logo text

Bab 43 Asta dan Hanin

Di sebuah sudut kafe, seorang wanita muda nan cantik duduk dengan anggunnya, mengenakan mini dress berwarna mint dengan aksen ruffle yang cantik membuat penampilan Hanin semakin terlihat anggun. Polesan make up tebal dan lipstick dengan warna merah menyala sepertinya berhasil menutupi gurat-gurat kesedihan di wajahnya, hingga yang kini terlihat adalah kecantikan yang paripurna dari seorang Hanindya Maheswari Gunadi.
Disesapnya perlahan vanilla cappuccino yang selama ini menjadi minuman favoritnya. Lagi-lagi dilihatnya jam tangan mewah pemberian Satria yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepertinya Hanin sedang menunggu kedatangan seseorang. Berkali-kali pandangannya beralih pada pintu masuk, penuh harap sosok yang dia tunggu segera hadir di depannya.
Dari kaca besar yang menjadi dinding kafe, pandangan Hanin memindai sebuah mobil mewah yang sedang parkir. Dahulu dia sering bepergian dengan mobil itu, duduk berdampingan sambil bercengkerama dengan sang pengemudi yang tak lain adalah pemilik dari mobil mewah itu. Setelah terparkir sempurna, tampak sesosok pria muda yang tampan dan gagah keluar dari mobil. Pesona ragawi yang terpampang jelas di depan mata, tak mampu mengetarkan hati Hanin, karena sosok itu memang bukan Satria mantan kekasihnya. Dia adalah Asta Palguna, sosok yang sudah dia nantikan kehadirannya sejak tadi.
Memasuki kafe, pandangan Asta menyapu seisi ruangan untuk mencari Hanin yang sedari tadi terus menghubunginya, karena dirinya memang sudah terlambat hampir satu jam dari waktu yang telah mereka janjikan. Dilihatnya mantan sekretarisnya dulu, sebelum posisinya dipindah oleh Harris dan digantikan oleh Satria. Kala itu bukan hanya kehilangan jabatan, Asta juga kehilangan Hanin saat dia hampir saja mengungkapkan perasaannya. Sekelebat bayangan kebersamaan mereka di masa lalu, membuatnya kembali berharap untuk bisa menggaet hati wanita yang dipujanya itu.
Asta bergegas menuju ke meja dimana Hanin berada. Setelah melemparkan senyum terindahnya, Asta menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yang berada tepat di hadapan Hanin.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, dan pastinya akan sangat membahagiakan hatiku andai bisa menghilangkan kesedihan di wajah cantikmu itu."
Kata-kata yang meluncur dengan lancar dari mulut Asta membuat Hanin serasa mau memuntahkan seluruh isi perutnya. Tetapi kata-kata yang terdengar bagai gombalan tak bermakna dari seorang durjana itu, benar-benar tulus dari hati Asta.
"Ada keperluan apa hingga Pak Asta menghubungi saya?"
"Jangan terlalu formal, bukankah kita pernah begitu akrab, bahkan begitu intim."
Hanin langsung terdiam dan mengalihkan pandangannya. Tentunya Hanin tidak lupa dengan kebersamaan yang pernah mereka jalani. Bukan hanya bertukar liur, mereka pun pernah berbagi peluh dalam penyatuan yang tak kalah panasnya dengan saat-saat Hanin bersama dengan Satria. Semua itu terjadi saat sebelum Satria hadir dalam kehidupan Hanin.
"Jika memang tidak ada yang penting, saya permisi."
Hanin terlihat sangat kesal, mantan kekasih Satria itu merasa telah membuang waktunya dengan percuma untuk menunggu kedatangan Asta. Awalnya dia mengira akan mendapatkan kabar tentang Satria, yang sejak pertemuan terakhir mereka tidak bisa lagi dia hubungi.
"Kau tidak ingin mendengar kabar tentang Satria Mahawira Argawinata?" tanya Asta dengan nada dingin sambil duduk bersandar dan melipat kedua tangan di depan dada. Tampaknya pancingannya berhasil, karena Hanin yang sudah berdiri dan hendak meninggalkan dirinya, akhirya kembali duduk manis dihadapannya. "Aku yakin, kau sudah mengetahui kecelakaan yang menimpa Satria."
"Bagaimana keadaan Satria sekarang?" Hanin tidak bisa menutupi rasa ingin tahu dan kekhawatirannya tentang keadaan Satria setelah kecelakaan yang menimpanya. Dari Marini, tak banyak informasi yang dia dapat, karena sang mama pun memiliki kesibukan merawat Gunadi yang juga sedang sakit.
"Baik, bahkan sangat baik. Sepertinya istrinya itu merawatnya dengan baik, sehingga Satria bisa sembuh lebih cepat dari pada perkiraan dokter."
"Bukankah Handa sudah kembali ke Semarang?" tanya Hanin, dia tidak percaya begitu saja apa yang baru saja didengarnya dari Asta.
"Iya, aku baru ingat, nama istri Satria adalah Handa. Dia memang sudah kembali ke Semarang."
Asta dan Hanin saling menatap tetapi mulut mereka tetap menutup. Keduanya seakan sudah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Asta mengdengus kasar sebelum memulai berbicara kembali.
"Hanindya!" panggil Asta sambil menatap lekat mata Hanin. "Sungguh aku tidak tahu jalan pikiranmu saat kau meminta Satria untuk menikahi Handa."
"Apa maksudmu?" tanya Hanin memotong pembicaraan Asta.
"Aku tahu rencana konyolmu itu."
"Aku tidak tahu maksudmu," elak Hanin, dia berusaha setenang mungkin. Meskipun kini dalam hatinya terus bertanya-tanya tentang sosok yang membocorkan rencananya tersebut pada Asta, selain dirinya hanya Satria dan Marini yang mengetahuinya.
"Dalam keadaan bersedih, kadang kita hanya butuh orang yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Seperti seorang ibu yang bersedih karena putrinya sedang patah hati dan tak mau kembali ke rumah, di tambah lagi sang suami yang harus dirawat di rumah sakit."
Dari penjelasan yang baru saja diberikan oleh Asta, Hanin menyimpulkan jika Marini yang telah menceritakan pada Asta. Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan bagi Hanin jika Marini bisa dengan begitu mudah menceritakan sebuah rahasia pada Asta. Ya, karena dulu Asta sering menjemput dan mengantar Hanin untuk bekerja, saat Hanin masih menjadi sekretarisnya.
"Hanin! Kamu adalah seorang perencana yang buruk, kamu merencanakan sebuah permainan tanpa membuat rule yang jelas, kamu membuat permainan tanpa mengetahui lawanmu siapa."
Hanin tak bisa menyangkal kebenaran dari apa yang baru saja Asta ucapkan. Dia terlalu jumawa, Satria tak akan berpaling darinya, dia terlalu meremehkan Handa yang selalu berpenampilan apa adanya.
"Tak perlu bertanya apa yang membuat Satria begitu mudah perpaling darimu," sambung Asta dengan tatapan yang sedikit mengejek. "Handa itu adikmu, otomatis dia lebih muda dari dirimu."
Hanin hanya diam dan mendengarkan dengan saksama kata demi kata yang keluar dari mulut Asta. Mantan atasannya itu seolah sedang menunjukkan segala kesalahannya.
"Tidak ada yang tahu dengan pasti, tapi sepertinya Handa masih perawan. Dan itu adalah kelebihan yang dia miliki dibandingkan dirimu, karena aku tahu kau sudah tidak perawan saat pertama kali kita berhubungan. Dan aku yakin Satria tahu itu."
Hanin segera bangkit dan hendak meninggalkan Asta, tetapi dengan cepat tangan Asta mencekal lengan Hanin.
"Kau ingin kembali pada Satria?"
Sebuah pertanyaan Asta lontarkan pada Hanin, meskipun sebenarnya dia sudah tahu secara pasti jawabannya. Mungkin mulut Hanin bisa menyangkalnya, tetapi Asta yakin, mantan sekretarisnya itu masih sangat berharap akan bisa kembali menjalin hubungan asmara atau bahkan sampai menikah dengan Satria yang kini sudah menikah dengan Handa, adiknya.
Sejenak Asta menunggu jawaban dari Hanin, tetapi wanita cantik di depannya itu hanya diam. Hilang sudah kesabaran Asta, akhirnya dia berdiri dan menarik tangan Hanin untuk meninggalkan kafe tersebut. Pada awalnya Hanin berusaha untuk menolak, tetapi harapannya untuk bisa kembali merajut asmara bersama Satria, seolah mematikan logikanya, sehingga dengan begitu mudahnya dia menurut pada Asta.

Komentar Buku (365)

  • avatar
    Nia Anjani

    Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....

    04/05/2022

      0
  • avatar
    SilfianaElita

    kalau lihat cerita depannya sih bagus ini

    15/08

      0
  • avatar
    Arifuddin

    ini bagus sekali

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru