logo text

Bab 57 Kejutan

Handa berdiri tak bergeming dengan mulut yang menganga lebar, beruntung dia berada di tempat yang bersih, jika tidak mungkin sudah ada lalat yang masuk ke dalam mulutnya. Handa benar-benar tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh matanya yang baru saja dibuka oleh Satria. Kini Handa sudah berada di dalam sebuah rumah mewah yang sudah lengkap dengan furniture dan perabotnya.
“Harga sebuah keperawanan,” bisik Satria tepat di telinga Handa, lalu dipeluknya dengan erat tubuh mungil wanita yang telah dia nikahi.
“Apa ini tidak berlebihan?”
“Seharusnya lebih,” ucap Satria sambil menghidu wangi rambut Handa yang baru saja selesai menjalani perawatan kecantikan secara paripurna.
“Bolehkah Handa minta lebih?” tanya Handa sambil memejamkan matanya, seolah tidak ingin kebahagiaan ini berlalu begitu saja.
“Katakan!” Untuk urusan yang berhubungan uang, sudah tentu bukanlah masalah besar bagi Satria, apapun yang diinginkan Handa semudah menjentikkan jari.
“Handa hanya minta, Mas Satria lebih lama di sini.”
Sebenarnya Satria pun merasa berat untuk berpisah dengan istri tercintanya, tetapi Satria harus secepatnya menyelesaikan masalahnya dengan Hanin, sebelum Handa mengetahui keadaan Hanin yang saat ini sedang mengandung.
“Mas hanya sebentar, Han! Kau bisa menyusul setelah sidang,” sahut Satria sambil memeluk tubuh Handa lebih erat lagi.
Satria butuh waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Hanin tanpa ada gangguan dari Handa. Pewaris tunggal Arga Group itu berharap mampu menyelesaikan sebelum Handa menjalani sidang skripsi, karena dia ingin menjadi orang pertama yang mendengar kabar baik kelulusan istrinya tersebut.
***
Sebelum kembali ke Jakarta Satria lebih dahulu mengantarkan Handa ke rumah Gunawan. Selain karena lebih dekat dari kampus, Satria tidak tega meninggalkan Handa sendirian di lingkungan baru sendirian.
Dengan senang hati Gunawan dan Lasmi menyambut kedatangan Handa. Dulu mereka menerima kedatangan Handa, saat gadis datang tanpa membawa apa-apa. Dan kini, seolah ingin membalas jasa kepada keluarga yang telah memberikan perlindungan dan kasih sayang kepada Handa, Satria tak segan untuk mengelontorkan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Selain mentransfer sejumlah uang pada Dharma untuk melunasi hutangnya pada Hanin juga untuk dana persalinan Damayanti yang diperkirakan harus dengan operasi cesar. Sedangkan untuk Gunawan, Satria membelikan ruko yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berjualan, sehingga Gunawan tidak harus bongkar pasang tenda setiap hari.
Sebenarnya Lasmi sangat sungkan saat melihat Handa yang masih tetap bangun pagi dan membantunya membuat dagangan seperti dulu, apalagi setelah apa yang diberikan oleh Satria kepada keluarganya. Tetapi sepertinya Handa sulit untuk merubah kebiasaan itu meskipun kini sudah menjadi istri orang kaya.
Ada yang berubah dalam diri Handa dan tidak luput dari perhatian Lasmi. Beberapa hari terakhir Handa terlihat mudah lelah dan tidak bisa bekerja segesit biasanya. Sebagai wanita yang sudah mengalami dua kali kehamilan dan akan memiliki dua cucu, Lasmi menaruh curiga dengan perubahan yang terjadi pada Handa.
Pekerjaan yang Handa lakukan saat ini bukanlah sebuah pekerjaan yang berat, karena hanya membuat sate telur puyuh yang akan menjadi dagangan Gunawan, tetapi berulang kali Handa menghela napas panjang dan terlihat sangat kelelahan. Setelah Handa menyelesaikan pekerjaannya dan cuci tangan, Lasmi segera menghampiri istri Satria tersebut.
“Han! Bagaimana kalau nanti kita ke Bu Hertin sebentar?” tanya Lasmi seraya mengajak Handa mendatangi seorang bidan yang biasanya menjadi tempat Damayanti memeriksakan kehamilannya.
Handa terdiam, menatap mata Lasmi. Mendengar nama bidan yang sudah kondang di lingkungan mereka, Handa pun langsung mengusap lembut perutnya yang masih langsing. Lasmi pun menganggukkan kepalanya seolah meyakinkan Handa tentang keadaannya yang saat ini tengah berbadan dua.
Di sebuah toilet yang sempit, Handa tersenyum lebar saat melihat dua garis merah pada benda pipih di tangannya. Ternyata dugaan dari Lasmi benar, dan tentu saja kehamilan ini akan menjadi kabar yang sangat mengembirakan bagi Satria dan juga kedua mertuanya.
Bukan hanya bahagia karena akan segera memiliki anak, tetapi di benak Handa pun terbayang betapa perkasanya sang suami saat mereka bersama berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut. Kini bukan hanya bahagia, tetapi rindu pun menyeruak di hati Handa berharap bisa segera bertemu dengan Satria, agar sang suami bisa menyapa calon anak mereka.
Meskipun setiap hari Handa dan Satria berkomunikasi, tetapi Handa belum menyampaikan kabar bahagia itu kepada keluarga Argawinata, terutama Satria, yang merupakan ayah dari janin yang dikandungnya. Handa ingin memberikan kejutan bersama dengan kabar kelulusannya, karena hari ini adalah sidang skripsinya.
Berlipat ganda rasa syukur diucapkan Handa, bukan hanya dari mulutnya tetapi juga dari hatinya. Di hadapan temannya yang menyaksikan dirinya diuji, setelah dinyatakan lulus, Handa menyalami seraya mengucap terima kasih kepada Pak Alim dan Pak Bayu yang merupakan dosen pembimbingnya.
Keluar dari tempat sidang, banyak teman-teman Handa yang menyalaminya. Tak ada lagi yang memandang buruk hubungan Handa dengan Satria, setelah mereka mengetahui kebenarannya. Apalagi teman-teman yang  mengetahui masa lalu Handa yang begitu berat, mereka pun turut senang dengan keberuntungan yang di dapatkan Handa saat ini, menikah dengan seorang yang kaya raya. Bahkan tidak sedikit yang meminta tolong agar diberi pekerjaan di perusahaan Arga Group.
Tidak bisa dipungkiri jika hubungan Handa dengan Pak Alim sudah benar-benar berubah. Dulu hati Handa akan terasa berdenyut nyeri kala melihat Pak Alim berjalan bersama dengan Bu Najwa, tetapi sekarang rasa itu berubah, Handa pun turut senang sang dosen idola tetap bahagia.
Seperti apa yang sudah Handa rencanakan jauh-jauh hari, jika dirinya akan ke Jakarta menyusul sang suami dengan membawa dua kabar bahagia sekaligus. Karena berniat memberi kejutan, maka Handa tidak mengabarkan kedatangannya. Menjelang jam enam petang, kereta yang membawa Handa telah tiba Stasiun Gambir, berbekal chat selama diperjalanan Handa mengetahui jika sang suami masih di kantor, dan tentu saja Handa langsung meluncur ke sana setelah mendapatkan taksi.
Untuk pertama kalinya Handa melangkahkan kakinya memasuki gedung Arga Group,berbekal foto pernikahannya Handa memastikan resepsionis dan pihak keamanan tentang jati dirinya yang merupakan istri dari Satria. kini Handa sudah melihat pintu ruang kerja Satria, hanya tinggal beberapa langkah lagi dia akan melihat wajah suami yang sangat dia rindukan.
Saat Handa hendak mengetuk pintu, ternyata pintu yang tidak tertutup rapat itu terbuka karena dorongan pelan tangan Handa.
“Mas!”
Tak percaya dengan apa yang baru aja dilihatnya, hingga bulir-bulir bening menetes membasahi pipi mulus Handa.

Komentar Buku (365)

  • avatar
    Nia Anjani

    Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....

    04/05/2022

      0
  • avatar
    SilfianaElita

    kalau lihat cerita depannya sih bagus ini

    15/08

      0
  • avatar
    Arifuddin

    ini bagus sekali

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru