logo text

Bab 64 Incident

“Aku nggak aneh-aneh kok,” jawab Luke gugup sambil menelan ludah. “Aku hanya berjanji padanya untuk membawamu padanya,” lanjutnya melirik Axel takut-takut.
Axel berjengit kaget mendengar jawabannya. Tubuhnya mendadak tegang. “APA KAU BILANG?” teriaknya murka. Otot-otot wajahnya mengeras dan memperlihatkan wajah merah penuh amarah. “Aku udah bilang, aku nggak mau bertemu dengannya lagi!” lanjutnya membentak penuh amarah yang menggelegar.
“Maaf, Xel, aku khilaf,” cicit Luke pelan, dia takut melihat perubahan wajah sahabatnya. Ini untuk kedua kalinya dia melihat wajah Axel yang penuh dengan amarah. “Aku janji akan menyelesaikan masalah ini dengan Nola, setelah itu aku akan melepaskannya,” lanjutnya menjanjikan.
“Selesaikan dengan cepat dan tuntas, aku nggak mau kamu menyebut namanya lagi di depanku!” terang Axel tegas dan keluar dari ruang tamu menuju ke ruang tengah. Dia melihat Caleb bersama Ciara juga Mami dan putranya dalam gendongan Ciara.
“Ada apa, Xel?” tanya Mami menyadari betapa menyeramkannya wajah putra sulungnya sekarang. Dan menyusulnya dengan cemas.
Axel tidak menjawab pertanyaan Mami dan berlalu begitu saja. Ciara terpaku syok melihat wajah dingin itu serasa membekukan tubuhnya. Caleb juga tercengang melihatnya. Selama ini dia tidak pernah melihat wajah kakaknya semenyeramkan itu. Lalu mengalihkan tatapannya ke wajah Ciara yang membeku di tempatnya.
“Cia …” panggil Caleb sadar kalau Ciara terlalu syok, tubuhnya menegang dengan mata melebar dan alis terangkat. “Jangan takut, ada aku ….” lanjutnya pelan.
Ciara melirik Caleb sambil memutar bola matanya malas. “Aku bukannya takut tapi kaget, hanya itu saja,” tegurnya.
Caleb pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan Ciara. Dia mendengus tidak senang, melipat lengannya sambil menatap Ciara dengan mata memicing skeptis.
“Kamu yakin nggak takut melihat perubahan kakakku?” tanya Caleb dengan pandangan meremehkannya sambil menyeringai.
Ciara menggeplak kepala bagian belakang Caleb keras dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya masih menggendong Elfa.
“Bodoh,” umpat Ciara memakinya dan kembali pandangannya dia layangkan ke wajah sang bayi yang meminta perhatiannya. “Elfa anak yang pintar, jangan meniru apa yang dilakukan Uncle-mu,” bisiknya pelan.
“Hei, aku bukan orang bodoh,” hardik Caleb tidak terima mendengar apa yang dikatakan Ciara pada keponakannya. Ciara mengabaikannya dan menaiki tangga menuju ke lantai dua, di mana kamarnya berada.
Caleb melangkah mendekati tangga dengan dada berdebar-debar aneh. ‘Apakah sekarang adalah saat yang tepat? Tapi gimana dengan Mami dan Kak Axel? Mereka berdua masih di rumah?’ batinnya bertanya-tanya sambil melamun.
“Caleb---” panggil Mami berdiri di depan Caleb dan dia tidak menyadari kedatangan Mami. Dia mengerjap kaget dan menatap Mami dengan wajah pias. “---kamu kenapa?” lanjut Mami menatap putra bungsunya dengan alis mengernyit bingung.
Mata Caleb berkedip-kedip mendengar pertanyaan tersebut, dia tidak siap dengan pertanyaan Mami barusan makanya dia diam saja.
“Caleb?” panggil Mami lagi karena belum mendapat penjelasan. “Apa yang kamu rencanakan?”
Mendadak mata Caleb kembali melebar kaget mendengarnya. “Hah!” serunya spontan dan lagi-lagi dia kembali melongo. “Ng—nggak k—kok, Mi, nggak ngapa-ngapain,” jawabnya gugup sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kencang hingga kepalanya pusing. “Oh ya, Mi, kak Axel mana?” lanjutnya bertanya ingin tahu dan mengalihkan perhatian Mami.
“Udah berangkat ke kantor,” jawab Mami acuh tak acuh dan meneruskan langkahnya untuk menaiki tangga tersebut. Caleb berdiri menunggu selama lima detik ketika melihat Mami turun lagi ke lantai bawah membuatnya heran.
“Ada apa, Mi? kok balik lagi?” tanya Caleb ingin tahu.
“Mami ada pertemuan arisan hari ini,” jawab Mami tanpa diduga Caleb.
Caleb melongo mendengar jawaban tersebut. Dan sedetik kemudian mulutnya melengkung membentuk senyuman membuatnya senang. Lalu mencari Mami dan menunggunya meninggalkan rumah tersebut.
Caleb tersenyum puas melihat mobil hitam yang dikendarai Mami menghilang di ujung kompleks perumahan tersebut. Caleb berdiri lama di ruang tamu dengan kepala penuh dengan rencana yang sudah disusunnya sejak kemarin.
Menatap tangga yang berdiri menjulang di depannya, Caleb menelan ludah gugup saat menaiki tangga dan mulai melangkah satu persatu dengan langkah yang tidak menimbulkan bunyi yang keras.
Menghentikan langkahnya ketika sudah berdiri di depan kamar yang diinginkannya. Berdiri diam sejenak sebelum akhirnya membuka pintu tersebut. Tapi pintu itu terkunci dari dalam. Menunggu lagi. Tapi dia tidak mendengar suara dari dalam dan memutuskan untuk menggedornya.
Selama lima detik menggedor pintu menggunakan lengan atasnya, tapi pintu itu tidak juga terbuka. Hingga akhirnya dia menendangnya dengan kencang dan menjbelak terbuka dengan suara daun pintu yang keras menyentuh tembok.
Ciara terkejut melihat Caleb muncul di pintu yang sengaja dia kunci. Dia ketakutan melihat kelakuan Caleb yang tidak seperti biasanya. dia tidak siap melihat perubahannya. Menjauhkan tubuhnya dari kasur yang ditiduri Elfa, Ciara berlari masuk ke kamar mandi tapi Caleb mencegatnya dengan cepat.
“Mau kemana?” tanya Caleb dengan suara yang menyeramkan menurut Ciara.
“Ke ka—kamar ma—mandi,” jawab Ciara terbata-bata dan dia tidak berani menatap wajah Caleb karena wajah itu terlihat ingin menelannya bulat-bulat. Tubuhnya bergetar penuh ketakutan. ‘Tolong aku, Mi,’ batinnya meratapi nasibnya yang sial dan berharap Mami atau siapa pun akan muncul untuk menolongnya.
“Ayo, ikut aku ke kamar sebentar,” pinta Caleb menarik tangan Ciara untuk keluar dari kamar tersebut. Ciara menepis tangan Caleb yang menggenggam lengan kirinya. Dia tidak suka disentuh oleh pria ini.
“Mau apa?” tanya Ciara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata hampir menangis. Caleb tidak peduli dengan reaksi gadis itu dan terus menarik lengannya dengan kasar. Baru sampai di lorong yang menuju ke kamar Caleb, Ciara menendang lutut Caleb dengan kencang dan berlari kembali ke kamarnya setelah tangannya terlepas dari pegangan Caleb.
Ciara mencari ponselnya dengan panik sambil memperhatikan Elfa, wajahnya semakin pucat dan tubuhnya bergetar ketakutan hingga mencari ponselnya malah jadi lama. Pandangannya sering tertuju ke arah pintu karena takut, lututnya semakin lemah dan tidak bisa menggerakkannya ketika melihat Caleb muncul dengan wajah penuh amarah.
Caleb menyandarkan bahunya di kusen pintu yang rusak sambil menyeringai melihat tubuh Ciara bergetar dan merangkak menuju ke bawah jendela yang terbuka, bersembunyi di samping nakas, didekat jendela yang terbuka lebar. Menyeret langkahnya menuju jendela, lututnya masih sakit akibat tendangan Ciara sebelumnya. Kemudian berjongkok dan menjambak rambut Ciara dengan kasar.
“Bukan seperti ini yang kuharapkan, tapi kau sendiri yang memintanya,” kata Caleb mendongakkan wajah Ciara dengan kasar membuat gadisnya meringis kesakitan. Caleb menyeringai melihat ekspresinya. “Percuma, kamu nggak bisa lari dari sini,” kata Caleb menyeringai semakin lebar. “Semua orang nggak ada di rumah sekarang,” lanjutnya memberitahu dan mata Ciara berseliweran memperhatikan keadaan sekitarnya dengan waspada. “Jadi, percuma saja kamu menolakku, kau tetap akan menjadi milikku,” imbuhnya menaikkan alisnya dan melangkah pelan mendekati Ciara yang menyembulkan wajah pucatnya.
“Ta—pi a—ku ng—gak per—nah---”
***
Apa yang akan dilakukan Caleb?
Haruskah Mami atau Papi yang datang menolongnya di saat terakhir?

Komentar Buku (35)

  • avatar
    Neng Anggi

    bgs

    20/04/2024

      0
  • avatar
    Di Na

    menarikkk

    19/03/2023

      0
  • avatar
    Nur Nabila

    nice

    20/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru