Bab 31 Baikan

ISTRIKU YANG BULUK MENJADI REBUTAN
BAIKAN
POV YUSUF
“Gak nyangka bisa ketemu lagi sama Abang,” tutur Kartika.
“Kamu di sini udah lama, Tik?” tanyaku basa-basi.
“Baru dua tahun, Bang. Ini juga ikut temanku, di kampung susah dapet kerja,” ungkapnya.
Tak hentinya aku dan Kartika tertawa saat mengingat masa sekolah dulu. Dia yang terkenal tomboy selalu membelaku saat aku menjadi bahan bullyan teman-temanku yang lain. Masa-masa muda memang indah jika diingat kembali, sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang.
“Dek … kopi susunya satu, ya,” pinta Robby yang baru saja datang. Kartika bangkit dan membuatkan pesanan Robby.
“Sok akrab banget lo, manggil Dek segala,” protes Yusuf.
“Kenapa lo yang protes? dia aja gak keberatan kok. Yang sok akrab itu lo bedua, gue lihat dari tadi kalian ngobrol sambil ketawa-ketawa,” balas Robby.
“Dia temen sekolah gue dulu, kebetulan aja ketemu lagi di sini,” jelasku.
“Kenalin ke gue dong,” tuturnya sambil tersenyum dan matanya berkedip-kedip.
“JIjik banget! Sono lo jauh-jauh.”
“Lumayanlah buat menghangatkan malam gue yang dingin,” gumam Robby sambil menatap Kartika yang berjalan mendekat membawa pesanan Robby.
“Lo kira dia penghangat ruangan apa?!” semprotku.
“Kopinya, Bang.” Kartika menyimpan kopi itu di depan Robby, senyum tidak lepas dari wajahnya. Kartika memang terkenal dengan murah senyumnya.
“Kenapa jadi lo yang lihatin dia terus. Sadar anak bini lo di rumah!” tegur Robby.
“Kenapa? orang cuman lihatin doang, toh gue juga gak tidur sama dia,” balasku.
“Nyerempet masalah ranjang segala, jangan-jangan otak lo udah ngeres,” ledek Robby sambil tertawa. Untung Kartika sudah pergi untuk melayani pelanggannya yang lain jadi dia tidak mendengarkan obrolan bar-bar antara aku dan Robby.
“Yang ada otak lo yang ngeres!” balasku.
“Hampa banget hidup gue gak bisa main game,” keluh Robby.
“Lebay lo. Tinggal main game aja apa susahnya,” seruku.
“Kalau ada jaringan dari malem–”
“Maksud lo disini gak ada jaringan?” tanyaku meyakinkan.
“Kan gue udah bilang kemarin, lo gak denger apa?” ujarnya dengan nada kesal.
“Gue kira Willia gak ada hubungin gue. Ternyata jaringannya yang gak ada,” gumamku.
“Beg*. Makanya kalau gue ngomong dengerin, jangan ngelamun!”
Tanpa memperdulikan ucapan Robby aku berlari ke arah tempat yang kutinggali. Membereskan semua barangku, aku harus pulang sekarang juga. Aku merasa bersalah karena mendiamkan Willia dan tidak pamit kemarin. Dia pasti cemas, diri ini terlalu larut dalam amarah dan tidak mengesampingkan ego.
“Lo mau kemana bawa koper segala?” tanya Robby heran.
“Gue mau balik. Nanti gue suruh Arkan kesini buat gantiin gue!” jelasku. Aku menunggu salah satu anak buahku membawa mobil untuk mengantarku ke bandara.
“Lo baru nyampe, kenapa langsung balik? Proyek aja belum dimulai,” protes Robby.
“Gue ada urusan yang penting. Lebih penting daripada proyek ini,” jelasku.
“Paling besok Arkan baru nyampe sini,” lanjutku sebelum naik ke dalam mobil.
Dari kemarin pikiranku buruk karena mengira Willia benar-benar tidak peduli. Tidak pantas memang aku pergi tanpa menyelesaikan masalah yang ada. Harusnya aku memang menyelesaikannya sebelum pergi.
Saat sampai di bandara, baru mengaktifkan ponsel dan banyak pesan dan panggilan masuk dari istriku. Dia pasti sangat cemas karena aku sulit di hubungi. Beruntung mendapatkan penerbangan yang paling cepat, meskipun harus menunggu dua jam. Itu sangat lama bagiku.
Tidak berniat membalas pesan Willia, aku akan mengejutkannya. Toh, dia pasti tahu aku akan pergi lama, sudah jelas dia akan menanyakannya pada Arkan.
Perjalanan berjam-jam lamanya membuat tubuh ini rasanya remuk. Apalagi kemarin aku baru melakukan perjalan panjang ke sana dan hari ini melakukan perjalanan yang sama. Tapi demi Willia aku akan melakukan apapun.
Jam sembilan malam aku baru sampai di rumah. Sengaja aku pulang menggunakan taxi online.
“Dimana istriku?” tanyaku pelan pada Budi.
“Ada di dalam, Pak,” balasnya.
Mengendap-endap aku mencoba masuk, membuka pintu dengan perlahan.
“Mas Yusuf baca chat gue tapi kok gak di bales, ya?” tanya Willia pada Mega. Aku bisa melihatnya seperti orang gelisah bolak-balik di depan Mega yang malah fokus menonton.
“Mungkin dia sibuk kali, Wil. Nanti juga dibales, kok. Minggir dikit, gue lagi nonton!” balas Mega.
Willia dengan wajahnya yang cemberut berjalan ke taman belakang, dengan berjalan pelan aku mengikutinya dari belakang.
“Perasaanku gak enak lagi. Apa jangan-jangan disana Papa lagi di godain sama cewek-cewek, ya. Tadikan Arkan bilang kalau disana itu banyak tempat lokalisasi, tempat para cowok yang cari kehangatan. Nggak … Papa gak mungkin main di belakang aku. Mana dia susah dihubungi lagi.”
Mencoba menahan tawa mendengar Willia mengoceh sendiri, perlahan aku berjalan mendekat dan memeluknya dari belakang membuatnya langsung menjerit.
“Argh … siapa kamu?!” teriaknya.
Memutar badannya hingga kini saling berhadapan, wajahnya terlihat kaget. Setelahnya senyum terbit di wajah itu.
“Papa ….”
“Kenapa? Gak suka kalau Papa pulang secepat ini?” tanyaku. Tangan ini melingkar di pinggangnya yang ramping. Beberapa bulan ke depan pasti akan mulai melebar karena ada malaikat kecil dalam tubuh istriku.
“Katanya mau ke kalimantan? Papa bohong, ya?” selidiknya dengan mata yang menyipit.
“Papa gak bisa jauh dari Mama. Makanya Papa pulang lagi, tapi … Papa ngerasa kuping ini dari tadi panas. Kayak ada yang ngomongin.” ledekku.
Wajahnya kini jadi memerah, ia bersembunyi di dadaku sambil melingkarkan tangan di pinggang ini.
“Papa denger pas tadi Mama ngomong sendiri, ya?” tanyanya.
“Buat kali ini, Papa mau Mama jujur, jangan sembunyikan apapun!”
Bersambung ....

Komentar Buku (51)

  • avatar
    RamadhanNazril

    sangat bagus

    04/06/2025

      0
  • avatar
    NuryantiAde

    very cool

    29/03/2023

      0
  • avatar
    ClokNiko

    bagus

    07/12/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru