Total : 34Bab 1 Muasal Dera
"Kamu mau tidur dengan saya?" Sontak Bary memutar wajah, mengarahkannya hingga simetris dengan wajah
readmore Bab 2 Perjuangan si Miskin
"Tidak, Dek, tidak! Kakak hanya mau potong tali pusarnya," ucap Rima meyakinkan Bary. "Oh," sahut Bar
readmore Bab 3 Demi Rima
"Makan lagilah, Kak!" seru Bary. "Saya sudah tadi malam. Itu memang sengaja saya bawa pulang untuk K
readmore Bab 4 Lingkaran Kehidupan
Di tempat pembuatan batu bata, Bary hanya singgah menyimpan pikulan beserta jerigen yang masih koson
readmore Bab 5 Sugesti?
Mendengar tangis bayi Rima yang menelusup tajam, Bary menjeda langkah. Lalu, tatkala ia coba menghay
readmore Bab 6 Gamang
Kaerul sudah meninggal? Cukup lama Bary hanya diam, duduk bermenung di samping sumur gali yang berada
readmore Bab 7 Menutupi
"Ndak ada dengar apa-apa, ya?" ulang Rima dengan nada yang sangat terukur. "Tidak tau juga, ya." Seka
readmore Bab 8 Bu Hajjah Maemunah
"Dek!" sapa Rima. "Adek kamu sudah bangun, kasian!" tambah Rima sambil melempar lirik ke arah bayiny
readmore Bab 9 Perih
Bary tidak lagi melihat adanya celah untuk menghindar. Karenanya, meskipun dengan penuh keraguan, pe
readmore Bab 10 Wangi Bunga Melati
Tatkala air mata Rima telah pun ikut tumpah, maka kian remuk-redam pulalah batin Bary. "Maafkan saya,
readmore Bab 11 Rima Diabaikan
Seperti kemarin, pagi ini kembali Bary mendahului Rima dalam menyongsong hari. Serupa kemarin, usai
readmore Bab 12 Tersisih
"Ya, Allah, Kak ... kenapa kita diperlukan seperti ini?" lirih Bary seorang diri sambil menatap jasa
readmore Bab 13 Kepedihan Si Miskin
Puas menjiwai Bary, Risma akhirnya kembali bertanya, "Kamu kenapa, Bary? Kenapa kamu gugup begini? A
readmore Bab 14 Selamat Jalan, Rima
Puas merayu Tuhan, pada akhirnya Bary harus kembali pada ketentuan takdir yang telah pun digariskan
readmore Bab 15 Hamparan Kerinduan
Tanpa adanya Rima, Bary merasa, suasana gubuk mereka saat ini, sudah tidak ubahnya krangkeng tak ber
readmore Bab 16 Solusi?
Empat hari kemudian. "Ya, Allah ... sarapan apa lagi adikku ini?" lirih Bary. Pagi-pagi sekali Bary su
readmore Bab 17 Karena Dia Maha Romantis
"Saya tidak ada niat untuk pisahkan kamu dari anaknya kakakmu ini, Bary," ujar Risma lagi. "Tapi men
readmore Bab 18 Terjebak di Pasar
Bary seperti mengenali pemilik suara ini. Lalu, masih dalam posisi duduk sambil merapikan daun jati,
readmore Bab 19 Bertemu Wanita Dermawan
Terjebak dalam kuncian kaki seseorang, Bary tidak membalas, bahkan tidak berusaha untuk membebaskan
readmore Bab 20 Bertemu Rima
"Siapa, Ma?" terdengar suara seorang lelaki dari arah belakang kios. "Bukan siapa-siapa," jawab wanit
readmore Bab 21 Sungai Laabalano
Cemas, secepat itu juga Bary bangkit lalu membuka langkah. Bugh! "Aao ... !" Bary terlalu panik hingga
readmore Bab 22 Bertarung Melawan Reptilia Raksasa
Bary yang terpental hingga sekian langkah orang dewasa ini, pinggangnya, bekas hantaman sesuatu sesa
readmore Bab 23 Ketulusan Risma
Semakin ke sini, warga semakin berjejalan. Bary mengenali mereka karena sebagian besar adalah warga
readmore Bab 24 Dia Bukan Imam Masjid?
Bary yang diinapkan di bekas kandang ayam ini, mau tidak mau rela gelap-gelapan seorang diri. Namun,
readmore Bab 25 Veronica
Setelah sempat sesaat disergap rasa grogi, perlahan Bary meluruskan wajah. Bayangan Karma yang berad
readmore Bab 26 Lentik Jemari
Air payau adalah air yang berada di seputaran muara. Ianya adalah campuran antara air tawar yang men
readmore Bab 27 Keluarga Vero
Tatapan Zahirah perlahan sayu. Tidak berapa lama, pelupuk matanya malahan mulai menjadi tempat berte
readmore Bab 28 Bairam Chia
"Dia, 'kan ...." "Iya," sambung Vero. "Dia inilah Bary yang Vero ceritakan," tambahnya yang menyangka
readmore Bab 29 Maafkan Dia, Kak
"Kalau si Romi, kamu sudah dengar, bagaimana?" Sekali lagi Risma membuat Bary menggeleng. "Tidak ada,
readmore Bab 30 Hadiah atau Halusinasi?
"Happy birthday to you .... Selamat ulang tahun Karma .... Selamat ulang tahun Bary ..... Selamat ulang
readmore Bab 31 Selamat Jalan Imam Palsu
Sesaat, hening. Pada yang demikian ini, sepasang mata tak kasatmata seperti baru saja melihat kelopa
readmore Bab 32 Putih-Putih Ampas Kelapa
Matahari sudah menjulang tinggi saat Bary tiba di rumah dari mengantar Om Bai. Di lantai dasar, Bary
readmore Bab 33 Untuk Apa Lagi Maaf?
Di musim kemarau panjang seperti saat ini, dalam selayang pandang, tanah ini sudah tidak ubahnya ham
readmore Bab 34 Vero dan Hampa
"Kamu meniduri saya?" Weih! Rambut Bary seperti tiba-tiba saja dijambak dengan keras dari arah belakan
readmore
bagus banget
22/01
0bagus banget
09/01
0bagus untuk di baca
03/01
0seruuu
13/09/2025
0bagus skali ceritanya
10/08/2025
0keren ceritanya
24/06/2025
0bagus
13/06/2025
0bagus
07/06/2025
0bagus banget
04/06/2025
0bguss
22/05/2025
0