logo text

Fitri di jadikan Babu

"Satu lagi tugasmu, Herman! Bawa wanita ini dan kurung di gudang belakang!" perintah Shinta, terlihat wajahnya yang puas saat melihatku ketakutan.

"Selama belum ada yang boking, suruh dia mengerjakan semua pekerjaan rumah ini, dari jam 3 pagi hingga jam sepuluh malam tanpa henti. Dia hanya boleh istirahat saat di kamar mandi!" seru Shinta membuat mataku mendelik, tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar. Tenagaku benar-benar di peras dan di jadikan Babu di rumah ini.
Mas Herman mendorong tubuhku masuk kedalam gudang yang gelap. Kemudian menguncinya dari luar. Ku coba berdiri dan meraba-raba tembok untuk mencari saklar untuk menghidupkan penerangan.
Klik. Alhamdulillah akhirnya lampu menyala. Ku pandang sekeliling ruangan yang berukuran sekitar empat kali lima. meter ini, di penuhi dengan tumpukan barang yang mungkin tak lagi di gunakan.
"Ku ambil, sapu di pojok ruangan dan mulai membersihkan gudang ini. Berkali-kali Aku bersin, karena debu yang menumpuk. Mungkin sudah berbulan-bulan ruangan ini tak di bersihkan. Kutata tumpukan kardus, hingga terlihat lebih rapi. Kursi bekas yang sedikit rusak dan luntur warnanya, ku atur agar tempat sempit ini bisa terlihat lebih lega.
Ada karpet plastik yang ku gelar di pojok ruangan untukku merebahkan badan sejenak. Mata ini tertuju pada kasur kapuk usang di bawah lemari baju yang sudah terlepas pintunya. Segera ku tarik dan ku pasang di atas karpet. Alhamdulillah, paling tidak bisa untuk alas mengurangi rasa dingin lantai keramik gudang. Gumamku dalam hati.
Mata menerawang, buliran bening mulai mengalir dari kedua netra ini. Pasti Mas Fitra kebingungan mencariku, yang tak kunjung kembali dari mini market. Galuh pun pasti menanyakan keberadaan ku, Dia sudah mulai terbiasa jika tidur selalu menunggu ku untuk membacakan buku cerita.
"Maafkan Fitri, Mas. Selalu menjadi beban pikiran untuk Mas Fitra. Kali ini pun, Aku kembali membuat Mas Fitra kerepotan karena masalahku." Ucapku lirih sambil menyusut air mata yang sedari tadi mengalir.
Perutku sudah mulai berbunyi, karena sepulang kerja belum terisi makanan apapun. Kucoba memejamkan mata, agar saat bangun nanti tubuh ini kembali segar. Aku harus bersiap menerima semua pekerjaan yang esok akan di berikan padaku. Terbayang dari jam tiga hingga jam sepuluh malam Aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah seluas ini. Terucap doa dalam hati, semoga Allah memberi kekuatan padaku.
Entah berapa lama, Aku terlelap. Berjingkat kaget saat terdengar ketukan kasar pada pintu.
BRAK BRAK BRAK.
Kukucek mata dan mengumpulkan kesadaran ku. Baru ku ingat kalau Mas Herman sudah menjual ku pada Shinta dan mengurungku di gudang ini.
BRAK BRAK BRAK.
Kembali ketukan kasar pada pintu terdengar dengan di iringi umpatan suara seseorang dari luar.
"Bre**s*k, pakai di slot dari dalam pintunya!" Umpatan masih terdengar, sedangkan Aku hanya diam termangu di dalam gudang tak berani membuka pintu.
"Buka pintunya woi! Didalam pasti dingin, kan? Mari ku bantu hangatkan!" Kembali terdengar suara yang membuatku bergidik ngeri. Ku pandang sekeliling mencari potongan kayu atau apalah yang bisa ku gunakan untuk melindungi diri jika keselamatan ku terancam.
Ada patahan kaki kursi yang tergeletak di bawah lemari. Segera ku ambil dan letakkan di samping alas tempatku tidur. Kembali ku rebahkan badan, lalu memejamkan mata. Tak lagi ku dengar suara di balik pintu. Paling tidak malam ini Aku aman di gudang ini. Terkurung di gudang ini seolah terisolir dari dunia luar. Bahkan suara adzan pun tak ku dengar.
"Sebenarnya di mana Aku saat ini?" ucapku lirih, bahkan untuk melaksanakan kewajiban ku sebagai hamba saja, sangat sulit. Kalau Aku keluar, kehormatan ku terancam, tapi jika di terus di dalam gudang ini, Aku tak bisa sholat.
"Lebih baik, Aku keluar dan mencari kamar pembantu di sini. Semoga Dia bisa membantuku agar bisa melaksanakan ibadah." Ucapku lirih, seraya bangkit dan menuju pintu gudang. Bersyukur saat pintu tak di kunci dari luar.
Dengan mengandalkan ingatan saat tadi sore di antar ke gudang oleh Mas Herman, Aku melewati dapur. Benar saja, setibanya di dapur, ku tatap sekeliling dan kamar kecil di ujung dapur. Ku beranikan diri untuk mengetuk pintunya.
Seorang wanita tua berdiri di ambang pintu, saat terbuka.
"Maaf Bu, bisa Saya pinjam mukena. Saya belum sholat dari Maghrib tadi. Sekarang jam berapa ya, Bu? Saya sama sekali tak mendengar adzan selama Saya di kunci dalam gudang." Ucapku sopan, berharap Ibu tua ini membantuku.
"Baru Kali ini, ada pelacur yang sholat!" celetuknya sinis.
"Maaf Bu, Saya bukan pelacur. Saya di jual oleh mantan suami, dan di sekap dalam gudang. Saya yakin Kakak kandung ku Akan berusaha untuk membebaskan Saya dari sini!" Ujarku dengan suara sedikit keras, tak suka dengan caranya menghakimiku.
"Oh, Saya minta maaf Mbak. Biasanya kalau ada pelacur yang pendapatan nya kecil pasti di hukum dan di sekap di gudang." Ujarnya lirih, membuatku manggut-manggut dan tersenyum memaklumi.
"Saya akan bekerja membersihkan rumah ini Bu. Esok hari dari jam tiga pagi hingga jam sepuluh malam tanpa waktu istirahat. Ini harga yang harus Saya bayar, agar tak jual sebagai pelacur." Ucapku lirih, menyesali nasib yang tiada henti mendapat cobaan dari Allah.
"Apa Kamu kuat, Nak? Ohya Kamu tadi mau pinjam mukena ya? Sebentar Ibu ambilkan. Ayo masuk ke kamar Ibu!" ajaknya sambil menarik tanganku masuk ke dalam kamarnya.
"Mbok Sum, Saya biasa di panggil itu oleh orang yang ada di sini. Namamu siapa cah Ayu?" tanyanya sambil membuka lemari dan mengambil mukena juga sajadah untukku.
"Nama Saya Fitri, Mbok." Jawabku sambil menatap jam yang menempel di dinding kamar Mbok Sum.
"Jika sudah malam, selalu kunci pintu gudang. Jangan sekali-kali Kamu buka, karena banyak laki-laki mabuk di luar sana yang keluar masuk rumah ini!" Ujar Mbok Sum yang ku jawab dengan anggukan kepala.
🌿🌿🌿🌿

Komentar Buku (205)

  • avatar
    NgonoPaleng opo

    bagus

    12/04

      0
  • avatar
    zaenal abidin

    bagus

    06/04

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    ceritanya bagus , Fitri kadang naif kadang pinter...

    26/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru