“Mbak Dia!” panggil Handa kepada wanita yang sudah hampir memasuki mobilnya. “Maafkan, Mas Satria! Dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya,” sambung Handa berusaha untuk menenangkan hati salah satu tamunya. Wanita yang bernama Nadia itu hanya menganggukkan kepala sambil memeluk erat Rio, seolah takut kehilangan putranya. Bukan untuk pertama kalinya dia mendengar jika Satria ingin mengadopsi Rio. Apalagi setelah Nadia hamil anak ke tiga, Satria semakin dekat Rio. “Tidak apa-apa.” Nadia terlihat berat untuk berbicara di depan Handa. “Semoga kalian segera diberi momongan,” sambung Nadia dengan wajah yang sendu. “Amin, terima kasih atas doanya.” Handa hanya bisa mengaminkan doa baik yang terucap dari mulut Nadia, meskipun terdengar tidak tulus. Handa merasa, Nadia mengucapkannya sebagai bentuk rasa tidak sukanya dengan Satria yang terlalu dekat dengan putra sulungnya. Dan juga sikap Satria yang secara terang-terangan ingin mengadopsi Rio. “Kami pamit dulu, terima kasih atas undangannya.” Tidak ingin terus berbasa-basi dan membuang waktu, Nadia segera memasuki mobilnya. Dan tidak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan Handa sendiri. Handa mengusap perutnya yang rata, dia teringat dengan pertemuan pertamanya dengna Nadia di Ungaran. Setelah double honeymoon yang dibiayai oleh Satria, memang Handa dan Nadia sama-sama mengandung. Nadia lahirlah Rio, sedangkan Handa mengalami keguguran dan sampai empat tahun setelah peristiwa itu Handa belum hamil juga. “Rio sudah pulang?” tanya Satria yang tiba-tiba sudah berada di belakang Handa. “Sudah, baru saja,” jawab Handa dengan suara yang terdengar lesu. “Hei … kenapa?” “Ayo! Di dalam masih banyak tamu.” Handa langsung meraih tangan Satria dan kembali memasuki ruangan. Handa tidak ingin terlihat sedih karena dia masih harus bertatap muka dengan rekan bisnis Satria yang lain. *** “Mas, lain kali jangan bilang mau adopsi Rio lagi, ya!” ucap Handa yang kini sudah berganti dengan jubbah tidur berbahan satin warna hitam. Handa duduk di depan meja rias, mengoleskan krim malam pada wajahnya. “Kenapa?” tanya singkat Satria sambil tersenyum menyeringai seolah menganggap ucapan Handa bukanlah hal yang serius. Pewaris tunggal Arga Group itu melangkah mendekati tempat sang istri berada. “Tadi Mbak Dia sampai nangis, dia benar-benar ketakutan kalau sampai kita mengadopsi Rio. Biasanya Mbak Dia itu ngomongnya baik-baik, tapi tadi dia pakai nyindir.” “Nyindir apa?” Satria menarik kursi agar bisa berbicara berhadapan dengan Handa. Dilihatnya raut wajah penuh kesedihan,dan Satria tahu hal ini tentu masalah anak yang sampai saat ini belum mereka miliki. “Ini masalah perempuan, Mas Satria nggak perlu ikut campur.” Handa berusaha mengalihkan pembicaraan dengan melanjutkan kembali kegiatannya melakukan perawatan ringan pada wajahnya. Dia tidak ingin masalah sepele seperti ini berbuntut panjang dan mengganggu hubungan bisnis antara Satria dan suami Nadia yang selama terkenal jujur. “Han! Kita menikah sudah hampir lima tahun, selama ini kita selalu percaya kejujuran dan keterbukaan yang membuat kita bisa bertahan, meskipun banyak ujian dan cobaan yang harus kita lalui. Katakan apa yang mengganjal di hatimu!” “Nggak ada,” jawab Handa sekenanya dan terdengar lesu. “Han!” Satria memanggil Handa yang sedang menundukkan kepalanya, tidak berapa lama kemudian terlihat punggungnya bergetar. Satria segera meraih tangan Handa seolah menuntun agar duduk dipangkuanya. Dengan lembut Satria menghapus air mata sang istri. Selama ini hubungan antara Handa dan Nadia berjalan sangat baik. Di antara begitu banyak istri rekan bisnisnya, Handa merasa paling nyaman berhubungan dengan Nadia, karena mereka memiliki latar belakang yang hampir sama, tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Satria sangat yakin jika istri dari rekan bisnisnya itu tidak memiliki niat untuk benar-benar menyakiti hati istrinya. “Kamu berteman dengan Nadia sudah lama, aku yakin dia tidak bermaksud menyakitimu. Mungkin memang aku yang salah, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.” “Selama ini Mbak Dia tidak pernah mengusik tentang anak, tapi tadi ….” Handa menggantung kalimatnya, dia menghela napas dalam-dalam berusaha untuk tetap tenang. “Masalah anak kita sudah punya kesepakatan, jadi tidak perlu mendengarkan omongan orang lain. Mama dan papa pun juga tidak pernah mengejar-ngejar kita untuk segera memberi mereka cucu. Lalu apa yang membuatmu terusik dengan ucapan Nadia? Jangan sampai masalah sepele justru merusak pertemanan kalian.” Handa memundurkan kepalanya untuk melihat wajah sang suami. Dia tidak menyangka jika mereka memiliki pemikiran yang hampir sama tentang masalah hubungan baik dengan Nadia dan juga suaminya. “Memangnya Nadia bilang apa, sampai membuatmu menangis?” tanya Satria, bukan untuk mengungkit sakit hati Handa tetapi hanya sekadar ingin tahu saja. “Mbak Dia selama ini kan nggak pernah bicara tentang anak, tadi dia sinis banget sok mendoakan semoga kalian segera dapat momongan. Ih! Rasanya seperti ….” “Dia kan mendoakan baik, dimana salahnya?” potong Satria yang merasa suasana hati istrinya sedang tidak baik. “Mungkin kamu yang terlalu terbawa perasaan, akhir-akhir ini aku perhatikan setiap kali melihat ada orang hamil kamu sering jadi uring-uringan. Setiap orang memiliki rejeki yang berbeda-beda, Han! Jika sampai saat ini kita belum diberi momongan, mungkin Tuhan sedang memberi waktu pada kita untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua yang untuk anak-anak kita kelak.” Handa mengangguk lemah mengiyakan kata-kata suaminya. Dipeluknya tubuh Satria dengan erat, dia merasa bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian dan kaya tentunya. Hingga akhirnya dia merasakan ada yang mengganjal dari posisi di mana dia duduk saat ini. “Mash!” “Mumpung habis didoain, bagaimana kalau kita usaha malam ini, siapa tahu doanya manjur,” bisik Satria tepat di telinga Handa. “Ya, katanya doa orang teraniaya itu sangat mustajab,” sahut Handa dibarengi dengan kecupan-kecupan kecil ke wajah Satria. “Teraniaya?” “Ya, Mas Satria menganiaya Mbak Dia dengan mengatakan akan mengadopsi Rio, mana ada ibu yang rela anaknya diambil? Sampai nangis-nangis lho.” Dengan sedikit kesusahan Satria berdiri dari posisi duduknya yang masih memangku Handa. Dan kini pasangan suami istri itu sudah berada di atas ranjang tempat tidur mereka. Handa terlihat pasrah di bawah kunkungan lengan kekar dan paha berotot suaminya. “Han! Katanya kalau pengen cepat punya anak, sebaiknya posisi perempuan di bawah. Jadi bagaimana kalau untuk malam ini kamu nggak naik dulu?” tanya Satria dengan hati-hati karena tidak ingin merusak suasana hati istrinya. Handa mengangguk pasrah, meski terlihat jelas gurat kekecewaan karena ada kesenangan yang harus terenggut.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua