Suasana malam yang sunyi, keheningan di pekarangan sebuah rumah bergaya klasik nan mewah dan besar dengan halamannya yang luas terusik oleh suara deru mobil. Dua mobil mewah pun segera terparkir dengan rapi. Setelah mesin mobil dimatikan, Satria keluar dari mobil diikuti Harris dan Lisa yang keluar dari mobil yang satunya. Memasuki rumah, mereka segera menuju ke ruang keluarga. Lalu mereka bertiga duduk di sofa, Satria duduk berseberangan dengan kedua orang tuanya yang duduk berdampingan. Tangan Satria meraih remote dan menyalakan tv, tapi tak lama kemudian mematikan tv itu lagi dan meletakkan remote dengan kasar, Satria terlihat sangat bingung akan berbuat apa saat ini. Dalam waktu yang tidak lama, Satria sudah beberapa kali mendengus kasar dan pandangan yang nanar. Harris dan Lisa saling berpandangan, menyadari ada masalah berat yang sedang dihadapi oleh putra mereka. Tak ada orang tua yang senang melihat anaknya menderita begitu juga dengan Harris dan Lisa. Sejenak mereka memilih diam agar tidak menambah beban anaknya, meskipun ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan dan ada banyak masalah yang ingin didiskusikan. Mereka memilih menunggu sampai Satria lebih tenang agar mereka bisa membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi dengan kepala yang jernih. Jika Hanin tidak segera ditemukan, pernikahan yang sudah lama diimpikan dan direncanakan Satria terancam akan batal. Bukan hanya itu, dia juga akan kehilangan orang yang dicintainya. Lalu bagaimana dengan keluarganya, rasa malu tak bisa dihindari jika pernikahannya harus batal. Pertanyaan dari relasi-relasi bisnis yang akan membuat suasana menjadi canggung, dan yang paling ditakutkan adalah kejadian ini akan berimbas pada perusahaan mereka. Dan untuk uang yang sudah dikeluarkan yang jumlahnya tidak sedikit pun akan hilang dengan percuma. "Satria." Dengan suara lembut Lisa memanggil anaknya. Satria hanya mengalihkan pandangannya ke Lisa tanpa menjawab panggilan tersebut. Harris meraih tangan Lisa, memberi tanda agar Lisa tidak menambah beban Satria dengan banyak pertanyaan. "Apa yang akan kau lakukan?" Satria tetap diam dan memandangi Lisa, lalu Satria hanya menggelengkan kepala. "Kita harus membicarakan masalah ini, waktumu tidak banyak nak." Akhirnya Lisa tak mampu lagi menahan laju bulir bening yang keluar dari matanya. "Ma." Harris menggelengkan kepalanya sambil menyentuh lembut punggung tangan Lisa, ia berusaha menahan istri cantiknya itu untuk tidak mendesak Satria. "Mama benar pa, saya tidak bisa terus diam. Setelah melewati malam ini, waktuku hanya tinggal empat hari lagi." Satria berusaha tegar di depan orang tuanya. "Mama buatkan kopi, biar ngobrolnya lebih enak." Lisa bangkit dan meninggalkan anak dan suaminya sambil menyeka air matanya. Tak butuh waktu yang lama, Lisa sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi dua gelas kopi dan satu gelas teh. Lisa memberikan kopi untuk Satria, dia sangat terkejut saat melihat pipi kiri anaknya yang merah seperti bekas ditampar. Setelah meletakkan kopi di meja, Lisa menyentuh dengan lembut pipi putranya. "Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?" Tampak kecemasan di wajah Lisa. Satria meraih tangan ibunya lalu memalingkan wajahnya. Tak lama kemudian Satria menatap ibunya dengan tersenyum, "Nggak apa-apa Ma." "Adiknya Hanin tadi? Yang seperti pembantu itu?" Satria dan Harris terkejut dengan ucapan Lisa, karena selama ini Lisa tidak pernah menilai orang lain dari penampilannya, karena dahulu Lisa pun berasal dari keluarga biasa. Memang penampilan Handa tadi sangat jauh berbeda dengan Hanin yang begitu modis dan anggun dalam situasi apapun. Begitu juga dengan Marini, walaupun sudah berumur tetapi gaya berbusana dan dandanannya tetap elegan untuk wanita seusianya. "Benar dia?" tanya Harris singkat. Satria hanya mengangguk pelan. Harris dan Lisa mendengus menatap putra mereka, keputusasaan terlihat jelas di sorot mata putranya. Meskipun Satria putra mereka, tetapi dalam hal ini, mereka yakin Satria lah yang bersalah. Mungkin masalah yang sedang dia hadapi saat inilah yang mendorong putranya berbuat kesalahan hingga harus menerima perlakuan buruk dari seorang perempuan yang baru ditemuinya. "Apa yang kau lakukan hingga dia menamparmu? Mama tahu kau sedang tertekan, tapi kamu jangan bertindak di luar batas!" Nasihat Lisa untuk putranya. "Mama tak perlu khawatir, aku tidak melakukan apapun padanya." "Satria, katakan sejujurnya!" Harris menatap tajam ke arah Satria, tatapan mata tajam dari seorang ayah akhirnya berhasil mengintimidasi Satria. "Aku hanya menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki, mungkin itu yang membuatnya menjadi risih." Satria menjawab dengan santai. "Apa maksudmu? Jelaskan!" Lisa menggelengkan kepala. "Dia itu calon adik iparmu, Satria." "Aku hanya ingin memastikan bahwa Handa layak menggantikan posisi Hanin, jika Hanin tidak kembali sampai hari pernikahan." Harris dan Lisa saling berpandangan, tak percaya dengan kata-kata telah yang mereka dengar yang keluar dari mulut Satria. Seputus asa inikah putranya? Itulah pertanyaan yang kini mengelayuti pasangan paru baya itu. "Apa maksudmu Nak?" Lisa berusaha tetap tenang bertanya pada Satria putra semata wayangnya tersebut. "Handa harus menggantikan posisi Hanin untuk menikah denganku," ucap Satria dengan nada datar. "Ini pernikahan Satria, jangan main-main!" Bentak Harris menunjukkan bahwa dirinya tidak setuju dengan keputusan yang akan diambil oleh Satria. "Aku tahu Pa tapi coba papa pikir apa yang akan terjadi jika aku gagal menikah?" "Pernikahan ini akan kau jalani seumur hidup Nak, apa yang kau takutkan jika pernikahanmu tidak jadi terlaksana?" Lisa mencoba mengingatkan putranya mengenai pernikahan yang akan ia jalani. Melihat Satria yang hanya diam, Lisa menyakini apa yang dilakukan anaknya lebih karena suasana hatinya yang sedang kacau dan tertekan. "Jangan kau paksakan, kau tidak mencintainya, dan sepertinya dia pun begitu." "Dengan mengumumkan pernikahanku dengan Handa, aku harap Hanin akan kembali, jika Hanin tetap tidak kembali ... mau tidak mau Handa harus mengantikan Hanin menikah denganku." "Kita tidak bisa memaksa gadis itu," sergah Lisa. "Bisa," jawab Satria singkat dengan nada dingin, membuat kedua orang tuanya hanya saling berpandangan, tidak tahu apa yang sedang direncanakan putranya di saat-saat genting seperti ini. "Jika Handa tidak mau menikah denganku, keluarganya harus mengganti semua biaya yang sudah kita keluarkan. Uang akan menjadi ancaman yang ampuh bagi keluarga itu, termasuk Handa." Satria berdiri dan segera meninggalkan kedua orang tuanya. "Jangan egois kamu Sat!" Bentak Harris setelah mendengarkan rencana putranya yang dianggapnya sangat konyol tersebut. "Aku mau istirahat dulu Pa, besok pagi kita ke sana lagi untuk membicarakan hal ini, setidaknya kita memberi waktu mereka untuk berpikir." Satria melangkah dengan bergegas tanpa mempedulikan kedua orang tuanya. Harris dan Lisa memandangi anaknya yang memasuki kamarnya, mereka saling berpegangan untuk saling menguatkan menghadapi permasalahan putranya. *** Terdengar suara gemericik air, Satria berdiri di bawah shower yang membasahi sekujur tubuhnya. Satria memukul dinding di depannya dengan tangan kirinya, lalu berdiri bertumpu pada lengannya tersebut. Nafasnya mulai tidak teratur dan rahangnya mulai mengeras, tampak ada kemarahan, emosi dan nafsu yang coba dikendalikan Satria. "Mengapa jadi begini?" Berbagai macam umpatan keluar dari mulut Satria. Satria tampak kesal dengan dirinya sendiri. "Mengapa kau begitu jauh berbeda dengan apa yang digambarkan kakakmu?" Bayangan saat pertama kali mata mereka saling beradu pandang membuat debaran jantung Satria beberapa kali lebih cepat. Tatapan mata Handa yang seolah-olah menantang dirinya untuk berbuat lebih. Hingga tiba-tiba Satria memejamkan matanya sambil mendesah. "Oh ... Handa!" Satria mendesah panjang menyebut nama Handa sambil memejamkan matanya. "Handa, kau harus bertanggung jawab dengan bibit unggulku yang terbuang percuma kali ini." Satria mengatur nafasnya yang sedikit berkejaran, lalu ia memulai membersihkan dirinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua