya. Berjaga-jaga andai Mbok Mun membutuhkan bantuan. Setelah itu, Zaky bersiap tidur.
***
Zaky merasakan kemuraman di rumah yang sepi itu ketika pagi harinya membuka jendela ruang tamu. Halaman yang luas dengan rumput-rumput kurang terawat, pintu garasi yang sudah pudar warnanya, dan kolam ikan di pojok halaman dengan lumut tebal sampai terlihat kehitaman.
"Pantas Mbok Mun menyebut Muya kerasukan roh Laksmi. Memang dilihat sekilas rumah ini sepi dan menyeramkan," gumam Zaky.
Zaky membalikkan badan saat terdengar langkah kaki mendekatinya. Ternyata Mbok Mun yang datang. Perempuan itu membawa nampan berisi kopi dan setoples biskuit, lalu meletakkannya di meja.
"Monggo diminum kopinya, Mas. Mumpung masih pagi. Biar ndak buru-buru nanti berangkat ke kantor," ujar Mbok Mun.
"Aku ndak ke kantor, Mbok. Aku ingin tahu keadaan Muya atau Laksmi," kata Zaky.
Jauh di dalam hati, pria itu senang mendapati kenyataan bahwa dua wanita yang dicintainya ternyata satu orang, satu tubuh. Ia sangat ingin menemui salah satunya hari ini. Jika Muya yang muncul, Zaky ingin meminta maaf atas perlakuan kasarnya selama ini. Jika Laksmi yang muncul, Zaky akan meminta maaf juga karena sudah mendesaknya untuk memberi jawaban. Padahal itu tidak perlu, Laksmi memang istrinya. Entah diakui atau tidak, itulah kenyataannya.
"Mbok, semisal aku bawa Muya ke Singapura untuk berobat bagaimana?" Kini Zaky duduk di sofa dan mulai menyeruput kopi.
Mbok Mun yang berdiri tak jauh dari Zaky tampak bingung. "Jika menurut Mas Zaky itu yang terbaik, mbok setuju saja. Mbok kan cuma bantu-bantu di sini. Tapi, bukannya Dokter Deya itu sudah bagus? Dulu, waktu mbok tanya Nak Muya kenapa ndak cari dokter lain saja biar cepat sembuh, dia bilang Dokter Deya itu sama saja dengan dokter di negara maju. Sama-sama sekolahnya di Amerika, katanya," terang Mbok Mun.
Tiba-tiba ada suara menyela.
"Siapa yang sekolahnya di Amerika?"
Mbok Mun dan Zaky bersamaan menoleh ke asal suara. Wanita itu berdiri di kaki tangga dengan celana palazzo dan kaos putih lengan panjang. Ia memakai pasmina yang dibentuk serupa turban di kepalanya.
"Muya?" lirih Zaky.
"Laksmi?" Mbok Mun pun bertanya-tanya.
Gadis itu berjalan mendekati dua orang itu. Menatap bergantian. Lalu, "Aku bukan Muya. Juga bukan Laksmi. Aku tak punya nama. Tapi, aku mengenal mereka berdua dengan baik. Aku juga mengenalmu." Gadis itu menunjuk Mbok Mun. Ia melanjutkan, "Kau sudah bekerja di rumah ink sejak aku masih kecil. Kau seorang yang sangat menyayangi kami. Dan kau ...."
Gadis itu menunjuk Zaky. "Kau adalah segalanya bagi kami."
Zaky terpaku. Pikirannya mulai menerka-nerka.
"Aku turun ke mari karena ada email masuk ke ponsel Laksmi. Dari Dokter Deya. Beliau pulang tadi malam untuk liburan akhir tahun. Aku ingin menemuinya sebelum menyelesaikan masalah antara Muya, Laksmi, dan kau, Mas Zaky. Apakah kau mau mengantarku?" Gadis itu menatap Zaky.
Zaky memandang dengan saksama.
Apakah ini kepribadian baru? pikir Zaky. Tanpa pikir panjang, pria itu bersedia mengantar. Mbok Mun diajaknya juga. Gadis itu tidak keberatan.
Selama perjalanan, benak Zaky penuh dengan dugaan-dugaan. Mbok Mun yang duduk di jok belakang terus membaca doa di dalam hati. Ia yakin, tubuh majikannya ditempeli roh lain. Sedang gadis yang kini duduk di samping Zaky sebentar-sebentar mengulas senyum. Pancaran matanya teduh dan gerakan tubuhnya tenang.
Laksmi tidak banyak tersenyum, tapi tertawa terbahak-bahak. Lalu, Muya hanya tersenyum sesekali. Aku pernah dengar seseorang dengan kepribadian ganda tidak mungkin hanya memiliki dua kepribadian. Mungkin saja ini yang ketiga, pikir Zaky.
Setibanya di tempat Dokter Deya, mereka disambut hangat. Setelah Zaky memperkenalkan diri dan memberi tahu apa hubungannya dengan Muya, Dokter Deya mengatakan bahwa Muya dan Laksmi adalah satu-satunya pasien yang ia terima selama liburan kali ini. Zaky mengucapkan terima kasih atas pengkhususan itu. Kemudian, Dokter Deya mengajak gadis tak punya nama itu masuk ke ruangannya. Sementara, Zaky dan Mbok Mun diminta menunggu di luar dulu.
Keduanya menunggu dengan harap-harap cemas. Mbok Mun duduk di kursi kayu, sementara Zaky mondar-mandir.
"Semoga setannya yang ini ndak krasan di tubuh Nak Muya. Kasian," kata Mbok Mun.
"Amin," sahut Zaky.
Apa saja yang penting segera ketemu obatnya, pikir Zaky.
Ketika gerendel pintu ruangan diputar, mereka menoleh. Ingin tahu siapa yang keluar. Ternyata Dokter Deya.
"Saudara Zaky, dia ingin bicara denganmu. Mbok Mun silakan ikut. Dia tidak berbahaya," terang Dokter Deya.
Gadis itu mengulas senyum ketika orang-orang itu masuk. Ia memandang Zaky yang memilih duduk di hadapannya. Mbok Mun duduk di samping Zaky. Sedang Dokter Deya mengambil tempat di sebelah kiri gadis itu.
"Mas Zaky, Dokter Deya memberiku nama Miya. Gabungan nama Laksmi dan Muya, itu karena aku menyimpan memori keduanya. Aku mengingat dengan baik bagaimana kalian berkenalan, pernikahan hingga malam pertama yang memilukan itu." Gadis itu memulai. Ia tetap menyungging senyum.
Ia melanjutkan, "Seperti yang tadi kukatakan, aku akan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian karena Muya terlalu takut untuk jujur, sedang Laksmi terlalu tidak peduli dengan hubungan hati. Mas Zaky, suamiku, maukah kau percaya padaku?"
Zaky mengangguk. Miya meraih tangan Zaky dan menggenggamnya.
"Pada malam kau makan dengan Laksmi di restoran atap, kau bilang butuh kejujuran istrimu, yang tak lain adalah Muya kan? Muya tidak pernah dijamah siapa pun. Dia benar-benar suci. Bahkan membayangkan tentang hal itu pun dia takut berdosa," terang Miya.
Zaky diam sejenak. Lalu, "Berarti Laksmi? Dengan siapa dia melakukannya? Apa dalang itu?"
Miya tersenyum lagi. "Prasetyo tidak pernah menjamah Laksmi. Dia memang gadis urakan, tapi dia takut kena penyakit sehingga enggan untuk bermalam dengan pria. Kau mungkin akan terkejut mendengarnya. Laksmi memiliki vibrator di kamar mandinya dan dia juga suka terong, kadang timun."
Zaky mengernyit. Lalu ... tawanya pecah, membahana, memenuhi ruangan itu. Dokter Deya tersenyum malu-malu. Sedang Mbok Mun garuk-garuk kepala. Tidak paham dengan kata-kata Miya.
"Kurang ajar Laksmi itu," ujar Zaky di sela tawa.
"Jadi, apa Mas mau memaafkan Muya dan membatalkan rencana cerai?" Miya memastikan.
"Ya, tentu saja tidak jadi cerai. Seandainya dari awal aku tahu seperti ini keadaannya, tidak mungkin aku bersikap begitu." Zaky meyakinkan.
"Berarti aku masih istrimu. Tapi, aku memiliki syarat, Mas."
Zaky menurut saja. "Iya katakan."
"Aku tidak bisa selalu merawat ibumu. Sudah ada Bi Narti yang menjaganya dengan sangat baik. Aku akan sering-sering mengunjunginya, meski tidak setiap hari. Lalu, nanti kalau kau mengharapkan anak. Aku hanya akan memberimu satu. Tidak mau lebih," kata Miya dengan mantap.
Zaky menatap Dokter Deya, agak terkejut. Mengerti kebingungan Zaky, Dokter Deya pun menjawab, "Dia adalah perdamaian Muya dan Laksmi."
"Kau tahu sejak awal aku tidak pernah mempersoalkan itu, Miya," kata Zaky kemudian.
Sebelum pulang, Dokter Deya berpesan pada Zaky agar selalu mensupport istrinya. Entah yang muncul Muya, Laksmi, atau Miya.
"Tapi, sepertinya, Miya ini akan bertahan karena dia bisa berdiri di antara Muya dan Laksmi. Yang pasti, jaga istrimu baik-baik. Meski jarang yang mengalami, tapi kau tidak sendiri, Zaky. Ada beberapa di luar sana, orang yang berpasangan dengan satu orang, tapi rasanya seperti berpasangan dengan tiga orang sekaligus bahkan lebih," kata Dokter Deya mengakhiri pertemuan pagi itu.
***

Komentar Buku (91)

  • avatar
    Indah Lestari

    bagus sekali saya suka

    12/11

      0
  • avatar
    SenjaRaisa

    sangat 👍

    05/07/2025

      0
  • avatar
    Risky Riski

    bagus

    13/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru