Bab 23 Dalang Kerusuhan

ISTRIKU YANG BULUK MENJADI REBUTAN
DALANG KERUSUHAN
BAB 23
"Aku gak bakalan ninggalin kamu, Sayang. Tapi kamu janji ya, harus nurut sama apa yang aku bilang," ujar Niko yang langsung dijawab anggukan singkat oleh Raysa.
"Ya udah, kita mandi yuk. Habis itu jalan-jalan," lanjutnya. Raysa kembali membohongi sang ibu, ia menginap di rumah Niko bukan Nola. Raysa menjual nama temannya itu agar diizinkan untuk pergi ke luar.
***
Ting!
Denting suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Wilia. Wanita itu langsung merogoh ponsel dalam tasnya.
[Kita belum mendapatkan informasi apa-apa, Bu. Rekaman cctv di setiap sudut tempat yang ibu datangi saat di Labuan bajo tidak ada, katanya filenya hilang. Saya akan tetap mencari informasi mengenai orang itu.]
"Niat banget orang itu buat nguntit gue," batin Wilia. Ia kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas.
"Dari siapa, Ma?" tanya Wilia.
Wilia ragu untuk menceritakan yang sebenarnya pada sang suami. Tapi tidak benar memang jika ia menutupi masalah yang mengganggu ini dari Yusuf.
"Mama ngerasa ada yang ngikutin tau gak, Pa. Awalnya tuh pas kemarin Mama pergi ke Bali, bahkan pas kemarin kita ke Labuan Bajo orang itu masih ngikutin juga. Mama gak tahu sih, itu orang yang sama atau enggak. Orang itu juga neror lewat wa. Mama gak tau motif orang itu apa," jelas Wilia panjang lebar.
Yusuf yang sedang menyetir jadi terbagi fokusnya, ia memilih menepikan Range Rover hitam itu.
"Kenapa Mama baru bilang sekarang?" tanya Yusuf.
"Mama cum–"
"Dengerin Papa baik-baik, jangan ada yang di sembunyikan apapun itu! Kita suami istri, Ma. Harus saling terbuka, Papa gak suka kalau Mama simpan sendiri masalah kayak gini," tutur Yusuf memotong perkataan Wilia.
Wilia menunduk, merasa bersalah karena tidak mengatakannya sejak awal.
"Papa bakal nyelidikin masalah ini juga," lanjutanya.
"Gak usah, Pa. Mama udah suruh orang buat nyelidikin ini. Orang suruhan Mama bilang, rekaman cctv di setiap sudut tempat yang Mama datangi saat di Labuan bajo gak ada, katanya filenya hilang. Gak masuk akal, kan?"
"Udah gila kayaknya tuh orang. Sampe serinci itu dia ngurusin masalah cctv. Buat sementara waktu Mama gak usah keluar rumah kalau gak sama Papa!" pesan Yusuf. Mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.
Tiga hari berlalu, Wilia tidak pernah keluar rumah. Bahkan sekarang Yusuf memperketat keamanan di rumahnya. Empat bodyguard kini tidak pernah jauh dari gerbang rumahnya.
Yusuf juga menyuruh Mega untuk tinggal sementara sembari menemani Wilia. Ia tidak mungkin menyuruh ibunya karena wanita itu pasti akan banyak bertanya. Yusuf hanya tidak ingin wanita paruh baya itu terlalu stres dengan masalah yang ada.
"Gue bosen di rumah terus, Ga," gerutu Wilia sambil memakan keripik singkong dengan mata yang menatap ke arah televisi.
"Sama, gue juga bosen tau. Apalagi susah kalau mau handle urusan kantor kalau dari rumah," balas Mega.
Mega hanya bisa keluar rumah saat Yusuf sudah pulang.
Ting!
[Ini data orang-orang yang melakukan penerbangan bersamaan dengan ibu berangkat ke Labuan Bajo kemarin.]
Pesan masuk dari orang suruhan Wilia disertai deretan data orang lain yang melakukan penerbangan yang sama dengan waktu yang sama pula. Wilia membayar mahal untuk mereka, sampai mereka bisa mendapatkan data yang sebenarnya sulit untuk diketahui orang luar.
Niko Suntara
Nama itu berada di antara deretan nama-nama lain yang tidak Wilia kenal.
"Apa dia Niko yang sama?" guamam Wilia. Ia tidak ingin sampai salah orang, karena yang memiliki nama Niko tidak hanya satu orang di dunia ini.
[Cari tahu soal orang yang bernama Niko Suntara!]
Wilia mengirim pesan balasan dengan cepat.
"Kenapa, Wil?" tanya Mega penasaran.
"Menurut lo, orang yang di data ini apa Niko yang sama? Maksud gue pacarnya Raysa,"
"Bisa jadi, emang lo pernah ketemu sama si Niko?"
"Pernah beberapa kali. Tiap ketemu dia, gue ngerasa risih karena dia tuh liatin gue ampe segitunya," ungkap Wilia.
"Jelas kalau kayak gini. Kayaknya dia tuh terobsesi sama lo, deh," ujar Mega.
"Masa sih? Dia kan pacarnya Raysa. Masa demen sama ipar pacarnya sendiri."
"Banyak kemungkinan tau. Apalagi lo kan cantik, cowok mana coba yang bisa menolak pesona seorang Wilia. Makanya nanti kalau gue punya laki, gak bakalan gue kenalin ke lo. Takutnya nanti dia kepincut lagi." Mega tertawa lepas setelah berbicara panjang lebar.
"Laki gue juga ngelarang gue buat ikut pesta lagi, cuman karena cemburu gue di liatin banyak cowok. Kenapa gak sekalian aja gue di sekap di rumah coba," sungut Wilia.
Suara ketukan pintu membuat Wilia langsung beranjak.
"Maaf, Bu. Ini ada paket buat ibu, belum saya buka. Tapi saya pastikan ini aman," tutur lelaki berbadan tegap saat pintu itu terbuka. Wilia mengambil alih kotak itu dan kembali masuk.
Semua bodyguard itu memiliki alat yang canggih yang bisa mendeteksi barang itu berbahaya atau tidak tanpa membuka atau menyentuhnya. Yusuf memang mencari bodyguard terbaik untuk menjaga rumahnya.
Wilia membuka kotak itu, matanya membelalak saat melihat foto vulgar yang berisi dirinya dan seorang lelaki yang wajahnya ditutupi stiker.
[Aku gak sabar untuk memilikimu seutuhnya, Sayang.]
Tulisan yang berada di balik foto itu.
Mega yang penasaran ikut mengintip.
"Astaga … siapa yang berani ngasih ini!" seru Mega. Ia juga sama kagetnya dengan Wilia.
"I–ini buka gue, Ga. Gue gak pernah sekalipun foto kayak gini!" seru Wilia sambil melempar foto-foto itu ke lantai. Mega yang melihat Wilia ketakutan dengan cepat memungut foto itu dan menyimpannya di tempat lain.
"Calm down, Wil! Lo jangan panik, oke. Inget, Lo lagi hamil sekarang," tutur Mega.
Wilia mencoba menenangkan dirinya, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Meskipun mencoba untuk tenang tapi tetap saja Wilia merasa terganggu dan resah dengan teror yang selalu mengarah padanya.
"Ga, telepon Mas Yusuf. Suruh dia pulang sekarang," pinta Wilia dengan suara parau.
Tanpa bertanya apapun lagi, Mega langsung menghubungi Yusuf dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
Tidak lama setelah di hubungi Yusuf datang, dadanya naik turun menahan amarah.
"Dimana Wilia?"
"Habis minum obat tadi aku suruh istirahat, Bang," jawab Mega. Wilia pasti tertidur karena obat yang ia minum memang memiliki efek rasa kantuk.
Mega menyerahkan kotak yang berisi foto-foto vulgar dengan wanita yang mirip dengan Wilia di dalamnya.
"Bangs*t!" Geram Yusuf, ia meremas foto itu penuh amarah.
"Wilia kelihatan kayak panik, takut sama tertekan, Bang. Itu gak bagus buat kondisinya yang hamil muda kayak gini," seru Mega.
"Niko … dia yang ada di balik semua ini!"
Bersambung ....

Komentar Buku (51)

  • avatar
    RamadhanNazril

    sangat bagus

    04/06/2025

      0
  • avatar
    NuryantiAde

    very cool

    29/03/2023

      0
  • avatar
    ClokNiko

    bagus

    07/12/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru