Satria keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk di pinggangnya. Dia berdiri berdiri berkacak pinggang di depan satu stel jas pengantin yang sudah disiapkan di atas tempat tidurnya. Hari ini dia akan menikah, meskipun dua kakak beradik itu telah mengisi hatinya, tetapi Satria tetap berharap dia akan menikah dengan sang kakak. Menikah dengan Hanin adalah sesuatu yang sudah ia rencanakan dan merupakan impiannya. Bukan hanya lamanya kebersamaan dengan Hanin tetapi hubungan mereka sudah terlalu jauh. Satria mengambil ponsel di atas nakas, lalu menulis pesan yang dikirim ke "HANINDYA". @SatriaArga [Aku menunggumu Untuk menikah denganku hari ini] Satria tersenyum saat di samping pesan yang ditulisnya sudah ada tanda dua centang biru, yang menunjukkan bahwa pesan tersebut sudah dibaca. Belum sempat Satria meletakkan ponselnya, ponsel itu berbunyi dan tampak ada pesan dari "HANDA". @Handa [Masih ada waktu untuk mundur] @SatriaArga [Tidak] @Handa [Sudah siap menjalani pernikahan tanpa cinta?] Satria terdiam tidak langsung membalas pesan tersebut. Satria yakin Hanin akan datang, mereka akan menikah seperti apa yang mereka rencanakan. Satria yakin Handa akan mundur, dan kembali ke Semarang, dan tak akan sulit baginya untuk melupakan Handa. @SatriaArga [Jika aku maju, hanya kita yang sakit Jika aku mundur, akan lebih banyak yang sakit Maju atau mundur sama sakitnya Han] @Handa [Kalau maju mundur sakit Mungkin naik turun jadi nikmat mas Hahahahaha.....] Satria melotot seakan tak percaya dengan apa yang dibacanya. Pesan yang Handa kirim dia anggap berisi kata-kata nakal yang menggoda. Di saat ada orang yang berencana untuk menyakitinya, di saat ia akan menghadapi pernikahan yang tidak ia inginkan Handa masih sempat membuat guyonan. "Gila!" Satria mengumpat, mengelengkan kepala dan melempar ponselnya ke kasur. Satria menyugar rambutnya yang masih basah. "Handayani Tunggadewi Gunadi, kau benar-benar membuatku gila. Seharusnya aku memperkosamu dan meninggalkanmu di jalanan, mengapa aku tidak terpikirkan hal itu untuk menghancurkan hidupmu." Satria terdiam seakan memberi waktu pada dirinya untuk mengoreksi kalimat yang baru saja dia lontarkan. "Memperkosamu? Mengapa aku sampai memikirkan hal bejat seperti itu? Segila inikah aku menginginkanmu? Segila inikah aku menginginkan tubuhmu? HANDAYANI TUNGGADEWI GUNADI." Satria seolah-olah sudah tak mampu lagi mengendalikan dirinya, hingga dari mulutnya keluarlah bermacam-macam cacian, makian dan umpatan kasar. Entah untuk siapa, yang jelas saat ini dia merasa hidupnya sungguh kacau. Bagi Satria, apa yang dia lakukan bersama Hanin merupakan sebuah kebodohan yang hakiki, hanya untuk bisa menghancurkan hidup Handa mereka rela membuat sandiwara yang justru saat ini akan menghancurkan hidup mereka sendiri. *** Di tiga tempat yang berbeda, Handa, Hanin dan Satria termenung di tempat mereka dengan gejolak pikiran masing-masing. Hari ini pernikahan akan dilaksanakan, akad akan diucapkan, kehidupan baru telah menunggu. Inikah pernikahan yang mereka impikan? Wajah polos Handa terlihat cantik dan mangglingi, kain batik dan kebaya putih berpadu anggun, membuat penampilan Handa nyaris sempurna. Handa melihat dirinya yang sudah selesai dirias dari pantulan cermin. Make up yang sempurna, salahkah jika ia berharap akan menjadi pernikahan yang sempurna pula. Salahkah jika Handa berharap pernikahan ini akan menjadi ikatan yang kuat menyatukan mereka, bukan hanya seperti ikatan pita di atas kotak kado, berupa simpul-simpul indah tetapi hanya hiasan saja. Apakah Handa terlalu berharap, karena ia sadar sesadar-sadarnya jika pernikahan ini sebenarnya bukan untuknya. *** Satria membuka laci nakas yang berada di dekat tempat tidurnya, diambilnya kotak bludru berwarna merah. Satria memandangi sepasang cincin pernikahan di dalam kotak itu. Satria memejamkan matanya sambil tersenyum membayangkan pernikahan impiannya akan terwujud. Suara pintu diketuk membuyarkan lamunan Satria, Satria segera memasukkan kotak berisi cincin tersebut ke saku celananya. "Masuk!" Satria mengambil jas pengantin yang dari tadi sudah siap di atas tempat tidurnya. Dari balik pintu muncul Lisa yang tampak sudah siap, diusianya yang tak muda lagi Lisa masih terlihat cantik dan elegan dengan kebaya yang digunakannya. Lisa tersenyum menghampiri Satria lalu membantu putra semata wayangnya mengenakan jas pengantinnya. "Semua sudah menunggumu, mengapa belum siap?" Lisa merapikan jas Satria, tanpa ia sadari air matanya menetas. "Mama hanya bisa mendoakan kamu selalu bahagia, mama berharap dia adalah perempuan yang tepat untukmu." Satria menghapus air mata Lisa lalu memeluk sang ibu, "Saya akan bahagia Ma, percayalah!" Satria memejamkan matanya dan pelukannya pun semakin erat, dia berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum keluar. Satu hal yang mengganjal di hati Satria, tak mudah bagi Hanin untuk bisa mendapat restu dari Lisa. Tetapi mengapa sang mama seolah tak mempermasalahkan kehadiran Handa yang menggantikan posisi Hanin. Dan Lisa sepertinya lebih bisa menerima Handa dari pada Hanin sebagai menantunya. *** Hanin menatap wajahnya di cermin, dia tampak berantakan dan tak secantik biasanya. Berat baginya melepaskan Satria yang sangat ia cintai untuk menikah dengan Handa adiknya, walaupun pernikahan ini adalah rencananya untuk menyakiti sang adik. Pertemuan terakhir dengan Satria membuat Hanin ragu rencananya akan berjalan dengan lancar. Dia yang ingin menyakiti Handa, tetapi mengapa justru dia yang merasakan sakit. Sakit karena rasa takut, takut kehilangan Satria lelaki yang dicintainya, dan takut kehilangan cinta dari Satria. Flashback: "Hanindya Maheswari Gunadi!" Satria telah selesai mengenakan pakaiannya meskipun tidak rapi. Satria berdiri di depan Hanin mengatur nafas untuk mengendalikan emosinya. "Menikahlah denganku! Aku menunggu di tempat yang sudah kita tentukan. Kita rayakan pernikahan yang sudah kita persiapkan, pernikahan impian kita Nin." "Ku mohon bersabarlah!" "Datanglah besok! Aku berharap malam ini adalah terakhir kalinya aku tidur dengan wanita yang bukan istriku, karena setelah aku menikah aku hanya akan tidur dengan istriku." Satria menekankan pada kata istriku, lalu ia meninggalkan Hanin yang mulai meneteskan air mata. Flashback off Hanin membasuh mukanya dan tampak lebih segar, ia segera memoles wajahnya dengan make up agar lebih cantik lalu mencari pakaian di lemari dan mamantaskan diri di depan cermin. Air matanya kembali menetas, Hanin segera menyekanya dengan punggung tangannya. "Hanya aku yang akan menjadi istrimu." Hanin meraih kunci mobilnya dan segera keluar dari kamarnya. Hanin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, kenangan saat-saat bahagia bersama Satria terus membayanginya. Flashback: Binar mata bahagia saat melihat perhiasan kalung bertahtakan berlian. "Boleh aku ambil ini?" tanya Hanin ragu-ragu. Satria hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu ia menyerahkan kartu kredit kepada panjaga toko. "Terima kasih." Hanya itu yang diucapkan Hanin, ia tak bisa menutupi rasa bahagianya. Satria mendekatkan tubuhnya ke Hanin lalu ia berbisik pada, "Apapun akan ku lakukan, asal kau bahagia." Sebuah kata-kata yang membuat angan Hanin melayang. *** Hanin memutar badan menunjukkan pakaian yang dipilihnya pada Satria. Satria menghampiri Hanin dan meraih pinggangnya hingga mereka sangat dekat. Senyum bahagia terukir indah di bibir mereka, dan tatapan saling memuja seakan menjadi bukti mereka saling mencintai. "Kau selalu cantik dengan apapun yang kau kenakan, kau ingin tahu saat tercantikmu?" Bisik Satria di telinga Hanin. "Hmm?" "Saat kau tidak mengenakan apa-apa," goda Satria sambil meninggalkan jejak basah di telinga Hanin. Hanin tertawa bahagia hingga ia mendongakkan kepalanya, seakan tak meyia-nyiakan kesempatan Satria pun segera menghujani leher Hanin dengan ciuman. *** Hanin dan Satria berjalan berdua di tepi pantai tangan mereka bertautan seakan tak ingin berpisah. Satria melingkarkan tanganya ke pinggang Hanin lalu mereka berhenti menyaksikan matahari terbenam. Satria menggeser berdirinya hingga ia berhadapan dengan Hanin. "Bersediakah kau menikah denganku?" Satria tampak gugup. "Aku tidak tahu cara yang romantis untuk melamarmu, tapi aku pastikan aku bersungguh-sungguh." Satria mengambil kotak bludru warna merah dari sakunya, saat kotak itu dibuka terlihat sebuah cincin bermahkotakan berlian. Hanin menutup mulutnya seakan tak percaya Satria akan melamarnya dengan cincin berlian. Hanin menganggukan kepalanya dan tersenyum bahagia, "Ya ... aku bersedia." Satria memasangkan cincin tersebut ke jari manis Hanin, senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Tak lama kemudian bibir mereka saling melumat menyalurkan rasa bahagia. Kebahagiaan dan gairah Hanin dan Satria pun berlanjut di villa dekat pantai, pergulatan panas menghabiskan malam diiringi deburan ombak. Flashback off Hanin memukul kemudi mobilnya menyalurkan amarahnya. Kenangan masa lalu bersama Satria, membuat Hanin tak rela jika Satria akhirnya harus menikah dengan Handa. Hanin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia berharap masih mampu untuk menggagalkan pernikahan Handa dan Satria, seperti yang diharapkan Satria.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua