logo text

Bab 32 Trah Argawinata

"Maaf Pa, Handa tidak bisa menemani Papa," ucap Handa sambil menyeka air matanya. "Nanti kalau Mas Satria sudah mendingan, Handa ke tempat Papa."
Handa berusaha berbicara setenang mungkin, karena tidak ingin membuat Gunadi yang sudah mulai membaik kesehatannya menjadi khawatir. Satria dan Gunadi dirawat di dua rumah sakit yang berbeda, Satria dirawat di sebuah rumah sakit elit dengan fasilitas terbaik, sedangkan Gunadi dirawat di rumah sakit umum daerah dengan fasilitas gratis menggunakan BPJS karena dia seorang PNS. Sejujurnya Handa ingin menemani dan merawat Gunadi, papanya, tetapi karena rasa bersalah membuat Handa tetap menunggu kabar perkembangan kesehatan Satria yang masih belum sadarkan diri, meskipun keberadaannya tidak diinginkan oleh Lisa dan membuatnya harus menunggu di depan ruang perawatan suaminya.
Setelah mengakhiri perbincangan melalui ponsel dengan sang papa, Handa membalikkan tubuhnya dan melihat Asta yang sudah berdiri di depannya dengan membawa paper bag bergambar logo sebuah butik ternama dan sekantong plastik yang berisi makanan dan minuman.
"Bersihkan dirimu! Lalu makanlah! Biar kau punya tenaga untuk menunggu Satria sadar," ucap Asta sambil mengangsurkan bawaannya kepada Handa.
Di hari pernikahannya dengan Satria, Handa melihat keberadaan Asta di sana, tetapi sampai saat ini Handa belum berkenalan dengan lelaki yang kini berada di hadapannya. Melihat cara Handa memandang dirinya, dan sikap enggan untuk menerima pakaian dan makanan yang dia bawa membuat Asta sadar jika ternyata mereka berdua belum saling mengenal.
"Oh ya, kenalkan namaku Asta, aku yatim piatu yang dirawat di keluarga Argawinata, aku rasa kau tahu jika Satria adalah anak tunggal, jadi bapak dan ibu merawatku untuk menjadi teman Satria."
Handa menganggukkan kepalanya sambil melempar senyum pada Asta, penjelasan dari Asta sudah cukup mengobati rasa penasaran akan keberadaan Asta di tengah keluarga Argawinata.
"Ambillah, atau nanti bapak akan marah dan menghukumku jika kau menolaknya." Kembali Asta mengangsurkan bawaannya pada Handa.
"Terima kasih." Handa menerima paper bag dan kantong plastik dari Asta.
Pandangan Handa menyapu sekelilingnya, dia tidak bisa berganti pakaian di dalam ruang perawatan Satria, karena Lisa masih marah padanya dan tidak mengijinkannya memasuki ruang perawatan Satria. Handa menatap pintu ruangan dimana suaminya berada, berat dia melangkah meninggalkan tempat tersebut. Tetapi menurut Handa benar juga apa yang baru saja diucapkan Asta, dia tidak ingin saat Satria sadar nanti melihatnya dalam keadaan yang berantakan seperti saat ini.
"Mau kemana?" tanya Asta sambil mengerutkan keningnya.
"Ganti baju," jawab Handa sambil mengangkat paper bag.
Handa bergegas meninggalkan Asta menuju ke tempat nurse station, tempat para perawat dan staf layanan kesehatan lainnya bekerja tetapi tidak berhubungan langsung dengan pasien. Setelah berbincang sebentar, Handa menitipkan barang-barangnya pada perawat tersebut, lalu ia melangkah ke salah satu sudut dilantai tersebut yang mungkin merupakan toilet yang biasa digunakan para pengunjung yang membesuk pasien.
Tak butuh waktu yang lama, Handa sudah keluar dari toilet dengan wajah yang lebih segar, dan sudah berganti dengan pakaian yang baru, pemberian Asta, sedang pakaian yang dia pakai sebelumnya kini berganti posis mengisi paper bag. Handa kembali ke nurse station untuk mengambil barang-barangnya. Handa membuka kantong plastik pemberian Asta, sebagai tanda terima kasih karena barang-barang yang dia titipkan aman, Handa memberikan beberapa bungkus camilan pada seorang perawat untuk dibagi dengan rekan-rekannya.
Handa melangkah kembali menuju ke ruang perawatan Satria. Di lorong, depan pintu ruang dimana Satria terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri, Handa masih melihat Asta berdiri di sana.
"Bagaimana keadaan Mas Satria?"
Asta mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Handa. Dilihatnya jam yang melingkar di lengan kirinya, belum genap setengah jam Handa meninggalkan Satria, dia sudah menanyakan keadaan suaminya.
"Masih sama, belum ada perkembangan yang berarti," jawab Asta dengan wajah yang dipenuhi oleh gurat-gurat kekecewaan. "Kau belum makan?" tanya Asta balik, saat dia melihat bawaan Handa.
"Nggak tahu mau makan di mana?" Handa kembali menatap pintu ruang perawatan Satria, sejujurnya dia sangat ingin memasuki ruangan itu agar bisa melihat langsung keadaan suaminya.
"Ayo!" seru Asta sambil mengerakkan kepalanya sebagai tanda ajakan.
Akhirnya Handa mengikuti ajakan Asta, dan mereka berjalan menjauhi ruangan dimana Satria masih betah dalam tidurnya.
Kini Handa dan Satria sudah berada di kantin rumah sakit. Handa menikmati makanan yang sudah dibelikan oleh Asta sebelumnya. Sedangkan Asta menikmati secangkir kopi panas untuk menemani Handa menyantap makanannya.
"Sepertinya kau sangat mencintai Satria, hingga kau rela menunggu di depan pintu menunggu kabar darinya," ucap Asta memulai perbincangan, di saat Handa sudah menghabiskan makanannya. Asta tahu Handa sangat lelah dan lapar hingga dia tidak ingin mengganggu saat Handa makan dengan membicarakan suatu topik pembicaraan yang Asta yakini bisa membuat nafsu makan Handa menguap tiba-tiba.
"Cinta atau nggak cinta, Mas Satria itu suami saya," balas Handa, lalu menyesap air mineral yang ada di depannya. "Hal itu tidak bisa saya pungkiri." Kembali Handa menjeda kalimatnya, dengan pandangan mata yang menerawang jauh Handa menarik nafas dalam-dalam. "Dan satu hal lagi yang tidak bisa saya pungkiri adalah jika Mas Satria adalah kekasih Mbak Hanin, dan mungkin mereka masih saling mencintai dan saling berhubungan."
Asta menetap wajah sendu Handa, tak ada air mata yang menetes, tetapi dari tatapan matanya Asta bisa mengetahui ada luka terpendam di hati Handa. Hingga Asta menduga masalah yang berhubungan dengan Hanin, yang menjadi pemicu pertengkaran antara Handa dan Satria yang berujung pada kecelakaan yang menimpa Satria.
"Melihat keadaan Mas Satria saat ini membuatku takut. Takut jika Mas Satria tidak bisa bertahan." Akhirnya air mata Handa menetes jatuh tak terbendung lagi.
"Saya paham, setiap perempuan pasti ada rasa takut dengan status janda," ucap Asta berusaha memahami perasaan Handa.
"Bukan hanya itu."
"Lalu? Kau hamil?" cecar Asta, dan mendapatkan gelengan kepala sebagai jawaban. "Seharus tidak masalah, kau bebas. Ya, mungkin masalah warisan, kau tidak akan mendapat apa-apa dari status jandamu, karena kau tidak memiliki anak dari Satria."
"Mas Satria itu anak tunggal," ucap Handa dengan sedikit meninggikan suara. "Jika Mas Satria pergi sebelum dia memiliki anak, maka trah Argawinata tidak akan memiliki penerus."
Asta menatap lekat mata Handa, ada hal yang belum dipahami oleh Asta dari apa yang baru saja keluar dari mulut wanita yang telah dinikahi oleh Satria.
"Kau tak perlu memikirkan ahli waris Argawinata!"
"Saya tidak sedang membicarakan tentang ahli waris, ini tentang trah, keturunan, darah," ucap Handa sambil membalas tatapan mata Asta.
"Kalian baru saja menikah, saya kira hal wajar jika sampai saat ini kau belum hamil. Kau tidak perlu merasa gagal sebagai seorang istri?" ucap Asta, dia berusaha agar Handa tidak dibayangi oleh rasa bersalah untuk sesuatu yang berada di luar kendalinya.
"Bukan merasa gagal, mungkin lebih tepatnya merasa bersalah." Lirih Handa menjawab. "Saya melihat ada testpack disana. Saya yakin itu milik Mbak Hanin."
"Positif?"
"Negatif ... jujur, saat ini saya berharap testpack itu berubah menjadi positif, demi Argawinata."
"Meskipun itu anak selingkuhan suamimu?"
Handa menatap Asta, seakan tidak terima saat sang kakak disebut sebagai selingkuhan suaminya.
"Kau tidak marah atau pun dendam pada mereka yang telah menjalin hubungan terlarang di belakangmu?" sambung Asta.
"Dalam situasi seperti ini tak sempat memikirkan sakit hati dan dendam, apalagi itu adalah Mbak Hanin, saudaraku satu-satunya."
"Apa yang akan kau lakukan, jika Satria sadar?"
"Meminta penjelasan."
"Hanya itu?"
"Karena penjelasan yang Mas Satria berikan akan memudahkanku membuat keputusan."
"Kau memaafkannya?"
"Saya rasa memberikan maaf lebih baik dari pada menyimpan dendam."
"Kau mencintainya?"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Handa, hanya tatapan mata yang sulit diartikan balasan yang diterima Asta dari istri Satria.
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Satria masih terbaring tak berdaya di atas brankar. Dengan setia Lisa menemani putra semata wayangnya. Harris menghampiri dan meletakkan kedua tangannya di bahu sang istri.
"Biarkan Handa masuk! Kau juga butuh istirahat."
"Mama belum bisa memaafkan Handa," balas Lisa sambil menyeka air matanya.
"Kasihan Handa, dia menunggu di depan, dia juga belum istirahat."
"Mama tidak peduli, suruh saja dia pergi!"
Terdengar suara dering ponsel Harris, dipandanginya layar ponsel terpampang nama SEL, sebuah nama yang hanya akan menghubunginya untuk urusan yang sangat penting.
"Hallo!" sapa Harris. "Baik saya akan segera ke sana." Setelah mengakhiri perbincangan, Harris segera menyimpan ponselnya kembali. Diciumnya pucuk kepala sang istri dengan dalam. "Papa keluar dulu, ada urusan sebentar."
"Ya," jawab Lisa dengan singkat seolah tak mempedulikan suaminya.
Dengan terburu-buru Harris keluar dari ruang perawatan Satria. Ada rasa kecewa saat tak menemukan Handa di luar ruangan tersebut, tetapi Harris kembali fokus pada tujuannya hingga akhirnya dia bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Komentar Buku (365)

  • avatar
    Nia Anjani

    Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....

    04/05/2022

      0
  • avatar
    SilfianaElita

    kalau lihat cerita depannya sih bagus ini

    15/08

      0
  • avatar
    Arifuddin

    ini bagus sekali

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru