Kesepakatan telah tercapai, Satria dan kedua orang tuanya pun berpamitan untuk undur diri dari rumah Gunadi. Syarat yang diajukan Gunawan memang tidaklah memberatkan secara materi, tetapi komitmen pernikahan dengan orang yang baru ditemui bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi saat di dalam hati masih terukir nama wanita lain. Sebagai lelaki normal Satria tidak memungkiri dia pun memiliki rasa ketertarikan pada Handa, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Apakah rasa itu bisa diartikan cinta? Ataukah hanya ketertarikan fisik saja? Itulah yang sampai saat ini Satria belum bisa meyakininya. Jika berbicara tentang fisik, tentulah Hanin jauh lebih menarik dari Handa. Hanin memiliki lekuk tubuh yang hampir sempurna dan sangat seksi, serta memiliki daya tarik seksual yang tinggi . itulah sebabnya Satria begitu tergila-gila dengan gadis yang menjadi sekretarisnya itu sebelum akhirnya mereka memutuskan akan menikah. Sedangkan Handa, hampir sama sekali tidak ada yang menarik. Tubuh kecilnya bukan karena dia langsing, tetapi lebih kepada kurus dan mungkin bisa dibilang mendekati kurang gizi. Tetapi tatapan mata Handa seolah selalu mengganggu pikirannya, tatapan mata yang tak mampu dia artikan, yang justru membuatnya ingin bersama Handa. Lisa masih tampak kesal, dia terus menggerutu saat memasuki mobil. Harris terus berusaha menenangkan wanita yang telah puluhan tahun menemaninya dan memberikan seorang putra itu. Lisa menjatuhkan bobot tubuhnya dengan kasar di seat depan. Harris segera mengikutinya dengan duduk di belakang kemudi. "Dia bilang anak kita yang ngebet kawin, padahal kalau melihat Handa, anak itu pun sama," Garut Lisa. "Mengapa papa nggak bantu Satria menghadapi si tua bangka tadi?" sambung Lisa dengan amarah yang belum mereda. "Melihat Pak Gunawan memperjuangkan Handa, membuat papa teringat dengan Pak Prayoga, saat beliau melepas Lisa Anggraini binti Prayoga untuk diperistri Harris Antasena Argawinata. Mungkin jika kita memiliki anak perempuan juga akan melakukan hal yang sama." "Beda, bapak lebih elegan." Lisa tidak terima ayahnya disamakan dengan Gunawan. "Iya, elegan maksanya," jawab Harris sekenanya. "Bapak nggak maksa," ketus Lisa menjawab, sepertinya dia benar-benar marah pada suaminya itu. "Menantang, begitulah cara menekan anak muda, menyentil harga diri dan egonya." Memori pasangan paruh baya itu berkelana ke masa muda, saat Harris masih KKN dan dia menggoda seorang kembang desa anak petani biasa, dialah Lisa Anggraini putri Pak Prayoga. Sang ayah tak ingin Lisa dipermainkan oleh Harris. Saat anak gadisnya diajak jalan-jalan dan pulang malam, Prayoga pun memberi pilihan pada Harris, memilih untuk segera menikahi Lisa saat itu juga, atau meninggalkan Lisa selamanya. Prayoga tidak ingin putrinya hanya diberi harapan palsu dan dipermainkan hatinya. Harris yang kala itu masih muda pun merasa tertantang dan bersedia menikahi Lisa meskipun saat itu dia sudah memiliki seorang kekasih. "Kau tahu mengapa aku memberi nama Satria pada anak kita?" "Karena dia cowok," jawab Lisa dengan nada ketus hingga membuat Harris terlihat jengah. Tampaknya amarah Lisa belum juga reda. "Sebuah kesombongan, karena aku merasa telah bersikap satria dengan menikahimu." "Lalu mengapa tak kau beri nama anakmu yang satu lagi dengan nama selingkuh, agar mengingatkanmu pada sikap burukmu yang satu itu," ucap Lisa sambil memalingkan wajahnya, jemari lembutnya segera mengusap air mata yang menetes. Harris meraih bahu Lisa hingga mereka berhadapan dan saling bertukar pandang, "Maafkan aku! Aku tahu aku salah, tapi bukankah itu hanyalah masa lalu?" Harris meraih dagu istrinya saat Lisa hendak memalingkan wajahnya lagi. "Kau membuatku ingin goyang ngebor sambil menyanyikan lagu Masa Lalu," jawab Lisa sambil berusaha melepaskan tangan Harris dari dagunya. "Baik, pilih di rumah apa di hotel?" Sahut Harris dengan menyunggingkan senyum menggoda. "Ingat umur! Sudah tua, sebentar lagi anakmu sudah mau nikah." Harris seolah tidak mempedulikan ucapan istrinya tersebut, justru dia menyambutnya dengan menyatukan bibir mereka tanpa mempedulikan sekitarnya. Lisa berusaha melepaskan diri saat dia melihat sekelebat bayangan Satria yang berjalan menuju pintu rumah Gunadi. "Apa lagi yang diinginkan anakmu itu?" Setelah terlepas dari suaminya Lisa segera keluar dari mobil dan menyusul Satria. Harris mengalihkan pandangan keluar menyaksikan Satria, putranya itu kini menghampiri Handa dan keluarganya yang masih berdiri di depan pintu untuk melepas kepergian mereka. "Sepertinya dia benar-benar ngebet kawin," gumam Harris, lalu dia bergegas menyusul anak dan istrinya. Bukan hanya Handa, tetapi kedua orang tuanya serta Gunawan pun dipenuhi pertanyaan, maksud Satria kembali menghampiri mereka. Mungkin Satria merasa keberatan untuk menikahi Handa secara resmi, itu yang kini mengganggu benak Handa dan keluarganya. "Maaf." Satu kata yang terlontar dari mulut Satria langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh empat orang yang berdiri di depannya. "Kami akan segera menikah tetapi ada banyak keperluan yang belum diurus," sambung Satria dengan tegas, dia harus bisa menunjukkan kesungguhannya pada Handa dan keluarganya. "Apa lagi yang mau diurus? Katanya semua keperluan untuk pernikahanmu sudah siap," timpal Gunawan, seakan berat untuk melepaskan Handa keluar bersama calon suaminya. "Ada beberapa hal yang sudah disiapkan Hanin tetapi tidak bisa digunakan oleh Handa, gaun dan cincin pernikahan misalnya." Handa terdiam mendengar penjelasan dari Satria, Handa teringat dengan bentuk tubuh seksi dan wajah cantik sang kakak. Ada rasa tak percaya diri menyusup dalam benak Handa, hingga menimbulkan banyak pertanyaan. Mampukah dia mempertahankan pernikahannya kelak? Mampukah dirinya menggantikan posisi Hanin sepenuhnya di hati Satria, atau dia hanyalah mempelai pengganti yang akan dibuang setelah perayaan usai? "Harus hari ini?" tanya Handa, dia tampak tidak siap untuk pergi bersama Satria apalagi jika mereka harus pergi berdua saja. "Ya, sepertinya memang harus secepatnya, karena sepertinya pihak bridal harus lembur untuk membuatkan gaun untuk Handa," timpal Lisa yang sudah berdiri di belakang Satria. "Sebaiknya kau segera bersiap-siap, agar semua urusan cepat selesai," sambung Lisa dengan tegas seolah tak ingin lagi dibantah. Handa menatap Gunawan, lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala memberi tanda jika dirinya mengijinkan Handa keluar bersama calon suaminya. "Baik, Budhe." Handa bergegas menuju kamarnya untuk mengambil beberapa barang yang mungkin akan dia perlukan selama keluar rumah. Tak lama kemudian Handa sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa tas ranselnya. "Hanya seperti ini?" Lisa terkejut dengan penampilan Handa yang sama sekali tidak berubah. Dia mengira Handa akan mempercantik dirinya terlebih dahulu sebelum keluar bersama Satria. "Ya Budhe, kalau saya dandan dulu nanti kelamaan nunggunya." Sebuah alasan yang masuk akal dan diyakini Handa bisa diterima oleh Satria dan kedua orang tuanya. Meskipun alasan yang sebenarnya adalah karena Handa memang tidak membawa baju lebih, hanya itu baju yang kering dan layak pakai, sisanya masih basah karena baru dicuci pagi tadi. Selain itu, Handa juga tidak bisa berdandan. Entah apa yang ada dalam pikiran Satria saat ini, penampilan Handa yang apa adanya justru terlihat sangat menarik di matanya. Rambut dikucir ekor kuda, dengan atasan kaos polos simple warna hitam dan celana chino berwarna khaki dilengkapi sepatu sneaker. Dengan penampilan apa adanya Handa tetap terlihat elegan karena karakternya yang kuat. Tetapi berbeda dengan Lisa, pikirannya berkelana jauh pada acara-acara perusahaan atau pertemuan-pertemuan penting lainnya. Dan jika Handa tetap berpenampilan seperti saat ini bisa menjatuhkan harga diri keluarga Argawinata. "Jangan terlalu memikirkan penampilan calon menantumu itu!" bisik Harris, seolah tahu apa yang sedang mengganggu pikiran istrinya. "Dulu waktu pertama kali Mama memasuki rumah Keluarga Argawinata, Mama lebih ndeso dari Handa," sambung Harris, sambil tersenyum puas bisa menggoda istrinya. Harris harus menerima konsekuensi dari kejahilannya tersebut, cubitan kecil di pinggangnya membuatnya merasakan nyeri, yang membuatnya matanya sampai membelalak lebar. "Kami pergi dulu," pamit Satria yang diikuti oleh Handa beserta Harris dan Lisa. Satria membukakan pintu molil untuk Handa. Tangan Handa hendak mengapai pintu mobil tetapi Satria lebih dahulu membukakan untuknya. Handa yang merasa diperlakukan istimewa menjadi salah tingkah. "Terima kasih." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya, lalu dia segera duduk di seat depan. Tak lama kemudian Satria sudah memasuki mobil. Pandangannya tertuju pada tubuh Handa. Dia menghembuskan nafas kasar, lalu mendekatkan dirinya pada Handa. Handa mengerutkan dahinya saat tatapan matanya bertemu dengan sorot mata tajam Satria. "M mash!" Handa gugup dan merasa tidak nyaman karena jarak antara dirinya dan Satria begitu dekat. "Biasakan gunakan sabuk pengaman saat berkendara." Ucap Satria sambil memasangkan sabuk pengaman pada Handa. Satria tersenyum puas karena merasa telah berhasil menjahili Handa. "Saya biasanya ngangkot, Mas." Datar Handa berucap menanggapi Satria. "Dan di angkot nggak ada sabuk pengamannya," sambung Handa. "O ya?" Satria tidak percaya pada apa yang baru saja Handa sampaikan. Handa tidak menjawab, mereka terdiam dan saling bertukar pandang sejenak dalam jarak yang begitu dekat. Bukan hanya Handa, tetapi Satria pun merasakan bila saat ini jantungnya sedang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan mereka berdua sama-sama berusaha untuk menutupinya. "Urusan kita bagaimana?" tanya Handa saat Satria mulai mendekatkan wajahnya, entah Handa yang terlalu percaya diri dengan menganggap Satria akan menciumnya. Atau memang dia sudah tepat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki yang berada di depannya. "Ya, kita berangkat sekarang." Satria segera mengatur posisinya agar nyaman untuk mengemudikan mobilnya. Setelah menyalakan mesin mobil, Satria membunyikan klakson sebagai tanda berpamitan, lalu mobil mulai bergerak meninggalkan rumah Gunadi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (365)
Nia Anjani
Kapan update bab barunya kak?...
Penasan bgt lanjutannya....
Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....
04/05/2022
0kalau lihat cerita depannya sih bagus ini
15/08
0ini bagus sekali
06/08
0Lihat Semua