Pukulan yang mendarat tepat di wajah Asta membuat wajah tampan yang mirip Satria itu penuh lebam dan berdarah. Tak ada tangis dan derai air mata, pria muda itu hanya bisa pasrah, karena tahu dan sadar kesalahan yang dilakukan. Di vila milik keluarga Argawinata ini, tidak hanya sekali Asta harus menerima hukuman dari Harris, dan biasanya itu terjadi tanpa sepengetahuan Satria maupun Lisa. Asta memejamkan matanya saat melihat Harris mengayunkan kakinya, bukan tendangan yang dia rasakan tetapi sebuah tubuh besar yang menimpanya. Ya, tubuh yang tiba-tiba harus tersungkur jatuh untuk melindunginya. “Minggir!” teriak Harris meminta agar Satria tidak melindungi Asta. “Anak iblis itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal,” lanjutnya dengan emosi yang sulit untuk dikendalikan. “Tapi yang kau sebut anak iblis itu anakmu, Pa! Darah dagingmu!” seru Satria dengan tampang kusut karena kurang istirahat, dan terlihat jelas matanya habis menangis. “Dia bukan anakku, karena aku tidak ingat telah menghadirkannya ke dunia.” Jika pukulan dan tendangan dari Harris tak mampu membuat Asta meneteskan air matanya, tetapi beda dengan lidahnya yang tajam, terasa menusuk tepat di palung hati terdalam. “Papa tidak bisa memungkiri darah papa yang mengalir di tubuh Asta.” Kini air mata kembali menetes dari mata pria tampan nan gagah itu. “Jika papa masih ingin menghajar Asta, hajar aku juga, Pa! karena darah yang mengalir pada tubuh kami, berasal sumber yang sama.” “Orang yang saat ini kau lindungi, adalah orang yang telah berulang kali berusaha untuk membunuhmu, bahkan karena dia kau harus kehilangan anakmu.” “Itu semua karena sikap burukmu kepada Asta.” Suara tegas seorang wanita mengalihkan perhatian tiga pria yang memiliki wajah mirip itu, Lisa yang baru saja datang bersama dengan Selo Ardi pun bergegas menghampiri Asta yang penuh luka dan tidak berdaya. “Mengapa kau selalu membelanya? Setelah apa yang dia lakukan pada anak kita?” Harris tidak pernah bersedia mengakui Asta sebagai anaknya, karena semua itu terjadi pada saat dirinya sedang mabuk. Bukan mabuk karena dirinya seorang peminum, tetapi wanita yang melahirkan Asta sengaja menjebak agar bisa menikah dengan Harris. Jika bukan karena hasil test DNA yang memang menyatakan jika Asta secara biologis adalah anaknya, Harris tidak akan pernah menyetujui keputusan Lisa yang untuk merawat Asta setelah ibu kandung Asta bunuh diri. “Dia juga anakmu! Seandainya kau memperlakukan mereka sama, tentu Asta tidak akan menyakiti Satria.” “Tidak mungkin, kita menghadirkan Satria dengan cinta, sedang dia ada karena muslihat yang sangat menjijikkan.” “Tidak ada anak yang ingin terlahir seperti Asta, bukan dia yang salah. Sudah cukup kau mengabaikan ibunya hingga dia meninggal, tapi jangan Asta!” Harris terdiam melihat istri dan dua anak lelakinya yang terlahir dari rahim yang berbeda. Bukan hanya karena Harris sangat mencintai Lisa, ada satu alasan yang membuatnya menuruti semua permintaan wanita yang telah dia nikahi tersebut. “Kalian pernah saling mencintai, seandainya bapak tidak memaksamu, mungkin saat ini kau telah berbahagia dengannya. Untuk menebus segala dosa-dosaku, ijinkan aku untuk merawat Asta,” pinta Lisa kala itu dengan berlinang air mata. “Bapak tidak pernah memaksaku, Beliau memberiku dua pilihan, dan aku memilih untuk menikahimu. Jadi jangan pernah merasa bersalah kepadanya, untuk Asta, kau boleh merawatnya tetapi dia tidak boleh serumah dengan kita dan dia tidak memiliki hak yang sama dengan Satria, anak kita.” Lisa menerima semua syarat yang diminta oleh Harris. Bagi Lisa, sebagai seorang ayah Harris tetap harus bertanggung jawab atas kehidupan Asta, tanpa harus mengingat bagaimana anak itu akhirnya terlahir ke dunia. “Jika rasa sayang tentu Satria akan lebih utama di hatiku, tapi ijinkan aku untuk memperlakukan mereka sama, karena aku ingin Asta mengingatku sebagai ibunya, dan dia tidak akan menyakiti Satria karena mereka bersaudara.” Sebuah pemikiran yang ternyata salah, karena setelah segala kebaikan Lisa kepada Asta, justru berulang kali dia berusaha untuk menyakiti bahkan berusaha untuk membunuh Satria. Hal itulah yang membuat Harria akhirnya murka, dan puncaknya saat mendengar Handa keguguran, setelah mendengarkan kebohongan Hanin yang mengatakan sedang mengandung anak Satria padahal sebenarnya anak dari Asta. “Aku mohon, Pa! Sudahi semua ini, aku yakin Handa pun akan semakin terluka jika mengetahui keluarga kita seperti ini.” “Baik! Aku beri kau waktu dua hari untuk pergi dari kehidupan keluarga Argawinata …” “Pa!” sergah Satria yang tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Harris, baginya Asta tetaplah saudaranya, meski sudah berulang kali berusaha untuk mencelakai dirinya. “Beri papa waktu, papa belum bisa menerimanya sekarang,” tegas Harris tidak ingin dibantah lagi. “Sel! Bawa dia keluar! Sebelum aku menghajarnya lagi,” perintah Harris dengan menatap tajam ke arah Asta. Dengan patuhnya, Selo Ardi langsung melaksanakan perintah dari Harris. Seandainya Satria dan Lisa tidak ada di sana, bisa dipastikan Selo Ardi akan menyeret tubuh Asta seperti seekor tikus. Tetapi kali ini Selo Ardi memapah tubuh ringkih Asta yang sudah penuh luka. Satria dan kedua orang tuanya menatap kepergian Asta dan Selo Ardi. Setelah keduanya sudah tidak terlihat lagi, dengan sorot mata yang tajam Lisa memandang ke arah suaminya yang sudah terlihat lebih tenang. “Kita temui Handa sekarang! Kasihan dia di rumah sakit sendiri,” ajak Harris kepada anak dan istrinya, sebenarnya mertua Handa itu hanya ingin mengalihkan fokus dari Satria dan Lisa, karena Harris merasa jenuh untuk membicarakan Asta lagi. *** “Maaf!” Satu kata yang lolos dari bibir Handa saat Satria mencium keningnya. Satria duduk di kursi yang berada di dekat brankar, diusapnya dengan lembut punggung tangan Handa yang terbebas dari selang infus. “Seharusnya mas yang minta maaf, karena tidak bisa melindungimu dan calon anak kita,” ucap Satria sambil mencium punggung tangan Handa dengan lembut. “Bagaimana dengan Mbak Hanin?” tanya Handa yang masih saja mengkhawatirkan saudaranya itu. “Dia akan segera menikah tetapi tidak dengan Asta,” jawab Satria tampak ragu untuk mengabarkan hal tersebut kepada istrinya yang belum pulih kesehatannya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua