Seperti biasanya, di saat hatinya bersedih, di saat hatinya sedang kacau, Handa akan menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan. Seperti hari ini, setelah dia melihat Satria di kampus, dan sikap suaminya yang seolah-olah tidak mengenalinya, Handa berusaha untuk segera melupakannya dengan melakukan semua pekerjaan rumah yang bisa dia lakukan. Gunawan, Laksmi dan juga Damar sudah sangat hafal dengan kebiasan Handa tersebut. Mereka akan membiarkan Handa yang tiba-tiba tenaganya akan berlipat ganda saat sedang galau, mungkin ini waktunya bagi mereka sedikit istirahat. Nanti akan ada waktunya Handa bercerita dan meminta pendapat pada mereka yang sudah Handa anggap sebagai orang tua dan kakaknya. Setelah motor yang ditumpangi Gunawan berhenti di depan rumah, Handa bergegas mengambil barang-barang belanjaan di dalam karung yang diikat dengan karet ban di jok belakang. Tampak pontang-panting Handa membawa masuk barang-barang belanjaan Gunawan tersebut. "Han! Yang itu biar Pakdhe yang bawa masuk, kamu biasanya juga ambil kresek yang di depan." Gunawan hanya menggelengkan kepalanya melihat Handa, lalu dia mengambil belanjaan yang digantung di depan, berupa ayam merah yang sudah dipotong dan dibersihkan, serta telur ayam yang memang sengaja dipisah agar lebih aman. "Handa kuat, Dhe," jawab Handa sekenanya. Tidak jauh dari tempat Handa dan Gunawan berada, Satria berdiri menyaksikan istrinya yang harus mengangkat beban berat. Karena tidak mendengarkan perbincangan yang telah terjadi antara Handa dengan Gunawan, membuat terjadi kesalahpahaman di hati Satria. Berdenyut nyeri rasa di hati Satria, jika Handa hidup bersamanya, tentu saja istrinya itu tidak harus bekerja keras membantu Gunawan atau pun bekerja di kafe milik Pak Alim. Satria akan memenuhi segala kebutuhan Handa, melimpahi hidupnya dengan cinta dan kasih sayang. Satria bertekad akan segera membawa Handa meninggalkan kehidupannya yang berat saat ini. "Selamat sore," sapa Satria saat Gunawan hampir memasuki rumahnya. Gunawan segera membalikkan tubuhnya, dilihatnya Satria yang berdiri gagah di depannya. Terlihat senyum bahagia dan tampak lega saat melihat suami dari keponakannya telah pulih. Dari cerita yang Gunawan dengar dari Handa, Satria mengalami patah tulang kaki yang cukup parah, dan sempat membuat lelaki itu merasa putus asa. "Handa! Ada tamu!" panggil Gunawan, tak butuh waktu yang lama, Handa sudah datang menghampirinya. Handa membuang nafas kasar seolah enggan untuk bertemu dengan Satria. Melihat gelagat Handa yang biasa-biasa saja saat bertemu dengan Satria yang sudah lama berpisah, bahkan cenderung mengabaikan suaminya, Gunawan seolah telah menemukan jawaban atas perubahan sikap Handa akhir-akhir ini. "Suami kamu datang, salim dulu!" "Tangan Handa kotor, Pakdhe," sergah Handa dengan nada ketus. "Cuci tangan apa susahnya?" tanya Gunawan dengan meninggikan suaranya, hingga membuat Handa segera menundukkan kepalanya. "Cepat ajak masuk suamimu! Kalau ada masalah bicarakan di dalam!" Tanpa berani membantah Handa segera menuju ke kran air yang biasanya digunakan untuk mencuci motor, Handa mencuci tangannya sebelum akhirnya dia mencium punggung tangan Satria seperti yang diperintahkan oleh Gunawan. Satria memicingkan matanya menatap sang istri yang sedari tadi enggan bertemu pandang dengannya. Setelah memendam rindu sekian lama, bukan seperti ini yang diingin oleh Satria. Tentunya Satria berharap sambutan hangat dari istrinya. Sejak menapakkan kaki di kota Semarang, Satria berharap, setelah melihatnya, Handa akan segera berlari menuju ke arahnya, memberikan pelukan hangat dan ciuman terpanas. Tetapi kenyataan tak sesuai dengan harapan, yang Satria dapatkan adalah sambutan yang sedingin es. Satria tak ingin melepas tangan Handa yang tadi digunakan untuk salim saat mencium punggung tangannya. Situasi saling menarik tangan antara Handa dan Satria, membuat Gunawan jenggah melihatnya. "Ayo masuk!" Gunawan segera melangkah dan diikuti oleh Handa dan Satria. "Seperti inilah rumah kami, tentu berbeda jauh dengan rumah kalian," ucap Gunawan setibanya di dalam ruang tamu. "Tapi selama ini Handa berlindung di sini, Pakdhe. Terima kasih telah menjaga Handa selama ini," ucap Satria yang semakin erat menggenggam jemari Handa. Satria berusaha fokus pada Gunawan, berusaha mengabaikan rumah yang mungkin bila dibandingkan dengan hunian yang diperuntukkan bagi para pembantunya bisa dibilang masih jauh lebik layak yang selama ini digunakan oleh pembantunya. Itu sebabnya Satria akan segera mengajak Handa untuk meninggalkan rumah tersebut, dan hidup tinggal dengannya. "Ajak suamimu istirahat sebentar, lalu siapkan buat mandinya!" perintah Gunawan pada Handa. "Nggih Dhe," jawab Handa singkat, tak berani membantah. "Ayo Mas!" Handa segera menarik tangan Satria untuk menuju kamarnya yang berada di atas. Semakin melangkah ke dalam, hati Satria terasa semakin remuk redam, membayangkan istri selama ini tinggal dan hidup dalam rumah yang baginya sungguh tidak layak ditempati seorang Nyonya Argawinata. Sungguh sebuah kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah Satria dengar dari mulut Hanin. Sebuah cerita jika Gunawan selama ini mengambil alih seluruh warisan dan usaha dari kedua orang tuanya dan hidup enak di Semarang, hingga Handa lebih memilih tinggal di Semarang bersama Gunawan dari pada di Jakarta bersama keluarganya sendiri. Melangkahkan kaki di lantai dua, Satria melihat ada dua kamar, dia yakin itu adalah kamar Handa dan anak bungsu Gunawan. Meskipun memiliki kamar yang terpisah tetapi sangat mudah jika penghuninya ingin menyelinap ke kamar yang lain. Nyeri rasa hati Satria saat membayangkan wanita yang dia nikahi bermesraan dengan pria lain. Mengingat Handa yang bersikap begitu biasa saat mengetahui dirinya pernah melakukan hubungan layaknya suami dengan Hanin, dalam hati Satria bertanya, mungkinkah Handa tak pernah mencintainya? Handa memejamkan matanya saat dia merasakan tangan Satria menggenggam jemarinya semakin erat. Kerinduan yang mendalam tampaknya mampu mengalahkan rasa kecewa di hati Handa, hingga tanpa sadar dia pun mencoba menautkan jemarinya di sela-sela jemari sang suami. Satria pun menyambutnya dengan senyum penuh kelegaan. Senyum Satria tak berlangsung lama, senyum itu sirna begitu saja saat Satria mulai melangkahkan kaki memasuki kamar Handa. Sebuah kamar yang berukuran kecil, pengap dan panas. "Ikut aku sekarang juga!" ucap Satria sambil menarik paksa lengan Handa. "Mas!" Handa mencoba bertahan dan menolak ajakan suaminya. "Tempat ini tidak layak untukmu." "Seperti apa yang Mas Satria katakan pada Pakdhe tadi, di sinilah aku berlindung selama ini." "Tapi itu hanya basa-basi, Han!" "Tapi kenyataannya memang demikian, Mas!" "Di sini kau dieksploitasi, dari pagi hingga malam kau harus terus bekerja. Lihat tubuhmu sampai kurus seperti ini!" "Ya, nggak seseksi Mbak Hanin," sergah Handa, dengan tatapan penuh kekecewaan memandang Satria. Satria menyentuh rambutnya yang masih halus dan terkuncir rapi. "Arah pembicaraan kita bukan ke sana, Han!" "Handa tidak suka kalau Mas Satria menjelek-jelekkan Pakdhe dan keluarga ini, selama ini mereka merawat Handa dengan tulus, dan Handa merasa bahagia di sini." "Aku akan membuatmu bahagia ...." "Jujur Mas, sulit bagi Handa untuk percaya pada Mas Satria," potong Handa yang dibalas Satria dengan memicingkan matanya seolah meminta penjelasan lebih. "Setelah kata-kata cinta yang Mas Satria ucapkan, lalu Mas Satria mengabaikan Handa begitu saja, bahkan Mas Satria tak bisa Handa hubungi lagi." Handa menyeka bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya. "Handa merasa bodoh jika tetap percaya pada Mas Satria." Satria mendengus kasar, dia sadar keinginannya untuk membuat kejutan justru berakibat terjadinya salah paham pada istrinya. Dan kini Satria harus menjelaskan dan menyakinkan Handa untuk meluruskan semuanya. Handa langsung memalingkan wajahnya dan meraih tangan Satria yang hendak menyentuh dagunya. Dia tahu Satria itu akan memaksanya untuk saling beradu pandang, dan selama ini dia akan selalu kalah dan masuk dalam perangkap ciuman yang sangat memabukkan dari lelaki yang bergelar suami baginya. Meskipun Handa memalingkan pandangannya, Satria yakin telinga istrinya siap untuk mendengar segala penjelasan darinya. Sebelum memulai memberi penjelasan, Satria merapikan anakan rambut sang istri dan menyelipkan ke belakang telinganya. "Aku menjalani fisioterapi sambil menyiapkan proyek di Semarang, agar aku bisa menemanimu menyelesaikan kuliah di sini. Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan dengan tiba-tiba muncul di depanmu, aku ingin mengajakmu tinggal bersamaku." Ternyata tak butuh waktu lama, tak butuh banyak kata, berbicara dengan nada sedikit nelangsa, Satria mampu membuat Handa kembali memperhatikannya. Sesaat pasangan suami istri itu saling bertukar pandang, Satria bergegas mengeluarkan dua buku kecil berwarna merah marun dan hijau tua yang bersampul gambar burung garuda dari saku jasnya. "Aku suamimu, aku berhak membawamu pergi dari sini, sebagai bentuk tanggung jawabku." Handa menarik nafas panjang lalu mambuangnya dengan kasar, setelah melihat apa yang berada di tangan Satria. Dua buah buku yang menjadi bukti sah ikatan pernikahan mereka.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua