logo text

Bab 20 Nyonya Argawinata

Handa dan Satria duduk di sofa, di depan mereka tampak cincin pernikahan yang rencananya akan digunakan untuk pernikahan Hanin dan Satria. Handa dan Satria duduk berdampingan dan menatap nanar cincin berlian tersebut.
"Terasa aneh saat mengetahui Mas Satria masih berharap Mbak Hanin datang ke pernikahan, tetapi selama ini Mas Satria tidak pernah berjuang untuk menemukan Mbak Hanin."
"Aku mohon tunda kepulanganmu ke Semarang, tolong lakukan untuk mama."
"Maaf Mas." Handa menggelengkan kepala. "Meski kita tidak saling mencintai, sebagai perempuan ... jujur ... hati saya sakit dengan apa yang Mas Satria lakukan." Handa dan Satria saling berpandangan sementara waktu, dan tak lama kemudian mereka kembali menatap cincin yang berada di depan mereka. "Saya tahu saya tidak diinginkan." Handa menjeda kalimatnya. "Ada atau tidak ada kesepakatan, memang sebaiknya saya segera kembali ke Semarang, saya mengejar masa depan saya, dan Mas Satria kembali mengejar Mbak Hanin."
"Han..." Satria meraih tangan Handa yang penuh dengan lukisan hena yang sangat indah. Satria menggelengkan kepalanya seraya memberi tahu pada Handa, bahwa apa yang baru saja dia ucapkan tidak benar. Getaran cinta yang dia rasakan pada Handa, bahkan mungkin sejak pertama kali mereka bertemu, dan betapa dia sangat menginginkan gadis yang telah dia nikahi tersebut selalu berada di sampingnya untuk mengapai masa depan bersama-sama. Tetapi tidak mudah bagi Satria mengungkapkan perasaannya saat ini, lidahnya terasa kelu hingga bibirnya hanya bisa membisu.
"Mas Satria kemarin hanya kurang berusaha saja, seandainya Mas Satria lebih berusaha saya yakin Mas Satria akan menemukan Mbak hanin, Mas Satria tidak perlu terjebak dalam situasi yang menyulitkan Mas Satria seperti saat ini." Handa menatap Satria, "Seharusnya saat ini Mas Satria bahagia dan sedang bercinta dengan Mbak Hanin, menikmati malam pertama."
Satria menoleh ke arah Handa, tatapan mata mereka saling bertemu. Tak bisa dipungkiri Satria, sebagai lelaki dewasa, normal dan pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenis, dia saat ini memiliki hasrat untuk menghabiskan malam penuh gairah bersama gadis yang baru saja dia nikahi tersebut. Bukan hanya karena Handa sekarang sudah sah menjadi istrinya, tetapi ternyata Handa telah memiliki tempat yang istimewa di hati Satria.
Handa memalingkan wajahnya dan segera berdiri menjauhi Satria. Satria yang memandang Handa, meskipun hanya tubuh bagian belakang saja membuatnya merasakan desiran yang seakan tak mampu ia lawan gejolak itu. Satria segera meraih tubuh Handa dan membaliknya hingga mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Nafas mereka tampak tidak beraturan dan saling berkejaran, kedua tangan Handa berada di dada Satria berusaha untuk mendorongnya agar tubuh mereka tetap berjarak. Lengan kuat Satria melingkar erat di pinggang ramping Handa, Satria merasa dirinya sudah tak mampu lagi mengendalikan hasrat. Tangan kanan Satria mengangkat dagu Handa hingga mereka saling berpandangan. Nafas Handa tampak tersengal-sengal saat ibu jari Satria menarik lembut bibir bawahnya.
"Ijinkan...." Suara parau Satria terdengar lirih berbarengan dengan hembusan nafasnya menerpa wajah Handa saat Satria semakin mendekatkan wajahnya.
Terdengar suara pintu diketuk, reaksi mereka menunjukkan suasana hati yang berbeda dari Handa dan Satria. Tampak kelegaan pada diri Handa hingga ia langsung menundukkan kepalanya, ia pejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya. Sedangkan Satria yang tampak kecewa pun memejamkan matanya sambil mencium pucuk kepala Handa berharap mampu meredam hasratnya. Satria melepaskan Handa saat suara pintu diketuk yang tak henti-henti terdengar semakin keras. Satria bergegas membuka pintu, dan tampak Lisa berdiri di balik pintu.
"Apa mama menganggu?" Tanya Lisa singkat yang hanya dibalas dengan gelengan oleh Satria. Lisa memasuki ruangan, dilihatnya Handa yang tampak gugup dan ketakutan. Handa berusaha menenangkan dirinya, tangan kirirnya masih di dada untuk menutupi nafas yang tidak beraturan dan menahan detak jantung yang terasa berdetak lebih kencang. Berlian yang ada di cincin pernikahan Handa bersinar saat terkena sorot lampu. Lisa yang melihatnya pun meraih tangan kiri Satria dan mencoba menyentuh jari manis dimana disana juga melingkar cincin pernikahan.
"Ada yang ingin mama bicarakan." Ucap Lisa sambil tersenyum pada Handa untuk menghilangkan rasa canggung. Mata Lisa memindai seisi kamar hotel berharap menemukan minuman yang akan dia campur dengan obat yang sudah dia siapkan.
Handa dan Satria mengangguk pelan, Satria segera menggiring Lisa ke sofa untuk berbincang sambil sambil duduk. Lisa terkejut melihat cincin yang berada dalam kotak bludru. Lisa meraih cincin tersebut dan melihat nama yang terukir di dalamnya. Saat Lisa menemukan nama Hanindya, Lisa sudah tidak bisa menahan emosinya lagi lalu melemparkan cincin pernikahan yang bermahkotakan berlian tersebut ke badan Satria. Dan dengan sekuat tenaga telapak tangan Lisa mendarat di pipi putra semata wayangnya.
Meskipun merasakan panas di pipinya, tetapi Satria sama sekali tidak bereaksi. Satria masih berdiri tegak bergeming di posisinya, diam menjadi pilihan terbaik saat menghadapi amarah wanita yang telah melahirkannya.
"Apa maksud ini semua? Pernikahan seperti apa yang akan kau jalani Sat?" Lisa sudah tak bisa menahan lagi air matanya. "Pernikahan itu bukan permainan, SATRIA." Lisa sangat kecewa dengan putranya. Lisa membuang nafas kasar lalu perhatiannya beralih kepada Handa.
"Mama mau bantu Handa membereskan make upnya, tua bangka itu sudah menunggu." Lisa menjadi lupa dengan tujuan awal menemui Handa dan Satria.
"Biar Satria yang akan mengantar Handa ke Semarang, tapi bukan besok."
"Turunlah! Suruh tua bangka itu menunggu sebentar lagi!"
"Ma, ijinkan kami ..."
"Jangan membuat mama bersedih dengan bantahanmu," sergah Lisa, tak ingin dibantah.
Satria menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, lalu dipandanginya Handa yang dari tadi hanya diam. Dengan berat hati Satria melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar hotel.
"Satria Mahawira Argawinata!" Lisa memanggil putranya saat Satria masih berdiri di depan pintu. "Handa adalah satu-satunya menantu mama, jadi jangan pernah berpikir untuk bisa kembali lagi menjalin hubungan dengan Hanin. Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Dan mama pastikan dia tidak akan pernah bisa menikah denganmu." Lisa berucap tanpa memandang Satria, justru pandangannya sedari tadi tidak beralih dari Handa. "Satu hal yang harus kalian ketahui, tak ada kata cerai di keluarga Argawinata," sambung Lisa.
Mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Lisa, Handa dan Satria hanya bisa saling bertukar pandang, dengan tatapan yang sama-sama sulit diartikan.
"Dan kamu, Handa ... siapa pun namamu." Lisa menggelengkan kepala karena belum hafal dengan nama lengkap gadis yang baru saja menjadi menantunya tersebut. "Kamu datang di Keluarga Argawinata sebagai seorang istri dan menantu, bukan sekedar kekasih atau bahkan seorang gundik." Lisa berucap dengan menatap tajam Handa. "Jadi kau harus menjaga nama baik dan kehormatan Keluarga Argawinata," sambung Lisa dengan menekankan pada kata-kata Keluarga Argawinata.
"Handa, sebangsat apa pun Satria, dia adalah suamimu, dan akan tetap menjadi suamimu. Dan sejalang apa pun dirimu, hukuman dari keluarga Argawinata yang akan kau terima, itu masih lebih ringan bila dibandingkan dengan neraka dunia yang akan kau dapatkan di luar sana. Jadi Handa! siapkan mentalmu untuk menjadi Nyonya Argawinata!"
Tiba-tiba Handa merasa seolah ada beban berat yang bergelayut di punggungnya. Dia tidak mengira akan terjebak dalam pernikahan dengan sosok yang baru dikenalnya, dan harus dihantui bayang-bayang Hanin, sang kakak yang merupakan kekasih lelaki yang baru saja menikahinya.
Sedangkan Satria terlihat begitu tenang, entah karena faktor usia hingga dia pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya, atau karena memang inilah yang dikehendaki oleh Satria.

Komentar Buku (365)

  • avatar
    Nia Anjani

    Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....

    04/05/2022

      0
  • avatar
    SilfianaElita

    kalau lihat cerita depannya sih bagus ini

    15/08

      0
  • avatar
    Arifuddin

    ini bagus sekali

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru