"Kamu siapa, Han?" Dalam hati Handa mengulang kembali pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Satria. Terasa ada yang janggal dari pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya Handa memandang dengan lekat mata lelaki yang telah menikahinya, berharap akan menemukan jawaban di sana. Seperti yang Handa harapkan, seolah menemukan titik terang saat Satria memalingkan muka sambil memejamkan matanya. "Malaikat izrail tak pernah salah dalam menjalankan tugasnya, Mas. Meski manusia itu lupa ingatan atau mengubah identitasnya. Mungkin Handa bisa membantu Malaikat Izrail menjalankan tugasnya dengan mencabut salah satu selang yang ...." "Han!" potong Satria saat tiba-tiba dia merasakan sesak saat bernafas. Bukan hanya takut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Handa, tetapi karena jaraknya dengan sang istri yang sangat dekat, saat dia akan mengambil sesuatu yang berada di atas brankar Satria. Tubuh bagian atas yang sangat sensitive milik Handa berada tepat di depan wajah Satria. "Han apa yang kau lakukan?" tanya Satria, dengan arah pandang mata Satria mengikuti pergerakan tangan Handa. Akhirnya Satria merasa lega saat melihat Handa memegang nurse call ditangannya. Dan tak berapa lama kemudian, beberapa tenaga medis memasuki ruang perawatan Satria. "Saya akan menghubungi Dokter Abraham," ucap salah satu tenaga medis saat melihat Satria sudah sadar. Di tempat yang berbeda, masih di lingkungan rumah sakit, tepatnya di area parkir. Harris sedang berbincang melalui ponselnya, dia terlihat sangat bahagia saat mendengar kabar dari Handa jika Satria sudah sadar. "Mama ingin melihat keadaan Satria." Lisa ingin segera turun dari mobil dan kembali ruang perawatan putranya, tetapi Harris segera meraih tangannya seolah melarang Lisa. "Kenapa?" tanya Lisa singkat. "Biarkan malam ini Satria menghabiskan waktu bersama istrinya, sepertinya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Tolong! Beri kesempatan untuk mereka bisa saling mengenal, agar tak terjadi kesalahpahaman yang berakibat fatal seperti saat ini." Lisa mendengus kasar kala mendengar penjelasan dari Harris. Ada benarnya juga apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu. Tampaknya malam ini dia harus mampu meredam rasa ingin tahunya tentang keadaan kesehatan putra semata wayangnya yang baru saja sadar. "Dokter Abraham sedang menuju rumah sakit, nanti kita telepon langsung Dokter Abraham untuk mengetahui keadaan Satria?" sambung Harris seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. "Baiklah," jawab Lisa sambil menganggukan kepalanya. "Kalau anak sudah menikah, orang tua sepertinya tidak penting lagi. Seharian mama nungguin Satria, tapi dia nggak sadar-sadar, baru berapa menit Handa berada di sampingnya, Satria langsung sadar," gerutu Lisa, meskipun dia senang mendengar kabar putranya telah sadar, tetapi ada juga kekecewaan karena bukan dirinya orang pertama yang dilihat oleh sang putra saat sadar. "Mama tak perlu khawatir, meskipun sudah menikah, Satria itu tetap putra Mama. Dan Papa yakin, Handa tidak akan memonopoli putramu itu." Harris mencium tangan Lisa, berusaha untuk menenangkan hati sang istri yang sepertinya sedang dilanda cemburu pada Handa, menantunya. "Sepertinya Mama sangat capek, nanti di rumah Papa pijitin," sambung Harris dengan nada genit. Lisa memukul punggung tangan suaminya. "Ih! Kalau papa pijitin, mama jadi ga bisa tidur." Harris tersenyum jahil menanggapi ocehan istrinya, lalu dia menyalakan mesin mobil dan dengan perlahan mulai meninggalkan rumah sakit. *** Handa dan Satria menyaksikan Dokter Abraham dan beberapa tenaga medis yang menjadi asistennya keluar dari ruang perawatan Satria. Pemeriksaan terhadapa Satria yang baru saja sadar sepertinya telah selesai. Suasana menjadi hening dan canggung saat hanya tinggal mereka berdua yang berada di ruangan tersebut. Satria mengulurkan tangannya ke arah istrinya. Handa hanya mengerutkan keningnya melihat apa yang dilakukan oleh pria yang telah menikahinya tersebut. "Kamu siapa, Mas?" tanya Handa, sepertinya dia ingin menggoda Satria, dengan mengingatkan suaminya tentang tingkah konyolnya yang pura-pura amnesia saat baru tersadar tadi. "Handa!" seru Satria sambil mengetatkan rahangnya, ada rasa marah tetapi tak bisa dipungkiri jika dia pun merasa malu karena kebohongannya dengan mudah diketahui oleh Handa, istrinya. "Han!" Kembali Satria memanggil wanita yang telah dia nikahi tersebut. "Kemarilah!" ucap Satria sambil menepuk brankarnya, berharap sang istri bersedia duduk di dekatnya. Dengan terpaksa Handa meraih tangan Satria lalu duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh Lisa. Sejenak mereka saling bertukar pandang, dengan saksama Satria menatap wajah Handa, hingga dia menemukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. "Kemarilah!" Satria kecewa karena Handa tidak bersedia duduk di dekatnya, meskipun kini kedua tangan mereka saling bertautan. "Di sini saja," jawab Handa, sebenarnya tidak ada maksud untuk menjauh dari Satria, tetapi Handa merasa takut jika mereka terlalu dekat, bisa-bisa Handa akan menyentuh luka bekas operasi Satria, dan membuat lelaki yang kini bergelar suaminya itu justru harus menjalani masa penyembuhan yang lebih lama. "Sebentar saja!" Satria pun memaksakan kehendaknya dengan sedikit menarik tangan Handa. Tak ingin terlalu banyak drama, akhirnya Handa pun menuruti permintaan Satria. Kini Handa duduk di brankar tepat di samping suaminya itu. Satria menyentuh pipi Handa yang dengan jelas masih tergambar bekas tangan Lisa. Meskipun Satria menyentuhnya dengan lembut, tetapi Handa masih merasakan nyeri hingga ia meringgis kesakitan. "Mama yang melakukannya?" tanya Satria kepada Handa, meskipun dia sudah sangat yakin siapa yang telah melakukan hal tersebut kepada istrinya. "Aku akan bilang pada Mama agar tidak melakukannya lagi padamu." "Tak perlu, Mas. Handa hanya tidak ingin mama mengira kalau Handa mengadu pada Mas Satria, dan mungkin akan membuat hubungan kami jadi semakin kurang baik." "Tapi aku tahu bagaimana rasanya ditampar sama mama." "Handa juga, Mas. Gigi rasanya mau rontok semua, dan pipi itu rasanya seperti luka bakar." Handa terdiam sambil memejamkan matanya seakan menikmati sentuhan lembut tangan Satria di pipinya. "Jika menampar itu ada kejuaraan dunia, dan mama menjadi salah satu pesertanya, Handa yakin mama akan mengharumkan nama Indonesia dengan membawa salah satu medali, paling nggak perunggu dapat lah," sambung Handa dilanjutkan dengan senyum setelah mengakhiri kalimatnya. Mungkin hal inilah yang membuat Satria selalu merindukan istrinya. Gadis yang dia nikahi tersebut bisa menerima perlakuan buruk tanpa menyimpan dendam, dan justru sering menanggapinya dengan guyonan nakal. "Sepertinya kau juga kurang istirahat," ucap Satria saat menyentuh kelopak mata bagian bawah yang seolah membentuk ceruk yang cukup dalam. "Masih banyak yang harus direvisi." Jawab Handa sekenanya. "Cepat lulus, ya! Biar kita bisa segera bersama." "Mas Satria yakin?" Handa sendiri pun tidak yakin dengan apa yang dia tanyakan pada Satria. "Apa yang membuatmu ragu padaku, Han?" Satria memandang lekat mata Handa, berusaha meyakinkan jika hanya kejujuran yang akan dia dapatkan di sana. "Mbak Hanin." "Aku akan segera menyelesaikan urusanku dengannya. Tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi." "Apakah Mas Satria bisa dipercaya? Tadi baru sadar saja sudah mau membohongi Handa," balasan Handa terasa begitu menohok bagi Satria, tak mudah memang menumbuhkan rasa percaya di hari orang lain, apalagi jika orang tersebut pernah merasa kita bohongi. "Han, aku hanya tidak ingin setiap kali kita bersama selalu membahas Hanin." "Tapi Mbak Hanin itu saudaraku, Mas. Kita tidak bisa mengabaikan Mbak Hanin begitu saja." "Kebersamaan kita begitu berharga, Han. Jangan habiskan waktu hanya untuk membahas Hanin, kita juga perlu membahas masa depan kita." "Bagaimana mungkin kita membicarakan masa depan, saat masa lalu masih menghantui." "Aku mohon, percayalah!" Pasangan suami istri itu saling bertukar pandang. "Dipertemuan terakhir kami, aku sudah mengatakan tak mungkin lagi untuk melanjutkan hubungan yang pernah kami jalin, semua berakhir karena aku menikahimu." "Bagaimana dengan testpack itu?" "Bukankah hasilnya negative, tak ada yang harus aku pertanggungjawabkan pada Hanin." "Bukankah itu berarti kalian pernah melakukannya?" Pertanyaan Handa terasa seperti sindiran baginya, di saat banyak pria yang mempermasalahkan keperawanan wanita yang mereka nikahi, Satria sudah tidak perjaka lagi di saat dia belum menikah. "Maafkan aku! Dan tolong ... jangan tinggalkan aku!" Satria mengenggam erat tangan Handa.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua