logo text

Bab 12 Perjudian Handa dan Satria

Di kantornya, Satria berdiri menatap keluar jendela. Tatapan mata yang tampak sangat lelah penuh kekecewaan dan amarah. Saat segala yang dia miliki menjadi tak berguna karena tak mampu untuk membeli kebahagiaan. Perempuan yang dia cintai dan telah bersedia untuk bersatu dalam ikatan janji suci pernikahan memilih untuk meninggalkanya di saat-saat terakhir. Sedangkan seorang gadis biasa pun tak mudah ia dapatkan untuk menjadi pengganti, meskipun sudah diancam dan dia telah menunjukkan kekayaan yang dia miliki sebagai iming-iming.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Satria. Satria melihat ke layar ponselnya, terpampang nama kontak "Handa".
"Halo!"
"...."
"Baiklah, aku segera ke sana."
Satria menuju ke meja kerjanya, mematikan laptopnya dan merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Lalu ia bergegas pergi meninggalkan ruangannya.
***
Mobil Satria memasuki pekarangan rumah Gunadi, tak lama kemudian Satria turun dari mobilnya. Satria terkejut saat melihat Gunawan yang berada di teras rumah seakan sedang menunggunya. Dengan langkah perlahan, tampak keraguan tetapi Satria tetap menghampiri Gunawan, lelaki paruh baya yang baru pertama kali dilihatnya. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menghinggapi Satria, seperti sebuah firasat buruk bahwa orang yang berada di depannya adalah batu sandungan yang akan mempersulit langkahnya.
"Pantes," gumam Gunawan sejak pertama kali melihat sosok Satria.
Gunawan memindai Satria sejak dia turun dari mobilnya. Bahkan mobil mewah yang dikendarai Satria, baru pertama kali Gunawan melihatnya. Menurut pengamatan Gunawan, selisih umur antara Handa dan Satria cukup jauh, tetapi ketampanan dan kemapanan yang terlihat sangat menggiurkan, hingga membuat Handa bersedia menggantikan posisi Hanin untuk menjadi istri Satria.
Mereka saling menyapa dan berjabat tangan untuk memperkenalkan diri. Gunawan tampak tenang dengan tatapan mata tajam, sedangkan Satria tampak canggung dan ada rasa terintimidasi. Mereka terlibat perbincangan, Satria mengungkapkan maksud kedatangannya pada Gunawan. Gunawan pura-pura tidak tahu, meskipun ia sudah tahu dari Handa. Secara beriringan mereka mamasuki rumah, lalu mereka duduk di sofa, dengan posisi berhadapan.
"Jujur saja, sebenarnya saya yang meminta Handa mengumpulkan dua keluarga untuk membicarakan sebuah rencana pernikahan darurat."
"Berarti Handa bersedia menikah dengan saya, menggantikan Hanin?"
"Dengan syarat, karena saya tidak akan melepas Handa begitu saja."
"Uang? Berapa yang Anda minta?"
Gunawan mendengkus kasar, merasa diremehkan oleh orang pria muda di depannya. Gunawan sadar dirinya memang bukan orang yang kaya, tetapi dia tidak akan menjual harga dirinya, itu pula yang dia ajarkan pada anak-anaknya dan juga Handa. Dan apa yang dia lakukan sekarang untuk menjaga harga diri keluarganya terutama Handa agar tidak diinjak-injak.
"Han! Handa!" Gunawan berteriak memanggil Handa. Tak lama kemudian Handa muncul dengan tergesa-gesa.
"Ya Dhe." Handa mengalihkan pandangan ke arah Satria, "Mas Satria."
"Ada tamu buatkan minum, es cendol apa es dawet biar seger kepalanya, karena akan ada perbincangan yang panjang dan alot."
"Nggak ada, dhe."
"Ya sudah, seikhlasnya saja, air putih atau teh tawar, sebagai bukti keikhlasanmu menjaga dia dari diabetes, biar bisa berdiri sampai tua."
"Capek Dhe," jawab sekenanya sambil berlalu meninggalkan Satria dan Gunawan. Sedangkan Satria menggelengkan kepala, dia tampak jengah menghadapai tingkah konyol Gunawan.
"Kita kembali ke masalah yang tadi," ucap Gunawan dengan nada tegas dan tampak sangan serius. "Jika kau anggap syarat yang akan saya ajukan adalah harta, kamu benar." Gunawan dan Satria saling bertukar pandang dengan sorot mata yang tajam. "Tapi itu bukan yang utama."
"Baik, intinya Handa bersedia untuk menikah dengan saya. Untuk syarat yang bapak ajukan sebisa mungkin akan saya penuhi. Karena Handa bersedia, maka kami harus segera mengurus pernikahan kami."
"Nggak usah buru-buru. Belum tentu ..."
"Maaf pak, masih banyak yang harus kami urus, sedangkan waktu terus berjalan." Satria memberanikan diri untuk memotong pembicaraan Gunawan.
Gunawan menggelengkan kepala menunjukan rasa tidak sukanya pada apa yang dilakukan Satria.
"Sangat tidak sopan, memotong pembicaraan orang tua. Ya sudah waktunya suruh jalan duluan, nanti kita nyusul," ucap Gunawan tegas sambil menatap tajam Satria.
"Maaf, saya tidak bermaksud demikian." Satria semakin salah tingkah menghadapi Gunawan, sosok yang baru pertama kali ia temui. Sosok dengan karakter yang sangat keras dan sangat menjengkelkan baginya. Satria harus menghadapi Gunawan seorang diri tanpa mengetahui latar belakang kehidupan Gunawan.
"Saya ini pakdhe-nya Handa, kakak dari ayahnya Handa. Handa itu saya rawat dari kecil, jadi sudah seperti anak saya sendiri. Kamu bilang akan menikahi Handa, jadi kalau kamu menghadapi saya, seperti menghadapi ayahnya Handa, aku ini calon mertuamu juga."
Satria merasa lelaki yang di depannya lebih posesif terhadap Handa dari pada Gunadi ayah Handa sendiri. Di mata Satria, Gunadi terlihat sering diam dan terkesan pasrah dengan apa yang akan menimpa Handa. Sedangkan Gunawan terlihat lebih memperjuangkan nasib Handa. Seperti apa yang sudah Gunawan katakan, tampaknya akan ada perbincangan yang panjang dan cukup alot antara Satria dan Gunawan.
"Maaf, mungkin karena pernikahan yang hanya tinggal tiga hari, dan masih banyak urusan yang belum kami selesaikan."
"Saya tahu yang akan menikah itu kalian berdua, tapi apa keluarga tidak dilibatkan?" Gunawan dan Satria saling bertukar pandang. "Sebagai orang tua Handa, saya tidak akan melepasnya begitu saja. Saya ingin tahu kesungguhanmu menikahi Handa, dan apakah kedua orang tuamu juga bisa menerima Handa sebagai menantunya. Itu penting bagi saya."
Handa datang dengan membawa dua cangkir kopi, dan Marini tampak berjalan mengikuti Handa. Marini terkejut melihat kebersamaan Satria dengan Gunawan. Marini berdiri di samping Handa yang telah selesai menyajikan minuman, seakan Marini ingin mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Satria dan Gunawan.
"Apa yang kalian lakukan di situ?" Gunawan bertanya dengan nada ketus dan tatapan mata yang tajam. "Ini urusan laki-laki, masuk!"
Marini bergegas memasuki rumah, tersirat kekecewaan di wajahnya. Handa pun bergegas mengikuti Marini, dan sebelumnya dia saling mencuri pandang dengan Satria. Setelah memastikan semua aman dan tak ada yang menguping Gunawan memulai pembicaraannya dengan Satria.
"Apakah pernikahanmu tidak penting bagi orang tuamu?"
"Penting, sangat penting, karena saya putra tunggal. Jika yang Anda maksuk keberadaan mereka, saat ini mereka sedang dalam perjalanan."
"Baik." Gunawan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa tujuanmu menikahi Handa? Apakah kau benar-benar menginginkan Handa menjadi istrimu?"
Sebuah pertanyaan yang sulit bagi Satria, meskipun sejak pertemuan pertamanya dengan Handa, gadis itu telah mampu membuat dadanya berdesir dan mengacaukan pikirannya. Tetapi untuk menikahinya Satria sebenarnya belum terlalu yakin.
"Persiapan pernikahan saya dengan Hanin hampir seratus persen, hanya tinggal pelaksanaan akad dan resepsi, undangan pun sudah tersebar." Jawab Satria, dia tidak berani jujur dengan perasaannya saat ini.
"Kog kayaknya pertanyaan dan jawaban nggak nyambung ya Mas."
Satria lagi-lagi harus menarik nafas dalam-dalam berusaha menjaga emosinya. "Maksud saya begini, dengan persiapan sedemikian rupa dan pernikahan harus gagal terlaksana maka harga diri keluarga kami yang menjadi taruhannya."
"Kamu memikirkan harga diri karena perayaan yang gagal, tapi kamu tidak memikirkan bagaimana jika pernikahannya yang gagal." Gunawan menjeda kalimatnya, dipandanginya wajah Satria yang tampak bingung dengan ucapan Gunawan. "Pernikahan bukan hanya perayaan, tapi pernikahan adalah sebuah pintu menuju kehidupan yang baru, RUMAH TANGGA, hubungan suami istri, hubungan dua keluarga, anak-anak yang akan lahir dan tumbuh di dalamnya, bayangkan jika ini yang gagal! Berapa banyak lagi yang kau korbankan?"
"Maaf, apapun yang terjadi pernikahan ini harus terlaksana." Satria sudah tak tahu lagi jawaban apa yang akan dia berikan pada Gunawan. Pikirannya semakin tidak karuan.
"Apa karena takut ngakik?"
Satria mengernyitkan dahi, dia semakin bingung dengan pertanyaan Gunawan, "Apa maksudnya?"
"Ya...mungkin Nak Satria takut kalau hasratnya tidak tersalurkan nanti itunya jadi batu akik."
Satria mendengus kasar mendengar ucapan Gunawan yang sangat mengada-ada, lelucon Gunawan justru membuatnya menjadi semakin kesal.
"Bagi Anda pernikahan bukan hanya perayaan, dan bagi saya pernikahan bukan hanya seks."
"Pernikahan tanpa perayaan, asal ada ijab qobul itu sah. Tapi pernikahan tanpa seks sudah pasti hambar."
"Obrolan kita sepertinya semakin nglantur saja, tanpa arah yang jelas."
"Saya tahu apa yang sedang saya bicarakan." Gunawan menatap tajam Satria yang tampak mulai jengah. "Jika Handa bukanlah istri yang kau inginkan, maka dalam pernikahan yang kalian jalani saya harap jangan pernah campur dengan Handa."
"Apa maksud Anda? Ingin mencampuri urusan ranjang orang lain? Jika Handa sudah menjadi istri saya, saya berhak melakukan apapun pada Handa."
"Jika kalian campur dan menghasilkan anak, sedangkan kalian tidak saling menginginkan siapa yang akan menjadi korban?" Satria hanya terdiam mendengarkan Gunawan. "Handa akan bisa bertahan karena dia terbiasa dengan kehidupan yang keras, tapi bagaimana dengan anak-anaknya yang merupakan anak-anakmu juga, apa kau tega mengorbankan mereka?" Gunawan menatap tajam Satria, dan beberapa saat Satria membalas tatapan itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Andaikan pernikahan yang kau rencanakan dengan Handa ini adalah perjudian, kau adalah orang yang bertaruh paling besar, dan kemungkinanmu untuk menang sangat kecil, bukan karena Handa atau orang lain, tapi karena dirimu sendiri." Gunawan menjeda kalimatnya, "Kau masih ingin melanjutkan pernikahan ini?"
Satria menarik nafas dalam-dalam dan memberanikan diri menatap Gunawan. "Ya, saya tidak akan mundur, saya siap dengan segala risikonya. Satria bukan hanya nama bagi saya, tapi sikap yang harus dikedepankan dalam setiap tindakan."
Gunawan mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baiklah itu sudah menjadi pilihanmu. Hanya satu syarat saja, saya harap kau bisa memenuhinya" Gunawan dan Satria saling berpandangan.
Suara deru mesin mobil mengalihkan perhatian Satria dan Gunawan, ternyata dua mobil memasuki pekarangan rumah Gunadi. Ternyata kedatangan kedua orang tua Satria bersamaan dengan Gunadi.
"Apa persyaratan yang harus saya penuhi untuk bisa menikahi Handa?"
"Syarat apa?" Mendengarkan ucapan dari putranya, Lisa yang baru saja memasuki rumah Gunadi tampak tak mampu meredam emosi. Bagi Lisa pihaknya sudah dirugikan dengan tindakan Hanin yang pergi secara tiba-tiba, tetapi mengapa masih harus dibebani syarat untuk bisa tetap melangsungkan pernikahan putranya.

Komentar Buku (365)

  • avatar
    Nia Anjani

    Kapan update bab barunya kak?... Penasan bgt lanjutannya....

    04/05/2022

      0
  • avatar
    SilfianaElita

    kalau lihat cerita depannya sih bagus ini

    15/08

      0
  • avatar
    Arifuddin

    ini bagus sekali

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru